Selasa, 23 April 2024 | 08:52
COMMUNITY

Peduli Rutilahu Wong Cilik, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi: Kuncinya Gotong Royong

Peduli Rutilahu Wong Cilik, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi: Kuncinya Gotong Royong
Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi (int)
ASKARA -- Sebagai kota besar nomor dua di Indonesia, kesenjangan antara si kaya dan si miskin di Kota Surabaya sangat terasa. 
 
Dalam hal tempat tinggal, di balik barisan gedung-gedung pencakar langit, dan rumah-rumah mewah, masih banyak rutilahu (rumah tidak layak huni). 
 
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi, S.T., M.T., sejak menjadi orang nomor satu di Kota Pahlawan, langsung "gas pol" menjalankan program bedah rumah bertajuk "Dandan Omah Dadi Apik, Rek". 
 
Program inilah yang diikutsertakan dalam Anugerah Kebudayaan PWI Pusat 2023 yang mengusung tema "Inovasi Pangan, Sandang dan Papan, Berbasis Informasi dan Kebudayaan." 
 
Setelah mengikuti proses penjurian administratif hingga presentasi di depan tim juri, akhirnya ia terpilih sebagai salah satu dari 10 bupati/wali kota penerima Anugerah Kebudayaan PWI Pusat 2023. 
 
Menurut rencana ke-10 kepala daerah tersebut bakal menerima Trofi Abyakta (maju, berkembang) pada puncak peringatan Hari Pers Nasional 2023 bersama Presiden RI Joko Widodo di Medan, Sumatera Utara, 9 Februari 2023.  
 
Tim juri diketuai Yusuf Susilo Hartono (wartawan senior kebudayaan dan penggagas AK-PWI Pusat), dengan anggota Dr. Ninok Leksono (wartawan senior/Rektor Universitas Multimedia Nusantara), Agus Dermawan T (pengamat dan penulis kebudayaan dan seni), Atal S.Depari (wartawan senior/Ketua Umum PWI Pusat) dan Dr.Nungki Kusumastuti (Dosen Institut Kesenian Jakarta/penari senior dan aktris film dan sinetron).  
     
Saat presentasi di kantor PWI Pusat, Wali Kota yang gemar main ludruk dan menari Remo itu mengenakan ikat kepala gaya arek Suroboyo, dengan busana dengan warna dasar abu, dan bersandal kulit. 
 
Eri Cahyadi selalu tersenyum, dengan lesung pipit menghias pipinya. Pengganti Tri Rismaharini itu sangat menguasai persoalan perumahan khususnya rutilahu dengan program Dandan Omah Apik Rek. 
 
Selain memiliki kepedulian pada wong cilik, khususnya yang tinggal dalam rumah yang tidak layak huni, memang latar pendidikan dan pengalaman kerjanya berkaitan dengan perumahan. 
 
Arek Suroboyo kelahiran 27 Mei 1977 ini menjalani pendidikan S1-nya dua: Teknik Sipil dan Sipil Konstruksi ITS Surabaya, jenjang S2-nya juga dua: Manajeman Proyek ITS Surabaya dan Magister Teknik Sipil Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. 
 
Dalam kariernya di pemerintahan, sebelum menjabat Wali Kota Surabaya, 24 Februari 2021 sampai sekarang, pernah menjadi Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman, Cipta Karya dan Tata Ruang (2018), dan lain-lain
 
Kata kuncinya gotong royong
 
Sebagai ibu kota Provinsi Jawa Timur, saat ini Surabaya jumlah penduduknya 2.972.801 jiwa, dengan luas daratan 334,52 km2. 
 
Di kota itu tinggal beragam suku (Jawa, Madura, Tionghoa, dll), dengan memeluk agama beragam juga : Islam (mayoritas), Kristen/Katholik, Hindu, Buddha, dll. 
 
Bagi masyarakat yang ingin rumahnya didandani (diperbaiki), menurut Cak Eri, dapat mengajukan permintaan lewat aplikasi Sayang Warga, e-Hausing atau e-Rutilahu. 
 
