Senin, 30 November 2020 | 08:49
OPINI

Kisah Pilu Di Hari Terakhirnya Bung Karno (Bag. 3/3)

Kisah Pilu Di Hari Terakhirnya Bung Karno (Bag. 3/3)
Sosok Ibunda Bung Karno

Hatta mendapatkan laporan mengenai kondisi Bung Karno. Ia merasa tak tahan untuk tidak segera mengunjungi sahabat seperjuangannya. Apapun risiko maupun bayarannya yang harus dikorbankan. Ia mengajukan permohonan untuk mengunjungi Sukarno.

Ketika Hatta datang sendirian ke kamar Bung Karno. Kamar yang bau pesing, dan kotor melebihi joroknya dari kandang hewan. Ia melihat tubuh Bung Karno yang sudah tidak kuat lagi menahan rasa sakitnya. Dengan lembut Hatta memegang tangan Bung Karno sambil bertanya: “Bagaimana kabarmu, No?”

Bung Karno membuka matanya dengan perlahan. Ia berusaha untuk meraih lengan Hatta sambil berkata dengan perlahan dan rasa lelah: “Hoe gaat het me jou” (dalam bahasa Belanda = Bagaimana kabarmu).

Saat itu Hatta sudah tidak bisa menjawabnya lagi. Maklum ia merasa sangat sedih sekali melihat kawan seperjuangannya yang begitu menderita. Ia diam membisu namun tanpa bisa ditahan lagi turun air matanya berlinang dengan deras. Air mata Hatta turun berlinang mengenai wajah Bung Karno.

Mereka berdua menangis bersama sambil saling berpegangan tangan tanpa mengeluarkan sepatah katapun juga. Air mata adalah bahasa yang paling jelas dan nyata dari rasa kasih yang sangat mendalam antar dua orang sahabat.

Di sebuah kamar yang bau dan jorok, kamar yang menjadi saksi ada dua orang yang memerdekakan bangsa ini; namun di akhir hidupnya merasa tidak bahagia. Suatu hubungan yang menyesakkan dada.

Tak lama setelah Hatta pulang, Bung Karno meninggal. Sama seperti pada saat proklamasi tahun 1945, dimana Bung Karno menunggu Hatta di kamar dahulu sebelum mau mengucap Proklamasi. Saat kematiannya-pun Bung Karno juga seolah menunggu Hatta dulu, baru ia berangkat menemui Tuhan. Tak lama kemudian Bung Karno wafat. Tepatnya pada tanggal 21 Juni 1970.

"Jadikan deritaku ini sebagai kesaksian, bahwa yang namanya kekuasaan presiden sekalipun pasti ada batasnya. Karena kekuasaan yang langgeng hanyalah kekuasaan dari rakyat. Dan diatas segalanya merupakan kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa." (Soekarno,1967).

Pertanyaan Terakhir, menyesalkah kau, Bapak? Sejak muda ditawan Belanda. Sementara menutup usia sembari direnggut kebebasannya oleh bangsa yang kau perjuangkan kemerdekaannya?

Ah, pertanyaan bodoh. Tentu kau tak menyesal. Sedikitpun tidak! Bilapun waktu bisa diulang, diputar kembali, kau pasti akan tetap memilih menjadi seorang Bung Karno.

Orang-orang mengira kau telah mati. Tapi mereka salah. kau tetap hidup di hati setiap rakyat Indonesia bersama Pancasila dan semua harapan bangsa ini.

Mang Ucup

Menetap di Amsterdam, Belanda

Komentar