Selasa, 21 Mei 2024 | 21:09
OPINI

Sejarah Idul Fitri, Warga Sholat di Depan Keraton Kasunanan Surakarta

Sejarah Idul Fitri, Warga Sholat di Depan Keraton Kasunanan Surakarta
KRH Aryo Gus Ripno Waluyo

Oleh: KRH Gus Ripno Waluyo, SE, SP.d, S.H, C.NSP, C.CL, C.MP,C.MTh *) 

ASKARA - Ribuan umat Islam melaksanakan ibadah Salat Idul Fitri 1445 H di Keraton Kasunanan Surakarta, pada perayaan Idul Fitri 2024 tahun ini, terlihat luapan kegembiraan masyarakat yang datang mengikuti Sholat Idul fitri. 

Hal ini seperti yang terlihat dalam ibadah Sholat Idulfitri di Keraton Kasunanan Surakarta.
Longgarnya aturan Salat Idul fitri dimanfaatkan masyarakat menjalankan ibadah bersama keluarga besarnya. Dan sejumlah masjid di berbagai daerah pun juga banyak yang menyelenggarakan ibadah ini, Makna Idul Fitri.

Secara khusus, perayaan Idul Fitri yang identik dengan menggunakan pakaian baru, memiliki makna yang lebih dari itu. Mengenakan pakaian baru hanyalah sunah, sedangkan makna yang lebih penting adalah anjuran untuk menambah ketaatan setelah hari raya.

Artinya, umat muslim yang menjalankan ibadah puasa dan amalan sunah lain di bulan Ramadan, diharapkan dapat meningkatkan kualitas diri dan iman dengan menjalankan ibadah yang lebih baik usai Ramadan.

Meskipun bukan hal yang mudah, namun orang yang mampu menjalankan ibadah dengan lebih baik setelah Ramadan, merupakan tanda bahwa ibadah selama Ramadan telah diterima oleh Allah. Tentu ini bisa dijadikan motivasi diri bagi setiap umat muslim agar mendapatkan kebaikan.

Sejarah Hari Raya Idul Fitri berkaitan erat dengan dua peristiwa dalam sejarah Islam, yaitu Perang Badar dan Hari Raya masyarakat Jahiliyah. Perayaan Idul Fitri pertama kali digelar pada tahun ke-2 Hijriah, yaitu bertepatan dengan kemenangan kaum Muslimin pada Perang Badar.

Usai perang, secara tidak langsung umat muslim merayakan kemenangan dengan penuh rasa syukur dan gembira. Bukan hanya kemenangan dalam perang, tetapi juga kemenangan karena berhasil berpuasa selama satu bulan di saat itu. Kemudian, ini mulai menjadi tradisi dan ibadah yang dilakukan umat muslim hingga saat ini.

Sebelum itu, tepatnya sebelum agama Islam datang, kaum Arab Jahiliyah merayakan dua hari raya yang sangat meriah. 

Disebutkan dalam hadist bahwa Idul Fitri yang kini dirayakan setiap tahun, tak lepas dari sejarah tradisi masyarakat Jahiliyah yang memiliki kebiasaan khusus bermain dalam dua hari.
Kemudian, setelah Rasulullah mendapat perintah untuk menyebarkan Islam dan jalan kebenaran yang berasal dari Allah, tradisi tersebut berubah. 

Dalam hal ini, Rasulullah mengganti hari raya masyarakat jahiliyah dahulu menjadi perayaan yang lebih baik, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. 

Hari Raya Idul Fitri adalah perayaan besar yang menjadi momen kemenangan bagi seluruh umat muslim. Momen kemenangan ini dicapai setelah umat muslim menjalankan ibadah puasa dengan berjuang mengendalikan nafsu dan berbagai keburukan di bulan Ramadan. 

Selain itu, Hari Raya Idul Fitri juga menjadi momen bagi umat muslim untuk saling bermaafan.

*) Spiritualis, Budayawan, Penulis, Pengacara, PERADI Perjuangan  Jawa Timur

Komentar