Rabu, 17 Juni 2026 | 18:44
COMMUNITY

Daftar Rata-Rata IQ Setiap Negara di Dunia: Bagaimana Posisi Indonesia?

Daftar Rata-Rata IQ Setiap Negara di Dunia: Bagaimana Posisi Indonesia?
Ilustrasi

ASKARA - Rata-rata IQ (Intelligence Quotient) di setiap negara menjadi topik menarik dan kontroversial yang sering dibahas dalam riset psikologi dan sosial.  Salah satu penelitian yang terkenal dilakukan oleh Richard Lynn dan Tatu Vanhanen dalam buku mereka IQ and the Wealth of Nations (2002), Dalam buku tersebut, mereka membahas korelasi antara IQ rata-rata di suatu negara dan pembangunan ekonomi. 

Meskipun ada beberapa kritik terkait metodologi dan interpretasi hasilnya, Riset ini telah mengukur rata-rata IQ di berbagai negara di seluruh dunia. Hasilnya melaporkan rata-rata skor IQ lebih dari 120 negara di dunia. Jepang diketahui menjadi negara dengan IQ tertinggi di dunia.

Berapa rata-rata skor IQ warga Indonesia Berdasarkan penelitian tersebut, rata-rata IQ Indonesia berada di sekitar 87-88. Skor ini jauh lebih rendah dibanding negara tetangga Singapura yang memiliki nilai rata-rata 108. Sementara itu, skor IQ rata-rata Malaysia adalah 92. 

Ini berarti Indonesia berada di bawah rata-rata global yang umumnya dipatok pada angka 100. Angka ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki tingkat kecerdasan rata-rata yang lebih rendah dibandingkan negara-negara maju dengan rata-rata IQ lebih tinggi seperti Singapura atau Jepang.  

Namun, hal ini masih dalam rentang yang wajar menurut standar IQ global. Oleh karena itu, meskipun Indonesia memiliki rata-rata IQ yang sedikit lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara maju, hal ini tidak berarti bahwa orang Indonesia tidak cerdas atau tidak memiliki potensi luar biasa. Indonesia memiliki potensi besar dalam hal kecerdasan kolektif, yang dapat ditingkatkan dengan perbaikan sistem pendidikan, akses yang lebih baik terhadap kesehatan dan gizi, serta pengurangan ketimpangan sosial-ekonomi. 

Selain itu, penting untuk diingat bahwa kecerdasan itu tidak terbatas pada angka tes, dan keragaman kecerdasan yang ada di Indonesia adalah aset yang sangat berharga. IQ bukanlah satu-satunya indikator untuk menilai kecerdasan atau potensi suatu negara atau individu. IQ hanyalah salah satu indikator dari kecerdasan manusia, dan tidak menggambarkan seluruh spektrum kemampuan intelektual atau potensi individu dalam suatu negara. 

Banyak faktor lain yang dapat memengaruhi kecerdasan seseorang dan bangsa, seperti kreativitas, kecerdasan emosional, kecerdasan sosial, dan kecerdasan praktis. Oleh karena itu, meskipun angka rata-rata IQ bisa memberikan gambaran tentang kondisi umum, IQ bukan ukuran mutlak dari kecerdasan suatu negara atau populasi.

Berdasarkan data yang ada, Guru Besar IPB University, Prof. Dr. Ir.  Rokhmin Dahuri MS menyebutkan rata-rata IQ Indonesia hanya berada di peringkat ke-136 di antara negara-negara ASEAN serta daya literasi yang terburuk ke-2 di dunia, menggarisbawahi sejumlah tantangan besar yang dihadapi Indonesia dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan pembangunan sumber daya manusia.  , 

Jika benar, ini menunjukkan bahwa kecerdasan kolektif bangsa Indonesia, yang diukur melalui tes IQ, masih jauh tertinggal dibandingkan negara-negara tetangga di kawasan Asia Tenggara. Beberapa negara ASEAN yang lebih tinggi dalam hal rata-rata IQ termasuk Singapura, Malaysia, dan Thailand, yang memiliki sistem pendidikan yang lebih maju dan lebih terakses dengan baik.

Anggota DPR RI periode 2024 - 2029 itu juga menyoroti masalah literasi yang sangat rendah di Indonesia, di mana daya literasi Indonesia dikatakan berada di peringkat kedua terburuk di dunia. Hal ini didukung oleh hasil Program International for Student Assessment (PISA) 2022 yang dilakukan oleh OECD (Organization for Economic Co-operation and Development), yang mengukur kemampuan membaca, matematika, dan sains pelajar usia 15 tahun di seluruh dunia.

Dalam survei tersebut Indonesia berada di peringkat ke-69 dari 81 negara. menunjukkan bahwa kualitas pendidikan Indonesia, khususnya dalam kemampuan kognitif (membaca, matematika, dan sains), masih tertinggal dibandingkan banyak negara lainnya.

Rata-Rata IQ Berdasarkan Negara

Berikut sederet negara dengan IQ tertinggi dan terendah berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Richard Lynn dan Tatu Vanhanen serta sumber-sumber lain yang relevan. 

