ASKARA - Aspirasi pembentukan Provinsi Aceh Leuser Antara (ALA) kembali mengemuka. Kali ini, dukungan datang dari kalangan pemuda dan mahasiswa ALA di Jakarta yang menilai perjuangan tersebut perlu dikawal dengan kajian, data dan mekanisme konstitusional.
Ketua Harian Aliansi Pemuda dan Mahasiswa ALA Pusat, Tiro Irawan, menyampaikan sikap tersebut di Jakarta, Jumat (2/10/2026). Ia menegaskan, aspirasi ALA bukan sekadar persoalan perubahan batas administratif, tetapi berkaitan dengan harapan masyarakat mengenai pemerataan pembangunan dan pelayanan publik.
“Kami dari Aliansi Pemuda dan Mahasiswa ALA Pusat menyatakan dukungan terhadap aspirasi pembentukan Provinsi Aceh Leuser Antara. Bagi kami, ini bukan sekadar persoalan perubahan batas administratif, tetapi bagian dari aspirasi masyarakat yang perlu didengar, dikaji, dan diperjuangkan melalui mekanisme yang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan,” ujar Tiro.
Menurut Tiro, momentum yang kembali menguat tersebut harus dijawab dengan konsolidasi yang sehat. Pemuda dan mahasiswa, katanya, tidak cukup hanya menyuarakan tuntutan, tetapi perlu menghadirkan gagasan dan kajian yang dapat dipertanggungjawabkan.
“Kami tidak ingin perjuangan ini berhenti pada spanduk, pernyataan, atau wacana. Pemuda dan mahasiswa harus hadir dengan gagasan, kajian, data, serta gerakan yang terukur. Yang terpenting, seluruh proses harus ditempuh secara damai dan konstitusional,” tegasnya.
Dalam wacana yang berkembang, ALA mencakup enam wilayah, yakni Aceh Tengah, Bener Meriah, Gayo Lues, Aceh Tenggara, Aceh Singkil dan Kota Subulussalam. Wacana ALA sendiri bukan gagasan baru dan telah muncul dalam perjalanan politik-administratif Aceh sejak lama.
Tiro menyebut sejumlah persoalan yang menurutnya perlu dikaji dalam konteks aspirasi tersebut, antara lain pemerataan pembangunan, akses pelayanan publik, pengelolaan potensi ekonomi daerah, termasuk Kopi Gayo dan kawasan Leuser, serta pengembangan pariwisata.
“Kami memahami bahwa pembentukan daerah otonom baru memiliki mekanisme dan persyaratan yang harus dipenuhi. Karena itu, kami mendorong agar seluruh pihak mengedepankan kajian, dialog, dan langkah-langkah yang sesuai dengan hukum,” katanya.
Ia juga mengajak pemuda dan mahasiswa dari wilayah yang masuk dalam wacana ALA untuk mengambil bagian dalam proses tersebut. Menurutnya, generasi muda memiliki ruang untuk memperkuat aspirasi melalui riset, diskusi dan gagasan pembangunan.
“Ini adalah ruang bagi generasi muda untuk menunjukkan bahwa kita tidak hanya mampu berbicara tentang masa depan daerah, tetapi juga mampu menghadirkan gagasan dan kajian untuk masa depan ALA. Pemuda dan mahasiswa harus menjadi bagian dari proses itu,” tuturnya.
Aliansi Pemuda dan Mahasiswa ALA Pusat, lanjut Tiro, akan membangun komunikasi dan membuka ruang diskusi mengenai sejarah, sosial-ekonomi, potensi daerah hingga aspek hukum pembentukan daerah otonom baru.
“Kami ingin memastikan bahwa aspirasi ALA dikawal dengan cara yang bermartabat, rasional, damai, dan konstitusional. Pemuda dan mahasiswa siap menjadi bagian dari proses tersebut,” pungkas Tiro Irawan, putra Gayo yang kini aktif di Jakarta.