Senin, 19 Oktober 2026 | 13:54
CULINARY

Dari Lereng Raung, Kopi Petani Kalibaru Menjemput Pasar Dunia

Dari Lereng Raung, Kopi Petani Kalibaru Menjemput Pasar Dunia
Kolase Hamdan Zoelva menikmati Kopiraung, dan para penikmat kopi di stsnd Kopiraung (Dok Askara)

ASKARA - Aroma kopi dari lereng Gunung Raung, Banyuwangi, kini tercium hingga Surabaya. Bukan sekadar membawa produk, Kopiraung Sejati datang membawa cerita tentang petani, kerja keras, dan harapan agar kopi lokal mampu berdiri sejajar di pasar dunia.

Kopiraung Sejati tampil dalam Expo Kongres ke-42 Syarikat Islam yang digelar di Jatim Expo dan Asrama Haji Surabaya. Kehadirannya menjadi ruang bagi kopi Kalibaru untuk berkenalan lebih dekat dengan peserta kongres, pelaku usaha, hingga masyarakat.

Di balik secangkir kopi yang disajikan, ada perjalanan panjang para petani dan pegiat kopi lokal. Kopiraung Sejati merupakan unit usaha yang lahir melalui proses inkubasi bisnis dan pembinaan Koperasi Syarikat Islam, dengan pendampingan dari hulu hingga hilir.

Pendampingan itu diarahkan untuk meningkatkan kualitas produk sekaligus membuka akses pasar yang lebih luas.

Dalam expo tersebut, Kopiraung Sejati hadir bersama sejumlah kelompok dan brand lokal Kalibaru, antara lain Generasi Tandur, X_Baroe Coffee, Kopikie, Tokelap Kopi, Gapoktan Goma, Hanum Coffee, dan Harris Coffee.

Mereka membawa satu cerita yang sama: kopi Kalibaru bukan hanya komoditas, tetapi juga sumber kehidupan bagi keluarga petani.

Dari Petani Menuju Pasar Global

Kongres ke-42 Syarikat Islam dimanfaatkan Kopiraung Sejati tidak hanya untuk memperkenalkan produk, tetapi juga membuka pintu kerja sama melalui business matching.

Pertemuan dengan mitra jejaring Koperasi Syarikat Islam dan sejumlah pihak swasta diarahkan untuk memperluas distribusi kopi Kalibaru ke pasar nasional sekaligus mencari dukungan pendanaan bagi penguatan infrastruktur pascapanen dan kapasitas produksi kelompok tani.

Harapannya sederhana, tetapi besar: petani tidak berhenti sebagai pemasok bahan baku. Mereka harus menjadi bagian dari rantai nilai yang mendapatkan manfaat lebih besar dari setiap biji kopi yang dihasilkan.

Langkah menuju pasar ekspor pun mulai dipersiapkan. Salah satu pasar yang tengah dijajaki adalah Tiongkok, negara dengan potensi konsumsi kopi yang besar.

Jika langkah itu terwujud, perjalanan kopi Kalibaru tidak lagi berhenti dari kebun menuju pasar lokal. Ia akan membawa nama Banyuwangi dan Indonesia menyeberangi batas negara.

Secangkir Kopi, Sebuah Harapan

Bagi masyarakat perkebunan di lereng Raung, kopi bukan sekadar minuman. Ia adalah hasil dari kerja panjang, dari merawat tanaman, memetik buah, mengolah, menjemur, hingga menjaga kualitas sebelum akhirnya sampai ke tangan konsumen.

Karena itu, setiap upaya memperluas pasar kopi lokal sesungguhnya juga merupakan upaya memperluas kesempatan hidup bagi petani.

Koperasi Syarikat Islam melalui pembinaan dan inkubasi bisnis menjadi salah satu jembatan untuk mempertemukan potensi desa dengan kebutuhan pasar yang lebih luas.

Kopiraung Sejati ingin membuktikan bahwa produk dari daerah tidak harus selalu datang sebagai pemain kecil. Dengan kualitas, pendampingan, jejaring, dan keberanian membuka pasar, kopi dari lereng Raung dapat memiliki tempat di panggung nasional bahkan internasional.

Di tengah derasnya produk global, kopi Kalibaru memilih jalannya sendiri: tumbuh dari tanah sendiri, dirawat oleh tangan petani sendiri, lalu membawa cita rasa Banyuwangi untuk dikenal dunia.

Sebab, di balik secangkir kopi, selalu ada cerita tentang tanah, manusia, kerja keras, dan harapan.

 

Editor: Dar Edi Yoga