Seiring dengan perkembangan zaman, dalam membangun Surabaya secara umum, termasuk di dalamnya dandan omah   mengandalkan teknologi informasi berbasis kearifan lokal. Lalu bagaimana dengan warga yang nir-teknologi?
 
Di situlah, katanya, kearifan lokal saling tolong-menolong hadir. Baik pertolongan sesama keluarga, warga, hingga pejabat pemerintah.
 
Lebih jauh ia memaparkan data bahwa pada tahun 2022 ada 1.465 unit rumah yang mendapat program dandan omah. Dana yang dibutuhkan untuk tiap rumah sekitar Rp 30 juta. 
 
Dari 1.465 unit rumah yang diperbaiki itu, sebanyak 950 unit menggunakan APBD Kota Surabaya. Sedangkan yang non-APBD, sebanyak 380 unit berupa Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS),  98 unit dari Baznas, 30 unit dari CSR, dan 7 unit dari gereja. 
 
“Semuanya kami perbaiki rumah-rumah itu dengan cara gotong royong. Mulai dari pengadaan material, tukang, sampai pengadaan dana,” papar Wali Kota yang meraih sejumlah penghargaan di antaranya  Innovative Government Award (IGA) 2021, Kategori Kota Terinovatif dari Kemendagri Republik Indonesia.
 
Gotong royong, gotong royong, dan gotong royong. Kata ini berkali-kali diucapkannya dengan gaya arek yang tegas, dan blak-blakan, tapi tidak menyakitkan hati.
 
Tidak hanya diucapkan, budaya gotong royong yang merupakan warisan nenek moyang tersebut ia kembangkan sebagai kata kerja dalam berbagai programnya dalam memimpin masyarakat Surabaya yang majemuk. Hal ini "bertentangan" dengan jamak lumrahnya kota besar, yang masyarakatnya cenderung individualistis. 
 
Untuk mengikat nilai-nilai kegotong-royongan itu, dalam berkomunikasi dengan warganya, Cak Eri menggunakan bahasa Indonesia, campur Jawa (kromo dan ngoko) dengan gaya bahasa Suroboyoan. Selain itu juga tidak melupakan nilai-nilai religiusitas. 
 
Dalam hal ini, para warga penerima manfaat, diajak berdoa, diantaranya dengan cara slametan atau kenduri bagi warga Jawa muslim. Saat penyerahan kunci, ketika dandan omah telah usai, ia selalu berpesan " Bapak, Ibu, rumah yang sudah didandani ini jangan dijual."   
 
Arsitekturnya ada dalam hati
 
Manfaat program dandan omah yang sudah dimulai Pemkot Surabaya sejak 2015, tidak hanya dirasakan bagi mereka yang rumahnya diperbaiki, tapi juga masyarakat hingga Pemkot Surabaya.
 
“Masyarakat yang menerima program dandan omah mendapat kualitas hunian bagus, kesehatan meningkat, dan taraf ekonomi naik karena rumah itu bisa menjadi tempat layak untuk usaha,” kata Cak Eri.
 
Masyarakat secara keseluruhan juga mendapatkan manfaat dari program tersebut. Program tersebut melestarikan gotong royong, meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan sosial masyarakat serta meningkatkan kesadaran pada kualitas hunian dan lingkungan. 
 
"Pemkot Surabaya ikut mendapatkan manfaatnya pula dari program dandan omah. Program itu mengurangi  kawasan kumuh. Pemkot bisa berkolaborasi dengan swasta, adanya penataan kota, dan pada gilirannya peningkatan kesejahteraan warga,” jelas Wali Kota Surabaya.
  
Seorang juri bertanya di mana tempat arsitektur lokal pada rumah-rumah rutilahu yang sudah menjadi layak huni? Wali Kota itu mengatakan, “Yang utama bagi kami adalah membangun rumah yang kumuh jadi pantas dihuni. Sedangkan soal arsitekturnya, itu ada di dalam hati.” 

Komentar