OLEH: JAYA SUPRANA
ASKARA - Sejak tahun 1880-an, pianoforte standar punya 88 tuts: 52 putih, 36 hitam, dari A0 sampai C8. Tujuh oktaf plus tiga nada. Itu sudah dianggap sempurna. Steinway, Yamaha, semua patuh.
Tapi ada sekelompok pembangkang yang bertanya: kenapa harus berhenti di C8? Kenapa tidak sampai ke pangkal neraka dan ujung surga?
Merekalah penganut aliran pianoforte lebih dari 88 gamitan.
1. Sang Kakek: Bösendorfer Imperial 97.
Semuanya dimulai tahun 1900. Komposer Ferruccio Busoni ingin memainkan transkripsi Bach yang basnya sangat rendah, sampai ke C0. Piano 88 tuts tidak sampai. Dia datang ke Bösendorfer di Wina. Bösendorfer membuat monster: Imperial Grand dengan 97 tuts (C0 sampai C8). Delapan oktaf penuh.
Agar tidak membingungkan pianis biasa, 9 tuts ekstra di bass diberi warna hitam, bukan putih. Jadi dari jauh seperti ada tutup. Suaranya? Bukan untuk dimainkan setiap hari, tapi untuk resonansi. Ketika kamu injak pedal, 9 senar ekstra itu ikut bergetar secara simpatik, membuat seluruh piano berdengung seperti katedral. Debussy dan Bartók langsung jatuh cinta.
2. Sang Raksasa Modern: Stuart & Sons 108.
Jika Bösendorfer menambah di bawah, Stuart & Sons dari Australia menambah di dua sisi.
Tahun 2000 mereka meluncurkan piano 108 tuts: dari C0 sampai B8. Sembilan oktaf penuh. Lebarnya 2,9 meter, lebih panjang dari Steinway Concert Grand.
Kenapa 108? Karena pendirinya, Wayne Stuart, percaya piano harus mengalahkan orkestra. Kontra-bassoon bisa sampai Bb0, piccolo bisa sampai C8. Jadi piano harus mencakup semua. Pianis yang memainkannya bilang rasanya seperti menyetir truk: tuts paling atas suaranya sudah seperti lonceng kaca, hampir tidak terdengar nadanya, tapi terasa.
3. Untuk Apa?
Pertanyaan orang awam: buat apa nambah tuts yang hampir tidak pernah dipakai? Jawabannya tiga:
a. Resonansi, bukan nada. Seperti Bösendorfer, senar ekstra berfungsi sebagai radiator. Kamu mainkan C mayor di tengah, senar C0 di ujung ikut bergetar. Piano jadi lebih kaya.
b. Masa depan komposisi. Komposer modern seperti La Monte Young dan Stuart Greenbaum memang menulis untuk C0 dan C#8. Mereka butuh kanvas lebih besar.
c. Status filosofis. 88 adalah kompromi industri, bukan hukum alam. Sama seperti manusia sepakat sehari 24 jam. Menambah tuts adalah perlawanan terhadap standardisasi. Ini mengatakan: instrumen harus mengikuti imajinasi, bukan imajinasi mengikuti pabrik.
Tentu ada mudaratnya. Piano 97 dan 108 harganya Rp 3-4 Miliar, beratnya 600 kg, tidak muat di lift apartemen, dan tukang stem piano akan mengutukmu karena harus stem 20 senar tambahan.
Tapi setiap kali kamu duduk di depannya dan menekan C0 — nada yang lebih rendah dari daya pendengaran manusia, yang getarnya hanya bisa dirasakan di dada — kamu mengerti kenapa 88 kadang memang tidak cukup.
Karena musik, pada akhirnya, tidak ingin berhenti di A0 dan C8.