Negara dengan Rata-Rata IQ Tertinggi

1. Singapura - Rata-rata IQ: 108
2. Hong Kong - Rata-rata IQ: 107
3. Korea Selatan - Rata-rata IQ: 106
4. Jepang - Rata-rata IQ: 105
5. China - Rata-rata IQ: 104
6. Italia - Rata-rata IQ: 102
7. Belanda - Rata-rata IQ: 102
8. Jerman - Rata-rata IQ: 101
9. Norwegia - Rata-rata IQ: 101
10. Polandia - Rata-rata IQ: 99

Negara dengan Rata-Rata IQ Rendah
1. Ekuador - Rata-rata IQ: 79
2. Guatemala - Rata-rata IQ: 79
3. Mozambik - Rata-rata IQ: 66
4. Angola - Rata-rata IQ: 70
5. Yordania - Rata-rata IQ: 82
6. Filipina - Rata-rata IQ: 87
7. India - Rata-rata IQ: 82-83
8. Pakistan - Rata-rata IQ: 84
9. Mongolia - Rata-rata IQ: 84

Dalam penelitian tersebut, Indonesia tidak termasuk dalam daftar negara dengan skor IQ tertinggi dan terendah. Posisi Indonesia dalam Peringkat Rata-Rata IQ, memiliki rata-rata IQ sekitar 87. Dengan angka ini, Indonesia berada di urutan ke-60-an dari sekitar 130 negara yang tercatat dalam penelitian mereka. Meskipun angka ini tergolong lebih rendah dibandingkan negara-negara seperti Singapura atau Jepang, Indonesia masih memiliki potensi yang besar dalam hal kecerdasan kolektif, yang dipengaruhi oleh faktor-faktor lain seperti budaya, pendidikan, dan akses terhadap teknologi.

Kecerdasan adalah hasil dari interaksi antara faktor genetik dan lingkungan, dan setiap negara memiliki potensi untuk berkembang dan meningkatkan kualitas sumber daya manusianya melalui perbaikan pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan sosial.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Rata-Rata IQ

1. Sistem Pendidikan: Kualitas pendidikan di suatu negara sangat memengaruhi perkembangan kognitif anak-anak dan remaja. Negara dengan sistem pendidikan yang lebih baik, seperti Singapura, Korea Selatan, dan Jepang, cenderung memiliki rata-rata IQ yang lebih tinggi.
  
2. Sosial-Ekonomi: Negara dengan tingkat kemiskinan yang tinggi atau ketimpangan sosial-ekonomi yang besar sering menghadapi tantangan dalam memberikan akses pendidikan yang berkualitas dan gizi yang baik. Ini dapat memengaruhi tingkat kecerdasan rata-rata populasi.

3. Akses Gizi: Gizi yang buruk, terutama pada masa bayi dan anak-anak, dapat mempengaruhi perkembangan otak dan kemampuan kognitif. Negara dengan masalah malnutrisi atau kurangnya akses terhadap gizi yang baik cenderung memiliki rata-rata IQ yang lebih rendah.

4. Ketersediaan Teknologi dan Akses Pendidikan: Akses terhadap teknologi modern dan informasi yang lebih baik dapat meningkatkan kecerdasan kognitif. Negara-negara dengan infrastruktur yang kuat dan akses informasi yang mudah cenderung memiliki rata-rata IQ yang lebih tinggi.

5. Lingkungan Budaya dan Sosial: Budaya yang mendorong pembelajaran, inovasi, dan pemecahan masalah sangat penting dalam perkembangan kecerdasan. Negara dengan budaya belajar yang kuat cenderung memiliki rata-rata IQ yang lebih tinggi.

Kritik terhadap Penggunaan IQ untuk Menilai Kecerdasan Negara

Beberapa ilmuwan dan ahli psikologi seperti Howard Gardner (Psikolog dan Ilmuwan Pendidikan), James Flynn (Psikolog dan Peneliti IQ), David Perkins (Psikolog Pendidikan),  Richard Nisbett (Psikolog Sosial), dan Robert Sternberg (Psikolog Kognitif) telah mengkritik penggunaan IQ (Intelligence Quotient) sebagai satu-satunya ukuran untuk menilai kecerdasan negara.

Mereka berpendapat bahwa IQ sering kali tidak mencerminkan kecerdasan secara utuh, dan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor lingkungan dan sosial-ekonomi.

Mereka berpendapat bahwa IQ terlalu sempit dan bias, hanya mengukur aspek tertentu dari kecerdasan manusia, dan tidak mencakup seluruh kecerdasan manusia yang lebih luas dan kompleks.

Kecerdasan manusia harus dipahami sebagai hal yang multidimensional, yang melibatkan berbagai aspek seperti kreativitas, kecerdasan sosial, emosional, dan praktis.

Oleh karena itu, mereka mengusulkan agar kita melihat kecerdasan dengan lebih holistik dan mempertimbangkan faktor-faktor sosial, budaya, dan pendidikan yang membentuk kecerdasan suatu individu atau negara.

Komentar