Selasa, 02 Maret 2021 | 17:22
TRAVELLING

Catatan Perjalanan

Terjalnya Gunung Lawu Via Jalur Favorit

Terjalnya Gunung Lawu Via Jalur Favorit
Bendera Askara di Puncak Lawu (Dok Wariani)

ASKARA - Pertama-pertama saya ucapkan puji syukur dan terima kasih kepada Tuhan dan semesta alam. Mendaki di musim hujan dapat cuaca cerah itu memang sesuatu banget. 

Pada hari Selasa, 15 Desember 2020 saya mengunjungi Gunung Lawu yang terletak di antara tiga kabupaten yaitu Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, Kabupaten Ngawi, dan Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Status gunung ini adalah gunung api "istirahat" (diperkirakan terakhir meletus pada tanggal 28 November 1885 (Wikipedia). 

Jalur favorit pendakian via Cemoro Sewu, sebagai jalur terpendek dan terbuka dengan bebatuan yang tertata lebar berupa undakan, jalur lain ada Candi Cetho, Cemoro Kandang, Tambak, Jogorogo dan Singolangu. Singolangu adalah jalur kuno yang ditenggarai sebagai jalur petilasan Prabu Brawijaya. Sudah ditutup kurang lebih sekitar 32 tahun, dan 2 bulan terakhir ini baru dibuka kembali. Hutan masih sangat rapat dan masih sepi. 

Pada Februari 2018, saya sudah melalui jalur Candi Cetho, dan dua kali via Cemoro Sewu (awal Desember 2018 dan akhir Juni 2019). Kali ini saya ingin mencoba jalur Cemoro Kandang dengan ketinggian basecamp 1800 mdpl, Sedangkan puncak Lawu pada ketinggian 3.265 mdpl. Titik awal yang cukup menyenangkan.

Dari basecamp menuju pos 1 Taman Sari Bawah dengan ketinggian 2.167 mdpl, waktu yang dibutuhkan dengan beban carrier full pendaki mandiri sekitar 1 jam, jalur di awal cukup lebar lalu sedikit sempit, tanah kekuningan dan nanjak sekitar 45 derajat. Pada Pos 1 tersedia bangunan dari batu untuk istirahat sementara waktu atau berteduh. 

Pos 1 ke Pos 2 Taman Sari Atas dengan ketinggian 2.470, waktu yang saya butuhkan 1,5 jam. Jalur nanjak dengan hutan pinus dan kaliandra yang cukup rapat. Meski melelahkan, cukup menyenangkan karena rimbun jadi tidak kepanasan walau jalan siang hari. Area cukup luas dengan 2 shelter ukuran sekitar 3x4. Satu shelter terbuka dengan dinding seng sekeliling setinggi 60 sentimeter hanya satu sisi tertutup hingga atap, satu lagi shelter tertutup lengkap dengan pintu dorong dan 2 jendela, di satu sudut dibuat semacam cerobong untuk membakar sampah atau membuat perapian menghangatkan badan. Di Pos ini juga tertulis Kawah Candradimuka, arahnya turun beda dengan jalur pendakian. Saya explore saat turun dari puncak saja.

Pos 2 ke Pos 3 Penggik dengan ketinggian 2.819 mdpl. Perjalanan ini terasa sangat panjang, banyak jalur terobosan longsor dan jalur diarahkan zigzag, Sebetulnya tidak terlalu banyak tanjakan, tapi karena berputar maka memang jadi begitulah, dan waktu tempuh yang saya butuhkan 3 jam. Vegetasi didominasi pohon kaliandra dan sedikit pinus besar. Di dekat pos 3 ini bisa kita temukan sumber air dengan nama Sendang Panguripan, cukup 5 menit jaraknya. Saya buka tenda di sini, dengan pertimbangan sumber air dekat. Atap shelternya sendiri sudah roboh, tinggal batu tembok berbentuk U, sedang di sebelah baratnya ada 1 shelter lagi tapi untuk membakar sampah. Setelah buka tenda baru gerimis karena kabut turun. Area tidak terlalu lebar, bisa menampung 1 tenda isi 4 dan 1 tarptent. Di bawah bisa 2 tenda, tapi itu sebetulnya jalur pendakian. Cukup membahagiakan bisa menyaksikan sunset dari tempat ini.

Pagi hari Rabu, 16 Desember 2020 pukul 07.00 pagi, melanjutkan perjalanan menuju pos 4 Cokro Suryo ketinggian 3.135mdpl. Sungguh indah luar biasa. 5 menit pertama melewati endang Panguripan dan trek berubah, melipir jalan setapak, di sebelah kanan tebing bukit dengan kiri jurang dalam dan pemandangan di seberang lereng bukit tinggi dengan bebatuan yang gagah perkasa. Dari pos ini mulai saya temukan tanaman Edelweiss. Tetap konsentrasi, jangan meleng terbius karena indahnya. Di sebelah kiri memang telah terpasang beberapa pipa dengan batas kawat sling, tapi sudah ada beberapa yang rusak, dan ada beberapa titik sedikit longsor, kalau ingin menikmati, berhentilah, nikmati dengan seksama dan sepuasnya, jangan sembari jalan, nanti kepleset ke jurang. 

