Selasa, 06 Oktober 2026 | 13:10
OPINI

Naratologi

Naratologi
Ilustrasi Naratologi (Dok Askara)

OLEH: JAYA SUPRANA

ASKARA - Saya memang penggagas Kelirumologi, Humorologi, Alasanologi, Andaikatamologi, Malumologi dll. Tetapi sumpah : Naratologi bukan gagasan saya.

Naratologi adalah ilmu tentang bagaimana cerita bekerja, bukan tentang apa isi cerita. Kalau kritik sastra bertanya "apa makna Much Ado About Nothing ?", naratologi bertanya "bagaimana Shakespeare membuat kita percaya bahwa terlalu banyak keributan tentang suatu yang tidak ada ?". Saya mulai sadar  eksistensi Naratologi setelah menyimak film 3000 Years of Longing garapan George Miller dibintangi Tilda Swinton dan Idris Alba.

Istilah ini diciptakan Tzvetan Todorov tahun 1969, tapi akarnya dari Aristoteles.

1. Dua Dunia: Fabula dan Syuzhet.

Kaum formalis Rusia membedakan dua hal yang selalu kita campur.

Fabula adalah kronologi mentah. A lahir, A jatuh cinta, A dikhianati, A mati. Urutan waktu alami.

Syuzhet adalah bagaimana fabula itu disajikan. Film bisa mulai dari A mati dulu, baru flashback ke jatuh cinta. Cerita detektif mulai dari mayat, padahal pembunuhan terjadi di akhir fabula.

Naratologi modern menemukan: kekuasaan ada di syuzhet, bukan di fabula. Siapa yang mengontrol urutan cerita, dia mengontrol makna. Itu sebabnya pemerintah dan media selalu berebut syuzhet. Pajak yang sama bisa diceritakan sebagai "keberpihakan" atau "penindasan", tergantung syuzhet mana yang duluan dibuka.

2. Tiga Perangkat Utama.

Gerard Genette, bapak naratologi Prancis, membongkar mesin cerita jadi tiga:

a. Waktu (Order, Duration, Frequency). Kapan cerita diceritakan tidak penting, yang penting kapan diceritakan dalam cerita. Indonesia sangat jago memainkan ini. Masa lalu Orde Baru diceritakan sebagai nostalgia (durasi diperlambat), masa kini diceritakan sebagai krisis (durasi dipercepat), masa depan diceritakan sebagai "Indonesia Emas" (frekuensi diulang terus).

b. Modus (Jarak dan Fokus). Siapa yang melihat? Ada narator yang tahu segalanya (omniscient), seperti penulis sejarah resmi. Ada narator yang hanya tahu apa yang dilihat tokoh (focalization internal), seperti novel Pramoedya. Di Muangthai, narasi tentang monarki selalu menggunakan focalization eksternal: kita hanya boleh melihat dari luar istana, tidak pernah dari dalam.

c. Suara (Voice). Siapa yang berbicara? Ini yang paling politis. Dalam taksonomi pajak, suara yang berbicara selalu negara: "warga wajib...". Tidak pernah warga yang bersuara: "negara wajib...". Naratologi mengajarkan, ganti suaranya, ganti ceritanya.

3. Mengapa Naratologi Penting Sekarang?

Karena kita hidup di zaman krisis kepantasan narasi. Semua orang punya syuzhet sendiri.

TikTok memotong fabula jadi syuzhet 15 detik. Pajak yang kompleks jadi "gagasan pemerintah jahat". Mobil listrik bebas pajak demi "penyelamatan bumi". Transaksi seksual nirpajak jadi "konten edukasi". Kita tidak lagi kekurangan fakta, kita kekurangan kemampuan membaca bagaimana fakta itu dirangkai.

Naratologi bukan teori sastra yang mengawang. Ia adalah alat bedah untuk melihat: siapa yang memotong ceritamu, siapa yang mempercepat atau memperlambat langkah nasibmu, siapa yang bikin cerita hoaks, dan siapa yang meminjam suaramu untuk menceritakan kepentingannya.

Belajar Naratologi berarti belajar tidak mudah percaya pada cerita, bahkan cerita yang kita gubah sendiri.

 

Editor: Caecilia Eersta