Rabu, 25 November 2020 | 14:47
OPINI

The Last Waltz With You

The Last Waltz With You
Ilustrasi

Selama 26 tahun kami menikah, belum pernah sekalipun juga saya melupakan hari ulang tahun maupun hari pernikahan kami ! Tentunya dengan memberikan bunga maupun kado lainnya yang sudah menjadi ritual tetap setiap tahun.

Namun pesta HUT Mbak Wied yang ke 53 sekarang ini beda. Kenapa? Karena saya mohon agar kita dansa waltz berdua terlebih dahulu hanya untuk kami berdua saja, tiada seorang pun yang hadir ataupun bisa turut menyaksikannya.

Sebelumnya Mba Wied mengabulkan permohonan dansa saya, ia bertanya kenapa? Kok rasanya aneh. Apalagi judul lagunya "The Last Waltz With You”, seakan-akan tidak ada lagu waltz lainnya yang jauh lebih indah. Misalnya “Blue Danube” dari Johann Strauss II musik pavoritnya Mbak Wied. Apakah mungkin suami saya akan mem PHK (Pemutusan Hubungan Kawin) karena adanya WIL yang jauh lebih muda dan jauh lebih cantik daripada saya sendiri yang sudah kepala lima?

Dalam empat minggu terakhir ini saya kehilangan tujuh orang sohib saya yang meninggal karena Corona, bahkan saat sekarang ini adik bungsu saya Boy terbaring dalam keadaan sakit. Hal inilah yang menimbulkan perasaan takut dan juga menimbulkan pemikiran jangan-jangan pesta HUT yang kami rayakan bersama sekarang ini; adalah pesta HUT Mbak Wied yang terakhir, dimana kita bisa merayakannya bersama !

Sehingga jangankan bisa menunggu hingga tahu depan, bahkan untuk bisa Natalan bersama pun masih diragukan. Hal inilah yang mendorong saya untuk mengajukan permohonan yang kelihatannya terkesan romantis namun agak aneh.

Begitu lagu mulai diputar The Last Waltz seperti biasa tanpa mengucapkan sepatah katapun juga Mbak Wied langsung meletakan tangannya di atas bahu saya agar kita bisa mulai berdansa. Namun dalam saat bersamaan air mata Mbak Wied pun mulai turun bercucuran dengan deras, bahkan ia semakin mendekap ke badan saya untuk memeluk saya erat-erat.

T-shirt saya jadi semakin basah, karena dekapan Mbak Wied yang penuh dengan air mata. Rupanya Mbak Wied merasa sangat takut sekali ditinggal oleh saya seorang diri. Maklum ia pun menyadari, bahwa usia saya 79 tahun merupakan salah satu usia dimana saya akan jauh lebih mudah ketularan Covid daripada mereka yang usianya jauh lebih muda.

Setelah lagu itu berhenti diputar ia menatap saya dengan wajah yang sangat sedih sekali dan dengan suara yang terbata-bata: “Pah, saya tidak ingin dan mau mendengarkan lagu ini lagi!”. Setelah itu ia pergi ke kamar tidur dengan menutup wajahnya untuk berdoa, karena ia tahu hanya Tuhan seorang saja yang bisa mengabulkan permohonannya agar kami bisa hidup bersama jauh lebih lama lagi. Amin.

Bagi Anda ingin mendengarkan lagu The Last Waltz silahkan di klik https://www.youtube.com/watch?v=orCiC9-p7yE

Mang Ucup

Menetap di Amsterdam, Belanda

Komentar