Jalur via Cemoro kandang ini sungguh bervariasi, mulai dari tanah kuning padat, berpasir, melewati akar juga nanjak sedikit di bebatuan. Sekitar 30 menit perjalanan bisa ditemukan pos Bayangan atau pos Pengarep, dengan 1 shelter. Tapi jangan senang dulu, ini belum separuh jalan menuju pos 4. Jalur tetap zigzag. Ada banyak jalur potong kompas yang makin curam tergerus air, saran saya ikuti saja jalur zigzag itu, walau sedikit memutar akan lebih irit tenaga, dan sayangi dengkul Anda. Berputar lebih baik.

Pada menit ke 45 berjalan, ada petunjuk tulisan Ondorante (ondo artinya tangga, rante artinya rantai). Katanya, dulu pendakian harus menaiki bebatuan yang lumayan panjang dan curam ini, maka itu disebut Ondorante. Sekarang jalur ini ditutup dan diberi tulisan "dilarang lewat jalur ini" dengan tanda seru (!). Jadi tidak perlu ingin mencoba dan melanggar, daripada jadi malapetaka, ngerepotin banyak orang. Ikuti saja jalan yang sudah disediakan dengan jelas dan tidak jauh dari area ini ada papan rambu imbauan untuk hati-hati karena rawan longsor. 

Saya yakin, para pendaki adalah orang yang sangat hati-hati dan taat pada aturan. Selalu waspada pada apapun yang ada di sekitarnya.

Sepanjang jalur suasananya sunggung berbeda, kanan kiri dihiasi tanaman Edelweiss, meski belum banyak yang berbunga, sungguh sangat menghibur. Selain itu di beberapa tempat yang dihiasi gundukan tanah setinggi 30 sentimerer sebagai pembatas dengan jurang di sebelah kanan (karena zigzag jadi jurang sekarang berada di kanan) yang lebarnya juga sekitar 30 sentimeter ditumbuhi rumput cantik indah, sangat menggoda bikin ingin berhenti dan duduk di situ berlama-lama dengan view tebing bukit terdekat. Sungguh luar biasa, perjalanan jadi tidak terasa. Lebih banyak jalan datar dan sedikit menaiki bebatuan. Yang penting selalu konsentrasi dan hati-hati.

Pada 1,5 jam dari pos 3, akhirnya terlihat area luas dan sampailah pada pos 4. Ada 1 batu besar utuh kurang lebih ya setinggi 120 sentimeteran dengan relief semacam matahari di tengahnya, pada batu besar ini ada payung bersusun 3 seperti yang sering kita lihat di Pura Bali, di seputaran batu utuh tadi disusun batu kecil rapi berbentuk segi empat. Saat awal terlihat dari kejauhan, saya pikir ini buat tempat duduk ngobrol. Ternyata saya salah. Pada pos 4 ada warung, tapi kebetulan tutup, sang pemilik sedang turun ke Surabaya untuk menghadiri kondangan. Di sini sering terjadi badai angin kencang. 

Bila lurus dari arah datang saya tadi itu menuju Pos 5, tapi melihat sisi kanan, ada bukit agak tinggi, seperti biasa keingintahuan itu menggoda, akhirnya coba saya daki, 10 menit berjalan di sebelah kanan ada batu lumpang berisi air hujan. Setelah sampai pada titik tertingginya, terlihatlah sabana cukup luas dan cantik tersembunyi di balik bukit ini, lalu saya coba menuruninya dan memeriksa seputaran. Dan di situ saya menemukan bekas batu yang ditata tapi sudah banyak yang jatuh, menemukan 1 batu lumpang lagi lebih kecil di depan area batu yang mirip sebagai pintu masuk. Apakah ini petilasan juga? Entahlah. Saya jadi mengingat, sebelum sampai di puncak Gunung Lawu, ada batu lumpang juga berjarak antara 10 meteran dari puncak, lalu artinya apa? Saya juga belum memahami kegunaannya.

Lanjut turun dari sisi lain bukit itu, mencoba melihat jalur mana yang bisa menuju puncak Hargo Dumilah, sempat bingung tapi sebentar saja. Nah, ini dia yang harus hati-hati juga, area sabana dengan rumput pendek sulit dikenali jejak jalurnya, karena tidak terlihat sama sekali, seringkali bisa bikin nyasar.

Tidak sampai lima menit coba tengok ke bawah, akhirnya terlihat sebuah jalur dengan jelas. Segeralah saya turun dan akhirnya nyambung dengan jalur yang benar. Kemana? Saya ikuti saja.

Di sini terlihat penunjuk arah turun di sebelah kiri ternyata nyambung dengan jalur via Tambak, karena tujuan ke puncak, maka tetap ikuti jalur yang nanjak. Dominasi tanaman Cantigi dan Edelweiss, jalur datar memutar berpasir tipis melewati beberapa titik bebatuan dan 1 jam kemudian tepatnya pukul 09.46 sampailah di Pos 5 dengan petunjuk arah lengkap, dari arah saya datang Cemoro Kandang, ke kanan Puncak Hargo Dumilah dan kalau lurus menuju Hargo Dalem. 

