Minggu, 14 April 2024 | 14:08
OPINI

Kehilangan Respek Sosial, Pelajaran Berharga dari Film Up in the Air

Kehilangan Respek Sosial, Pelajaran Berharga dari Film Up in the Air
Film Up in The Air

ASKARA - Abad ke-21 telah membawa sejumlah tantangan yang memengaruhi tatanan sosial kita, dan salah satunya adalah hilangnya respek sosial. Salah satu film yang dengan jelas menggambarkan dampak dari hilangnya respek ini adalah "Up in the Air."

Film ini mengisahkan Ryan Bingham, seorang pekerja agen pemecatan yang hidup dalam rutinitas bepergian lintas kota dan negara dengan tujuan memecat orang dari pekerjaan mereka. Dia menjalani hidupnya "di atas awan," di mana pesawat adalah rumahnya, dan hanya pandangan dari jendela pesawat yang dianggapnya berharga. Namun, segalanya berubah ketika seorang agen muda, Natalia, bergabung dengan agensinya.

Natalia, meskipun amatir, mampu mengungguli Bingham dalam kinerja dan menciptakan terobosan besar dalam perusahaan mereka. Hal ini memicu perasaan inferior Bingham, yang sebelumnya merasa dirinya adalah pelanggan pesawat udara sejati dengan segala keistimewaannya.

Bingham merasakan betul hidupnya penuh petualangan, tetapi pola hidupnya ini menjauhkannya dari pengalaman umum seperti jatuh cinta dan menikah. Namun, saat dia bertemu dengan Alex, seorang wanita yang membuatnya mempertanyakan tanggung jawab pada keluarga dan pernikahan, semuanya berubah. Namun, hasrat ini pupus ketika dia menyadari bahwa cinta mereka hanya bersifat sementara dan tidak berarti.

Sementara itu, Natalia mendapat peluang untuk memimpin proyek pemecatan yang menggunakan teknologi untuk mem-PHK- karyawan tanpa harus bertatap muka. Terobosan ini memotong biaya perusahaan, tetapi juga memiliki konsekuensi tragis ketika seseorang yang dipecat secara virtual mengakhiri hidupnya.

Kejadian ini menghantam Natalia, dan dia menyadari bahwa hilangnya respek dalam pemecatan telah menciptakan dampak yang mengerikan. Loyalitas dan penghargaan terhadap perusahaan telah tergerus, bahkan hingga akhir hidup seseorang. Teknologi yang efisien ini telah menghilangkan esensi kemanusiaan.

Akhirnya, Natalia memutuskan untuk mengundurkan diri, meninggalkan pekerjaannya dengan perasaan bahwa "there is no respect." Ini adalah pertanyaan penting yang harus kita renungkan dalam abad ke-21: apakah kita bersedia mengorbankan respek sosial demi efisiensi dan efektivitas? Film "Up in the Air" mengingatkan kita tentang pentingnya menjaga hubungan antarmanusia dan etika dalam setiap aspek kehidupan kita. 

 

Komentar