AMSI-UMN Bedah News Creator, Peluang Revenue Baru bagi Media
ASKARA - Industri media digital menghadapi perubahan besar seiring bergesernya kebiasaan masyarakat dalam mengonsumsi informasi. Di tengah tantangan tersebut, kolaborasi media mainstream dengan news creator dinilai dapat membuka peluang baru, termasuk dalam pengembangan model bisnis dan revenue media.
Persoalan itu menjadi bahasan utama Diskusi Bulanan September 2026 yang digelar Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) bersama Universitas Multimedia Nusantara (UMN) di Hall Dewan Pers, Jakarta, Selasa (29/9/2026).
Diskusi mengangkat tema “News Creator sebagai Peluang Revenue Baru bagi Media” dan dihadiri puluhan mahasiswa UMN, insan pers serta masyarakat sipil.
Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua Umum AMSI Wahyu Dhyatmika, Rektor UMN Ir. Andrey Andoko, M.Sc., Ph.D, serta Pemimpin Redaksi Tirto.id Rachmadin Ismail.
Dalam sambutannya, Wahyu mengatakan industri jurnalistik perlu terus mencari konstruksi baru agar tetap relevan dengan perkembangan zaman. Menurutnya, perubahan perilaku audiens tidak menghilangkan kebutuhan masyarakat terhadap informasi yang teruji dan terverifikasi.
Dalam paparannya, Wahyu melihat kehadiran news creator sebagai salah satu respons terhadap perubahan minat generasi muda dalam mengonsumsi berita.
Menurut dia, kreator memiliki sejumlah keunggulan, antara lain kekuatan personalitas, kemampuan berpikir sesuai karakter platform, kelincahan dalam memproduksi konten, serta komunitas yang telah terbentuk.
Karena itu, media mainstream dinilai perlu mengembangkan strategi redaksi yang memungkinkan mereka belajar, mengintegrasikan, hingga membangun kemitraan dengan kreator konten.
“News creator adalah jawaban dari rendahnya generasi muda dalam membaca berita,” kata Wahyu dalam diskusi tersebut.
Sementara itu, Rektor UMN Andrey Andoko melihat perubahan lanskap media telah berlangsung sejak era mesin pencari sekitar 2013. Perubahan tersebut kemudian semakin kuat ketika media sosial menjadi salah satu sumber utama masyarakat memperoleh informasi.
Menurut Andrey, kehadiran mesin pencari mengubah pola kunjungan audiens dari homepage media. Perkembangan media sosial kemudian membuat arus informasi semakin masif dan dipersonalisasi melalui algoritma.
Kondisi tersebut, kata dia, menuntut media mainstream untuk melakukan adaptasi agar tetap mampu menjangkau audiens di tengah disrupsi digital.
“Perlunya adaptasi media mainstream pada era disrupsi saat ini,” ujarnya.
Pengalaman dari ruang redaksi juga disampaikan Pemimpin Redaksi Tirto.id Rachmadin Ismail. Ia menilai media mainstream perlu memiliki unique selling proposition (USP) yang jelas agar mampu menawarkan nilai berbeda sekaligus membangun hubungan dengan audiens.
Tirto.id, kata Rachmadin, melakukan penyesuaian di dapur redaksi dengan membagi alur kerja antara tim website dan tim media sosial.
Tim website diarahkan melayani audiens yang lebih matang melalui konten yang kualitatif, mendalam, lengkap, berbasis riset dan disesuaikan dengan kebutuhan pembaca.
Sementara tim media sosial diarahkan menjangkau audiens yang lebih muda melalui konten yang lebih santai, jenaka dan visual sesuai karakter masing-masing platform.
Perbedaan pendekatan tersebut tidak berarti menurunkan standar jurnalistik. Sebaliknya, setiap kanal membutuhkan strategi penyajian yang berbeda agar pesan jurnalistik dapat menjangkau karakter audiens yang beragam.
Diskusi AMSI dan UMN tersebut sekaligus membuka pembahasan mengenai hubungan antara jurnalisme, kreator konten dan model bisnis media.
Kolaborasi antara media mainstream dan news creator dinilai dapat dikembangkan dalam berbagai aspek, mulai produksi dan distribusi hingga monetisasi konten, dengan tetap menjaga kualitas dan kredibilitas informasi.
Di tengah perubahan pola konsumsi berita, tantangan media bukan hanya bagaimana mempertahankan pembaca, tetapi juga bagaimana menghadirkan informasi berkualitas melalui kanal yang memang digunakan masyarakat.
Forum tersebut menekankan bahwa inovasi model bisnis perlu berjalan beriringan dengan penguatan literasi media dan ekosistem informasi yang sehat.
Dengan demikian, news creator tidak semata dipandang sebagai pesaing media mainstream, tetapi juga dapat menjadi bagian dari ekosistem baru yang membuka ruang kolaborasi dan peluang revenue bagi industri pers.
Penulis: Azmi, M.H

Komentar