Karena tuntutan perut mulai keroncongan, maka tujuan ke Hargo Dalem dimana ada warung Mbok Yem dengan menu nasi pecelnya yang sudah dikenal banyak pendaki. Serasa menemukan surga, langsung pesan pecel dengan teh hangat yang murah meriah seharga Rp 20.000. Pada ketinggian di atas 3.000 menemukan pecel, bener-bener waow kan. Warung Mbok Yem ini hampir tidak pernah tutup.

Setelah istirahat sejenak lanjut menuju puncak, cukup 15-30 menit perjalanan dengan jalur menanjak di antara bebatuan model longsoran yang lumayan terjal. Diharap hati-hati dalam melangkah, apalagi bila berjalan dengan rombongan, hati-hati batu bisa meluncur begitu saja dan mengenai teman yang di belakang.

Sungguh bersyukur, yang awalnya kabut lumayan, tapi begitu sampai puncak kabut menghilang dan sangat terang. Berswafoto secukupnya, lalu pindah ke ujung puncak yang ada bendera juga. Dengan pemandangan di kiri bawah Telaga Kuning, yang sering digunakan pendaki menulis sesuatu dengan susunan batu sebesar genggaman. Di sinilah posisi pendaki yang Hipotermia dan meninggal beberapa bulan yang lalu dengan proses mencabut pohon cantigi dengan tangan kosong lebih dahulu. 

Tepat pukul 12.30 turun menuju pos 3 tempat saya meninggalkan tenda dan barang yang tidak dibutuhkan. Turun via jalur Gegerboyo. Hati-hati cukup terjal, semacam turun dari puncak Argopuro menuju taman hidup Bremi. 

Cukup 1 jam sampailah di Pos 3, packing barang dan lanjut turun ke Pos 2, cukup 1 jam juga. Seperti yang saya ceritakan diawal, ingin explore Kawah Candradimuka. Karena sudah agak sore maka harus menambahkan hari untuk menginap. Kali ini karena ada shelter cukup luas, maka cuman gelar matras keluarkan sleeping bag sudah cukup. 

Pagi hari sekitar pukul 8 pagi, ada 9 orang trail runner dari Jakarta Barat melewati pos 2 ini, ngobrol asyik bertukar cerita, mereka sembari menunggu temannya yang ketinggalan. 

Pukul 08.30 start mencoba turun menuju kawah Candradimuka. Wow, jalurnya sangat terjal dengan kemiringan 70 hingga 90 derajad, sudah tersedia tali tampar plastik juga tali pramuka. Ternyata harus merayap semacam climbing pada 3 titik terjal, baru bisa sampai pada jalur kawah. Sedikit begidig juga memikirkan balik naiknya. 

Apa mau dikata, sudah terlanjur di bawah. Coba mencari titik kawahnya, ya ampun ternyata masih harus berjalan di atas batu-batu besar dan lompat kanan kiri. Karena tiba-tiba kabut dan ada butiran halus turun, maka jadi dingin menggigil. Coba jongkok merasakan air yang mengalir, hemm ya hangat dan sedikit bau belerang. Tapi saat butiran itu makin deras, saya tidak tahan dinginnya, saya putuskan kembali naik sebelum hipo menghampiri. Padahal kata teman saya, kurang 10 menit itu sudah mendekati kawah. Kebetulan dia menggunakan jaket, jadi bisa explore lebih jauh. Ternyata bau belerang itu sangat menyengat, dan membuatnya pening dan mual. Akhirnya diapun kembali naik, setelah memasang webbing pada titik terjal dan licin di dekat kawah yang memang sudah saya bawa dari rumah. 

Walaupun kami berdua pada akhirnya tidak bisa sampai pada titik lokasi kawah yang benar, tidak masalah. Yang penting kami sudah mencoba mendatanginya hingga titik terdekat. 

Kembali ke atas, harus manjat seperti panjat tebing, merinding, iya. Tetep konsentrasi dengan tangan kiri berpegangan tali, dan tangan kanan berpegang pada batu-batu yang kokoh. Untuk yang takut ketinggian jangan mencobanya, nanti bisa turun tidak bisa balik naik ke atas. Jarak dari atas menuruni jalur tebing terjal ini, saya perkirakan ada 20 meteran, itu perkiraan saya ya, entah realitanya.

Setelah saya dan kawan saya sampai di atas, segera kami packing dan lanjut pulang. Ada 1 air terjun yang terletak tidak jauh dari basecamp, cukup 10 menit untuk bisa menemukannya. Karena gerimis rapat, saya batalkan untuk mengunjunginya. Perjalanan langsung ke basecamp saja, dan sampailah saya di basecamp pukul 14.00. 

Sungguh bersyukur, dalam perjalanan ini semua lancar dan selamat dengan kebahagiaan yang sulit dilukiskan. Tiap perjalanan selalu memiliki cerita yang berbeda.

 

Gunung Lawu 3.265mdpl
Petilasan Prabu Brawijaya
Via Cemoro Kandang.
15-17 Desember 2020

Salam Satu Jiwa untuk Indonesia

Komentar