Sabtu, 03 Oktober 2026 | 09:12
COMMUNITY
Sharing ringan Pakde Aji Surya (1)

Santri dan Diplomasi

Santri dan Diplomasi

KAIRO: Banyak yang berpendapat bahwa medan laga santri hanya di masjid dan pesantren. Padahal, santri punya modal mengisi semua sisi kehidupan, termasuk di bidang diplomasi.

Pelaku diplomasi hari ini pastilah bukan hanya para diplomat semata. Hampir semua komponen masyarakat bisa menjadi “diplomat” bagi bangsanya. Kebersamaan itulah yang bila dilaksanakan secara sinergis akan mampu menelorkan diplomasi yang berkarakter 4.0. Mantab dan penuh kinerja.

Masalahnya, apakah santri punya modal cukup menjadi seorang Diplomat yang sesungguhnya lalu mengisi pos-pos perwakilan Indonesia di luar negeri seperti di KBRI dan Konsulat Jenderal? Apakah pendidikan pesantren cukup memberi bekal santrinya menjadi seorang Duta Besar?

Pertanyaan menggelitik tersebut harus dibahas lebih dalam agar memberikan wawasan yang baik bagi santri maupun wali santri. Jawaban yang tepat juga akan membangun semangat bagi para pimpinan pesantren mempersiapkan para santrinya menuju persaingan diplomasi global yang semakin ketat.

Untuk menjawab pertanyaan diatas, kiranya perlu diperhatikan lebih dahulu tentang apa itu diplomat dan pekerjaan utamanya. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa Diplomat adalah seseorang yang diutus oleh pemerintahnya ke luar negeri untuk memperjuangkan kepentingan bangsanya. Caranya setidaknya ada lima: bernegosiasi, berpromosi, melindungi, mewakili serta membuat laporan.

Untuk bisa menjalankan semua tugas-tugas tersebut, maka seorang Diplomat harus memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, mental pantang menyerah, kemampuan berbahasa yang tinggi, luwes dalam pergaulan serta ciamik dalam beradaptasi dengan lingkungan. Bahkan di zaman now, seorang Diplomat juga harus piawai dalam menggunakan media.

Pengamatan saya sekilas, elemen dasar untuk menjadi Diplomat ada dalam diri santri. Membela kepentingan bangsa misalnya, semestinya telah tertanam dalam jiwa sanubarinya karena konsep “hubbul wathon minal iman” (cinta tanah air bagian dari Iman) diajarkan sejak dini. Sedangkan bahasa asing yang menjadi kebutuhan dalam pergaulan dan negosiasi, bagi pesantren-pesantren tertentu, sudah bukan isu besar lagi.

Pergaulan santri yang senantiasa digembleng dari pagi hingga malam selama bertahun-tahun, melahirkan jiwa-jiwa kokoh dalam pantang menyerah. Mereka adalah kaum yang sangat “tough” alias kuat. Inilah bagian penting dalam negosiasi terhadap aneka bangsa lain.

Sementara hidupnya santri dengan santri lain dari berbagai daerah, dengan kebiasaan-kebiasaan yang berbeda, telah menggembleng mereka agar senantiasa bersikap dan berpikir terbuka. Anak sekarang menyebutnya menjadi “gaul abis”.

Solidaritas kalangan santri juga sangat penting dalam diplomasi perlindungan warga Indonesia di luar negeri. Kebiasaan saling membantu satu dengan lainnya bisa menjadikan “Santri Diplomat” atau “Diplomat Santri” memiliki jiwa membantu warganya tanpa batas. Apalagi mereka memiliki jargon “al ikhlasu ruhul amal” (ikhlas itu jiwa sebuah pembuatan).

Terlepas dari itu semua, para santri umumnya adalah orang-orang yang bisa memegang amanah baik yang besar atau kecil. Mereka tidak mudah tergoda atas iming-iming apapun. Modal ini sangat penting dalam diplomasi zaman kini yang semakin kompleks.

Saya memprediksi, jalan santri menjadi diplomat jadi lebih mulus manakala ia berhasil meningkatkan ketrampilannya melalui pendidikan tinggi seperti di jurusan Hubungan Internasional atau Hukum Internasional. Inilah polesan akhir yang menjadikan santri diplomat yang siap pakai.

Bukti-bukti sudah lebih dari cukup untuk mengatakan bahwa santri memiliki modal lebih menjadi seorang Diplomat handal. Di jajaran Kementerian Luar Negeri sendiri, para santri pernah mengisi berbagai jabatan, dari tingkat bawah, Madya hingga Tinggi. Mulai Kepala Seksi hingga Wakil Menteri. Dari Atase hingga Duta Besar.

Sekarang tantangannya lebih pada penyiapan yang lebih fokus bagi santri yang ingin menjadi diplomat. Kemampuan Bahasa Inggris dan bahasa lain harus diasah secara tekun sejak dini. Kesenangan membaca (semangat iqra) atas berbagai persoalan harus dikembangkan. Sikap kebangsaan yang kontekstual serta pergaulan internasional sebaiknya dikenalkan sejak awal. Jujur, persaingan ke depan akan semakin ketat dan berat.

Yang pasti, persiapan yang cermat akan menentukan hasil yang akurat. Tidak ada yang serba instan, karena santri pun senantiasa memegang prinsip “man jadda wajada” (hanya yang bersungguh-sungguh yang akan berhasil).

Salam dari Kairo.

Editor: Husnie