WONOSOBO: Gunung Bisma atau Gunung Bismo adalah salah satu gunung yang berada di Provinsi Jawa Tengah. Gunung Bisma masih berada di pegunungan Dieng. Secara Administrasi, Gunung Bismo terletak di Kabupaten Wonosobo. tepatnya di perbatasan Desa Campursari dengan Desa Sikunang, Kecamatan Kejajar.
Gunung Bismo memiliki ketinggian 2.365 meter di atas permukaan air laut. Gunung Bisma merupakan bekas gunung api dengan kawah tua yang terpotong membuka kearah tenggara. Ketika musim liburan, Gunung Bisma menjadi salah satu tujuan favorit para pendaki yang ingin menikmati panorama keindahan dari puncak gunung ini.
Pendakian gunung Bismo dapat dilalui melalui empat jalur. Salah satunya adalah jalur pendakian via Silandak. Jalur ini berada di Dusun Silandak, Desa Slukatan, Kecamatan Mojotengah, Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah.
Jalur pendakian Gunung Bismo via Silandak memiliki empat pos untuk mencapai puncak Gunung Bismo. Keempat pos tersebut yaitu Pos 1 (Pertama) Batas Hutan Dewabrata, Pos 2 (Dua) Hutan Pakis Ganggaputra, Pos 3 (Tiga) Sigandul Pitamaha, Pos 4 (Empat) Kamp Daerah Swetaria.
"Kami sengaja tidak mengambil tujuan ke Gunung Prau yang menurut kabar selalu ramai, kami memutuskan mengambil salah satu jalur pintu masuk ke Gunung Bismo yang baru 6 bulan dibuka," ujar Hery Latu beberapa saat yang lalu, Sabtu, (28/12/2019).
Ketika datang dan pulang di Gunung Bismo, jelas Hery, mereka disambut hujan lebat. Petirnya serasa di atas kepala. Untungnya hal itu berlangsung setelah kami sampai di basecamp.
"Trek Gunung Bismo lumayan tipis di beberapa tempat, dimana di kiri kanan terdapat jurang, terutama masuk pos 2 dan ke pos 3. Sebagian longsor juga. Jika longsor berlanjut, dipastikan jalur yang sudah tipis akan putus juga," ucap Hery Latu.
Ditambahkan Hery, mereka membuat flying camp di pos 3. Sempat terbangun karena beberapa pendaki yang baru datang cukup membuat ramai karena main kartu hingga menjelang pagi. Padahal tidur itu penting untuk orang berumur. Untuk itu Hery memohon perhatian dari teman-teman yang suka naik gunung agar tidak membuat keramaian disaat jam tidur.
"Rombongan kami terdiri dari berbagai usia. Ada anak berumur 14 tahun, Bashar, yang ikut bersama ayahnya anggota Mapala UI Tanto, ada seorang kawan baru pengikut sekte IUB (ultralight) Rangga yang membawa ransel cuma 5 kg, Debora Rahmeinda, Nani, Alip, Ketty, Paul, dan Anwar. Mereka semua luar biasa semangatnya," tutur Hery.
Pukul 04.30 Hery dan rombongan mulai melakukan summit. Sekitar satu setengah jam kemudian, setelah melewati pos 4 sampailah mereka di puncak. Matahari sudah tinggi dan kabut cepat naik di musim penghujan ini. Puncak Gunung Bismo terasa sempit, sehingga sulit untuk mendirikan tenda kecuali di lereng sempit pada puncak sisi sebelah barat. Oleh sebab itu tidaklah heran bila saat di basecamp sudah dilarang untuk mendirikan tenda disini, karena kalau musim hujan badai, bisa-bisa tenda meluncur masuk jurang.
"Gunung Bismo dipenuhi dengan jurang-jurang terjal membuat pemandangan semakin indah," ungkap Debora Rahmeinda anggota pencinta alam Elpala, alumni SMA 68 Jakarta.
Debora Rahmeinda merasa bahagia karena dapat menyaksikan keindahan alam yang luar biasa. Dari atas puncak Bismo mereka dapat menyaksikan berbagai gunung yang ada di sekitar Bismo, seperti Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing.
"Apa sih yang asik naik gunung itu?" tanya Debora.
Yang asik di gunung itu, jawab Debora, udaranya sejuk banget, ditambah banyak pohon-pohon aneh, berbagai suara hewan yang semuanya tidak bisa didapatkan di Jakarta. Jadi segala susah-payah tidak terasa lagi ketika menikmati keindahan alamnya bahkan membuat kangen ingin mencoba mendaki puncak gunung yang lain.