Klarifikasi Mamah Papua: Saya Dijebak LSM, Video Pesta Babi Dipotong dan Dipelintir
ASKARA – Seorang tokoh perempuan Papua yang dikenal sebagai “Mamah Papua” atau Yasinta Moiwen mengaku dijebak oleh sebuah LSM yang membuat film dokumenter berjudul Pesta Babi. Pengakuan itu disampaikannya dalam video yang kini viral di media sosial.
Dalam video yang diterima askara, pada Sabtu (22/5), ia mengklarifikasi bahwa dirinya merasa dijebak oleh oknum LSM yang membuat film dokumenter tersebut.
“Saya datang karena diundang untuk acara syukuran adat. Tidak tahu kalau direkam diam-diam, lalu dipotong untuk kepentingan mereka,” tegas Yasinta Moiwen. Menurut penjelasannya, pada awal April 2026, ia dihubungi oleh sebuah LSM yang mengaku akan membuat film dokumenter tentang ketahanan pangan dan budaya Papua. Mamah Papua diminta hadir dalam acara bakar batu di salah satu kampung di pegunungan tengah.
Dalam video tersebut, Yasinta menyebut dirinya awalnya diundang untuk menghadiri sidang di Jayapura terkait kegiatan WWF.
“Saya pikir ini kegiatan budaya untuk angkat harkat perempuan Papua. Ternyata video yang beredar hanya potongan 2 menit yang dipelintir. Narasinya seolah saya kampanye hal yang bertentangan dengan nilai yang saya pegang,” ungkap wanita kelahiran Distrik Riwayat, Kampung Budiken, Kabupaten Merauke, Provinsi Papua Selatan, 10 Oktober 1964.
Namun, ia justru dibawa ke Wamena untuk syuting sebuah “pesta” yang belakangan dijadikan film oleh LSM. “Demi Tuhan, saya tidak tahu. Tujuan buat itu saya tidak tahu. Saya dibohongin,” ujarnya.
Yasinta menegaskan tidak pernah menerima bayaran apapun. Ia mengaku hanya diinapkan selama 5 hari di sebuah hotel di Makassar, lalu dipulangkan tanpa ada bantuan atau uang seperti yang dijanjikan. “Mereka sampaikan janjikan mau kasih uang, tapi tidak ada. Saya tidak dapat apa-apa,” tegasnya.
Ia menyebut, tim LSM tersebut tidak pernah meminta izin tertulis, tidak menjelaskan skenario utuh, dan tidak memberikan hak untuk melihat hasil edit sebelum dipublikasikan.
Mamah Papua juga membantah tudingan bahwa dirinya menerima bayaran untuk mendukung agenda tertentu. “Saya tidak dibayar sepeser pun. Saya hadir sebagai mama, sebagai tokoh adat. Kalau tahu videonya akan dipakai untuk memecah belah, saya tidak akan datang,” katanya sambil menahan tangis.
Atas kejadian ini, Mamah Papua mengaku kecewa karena nama baiknya dan komunitas mama-mama Papua ikut terseret, karena film tersebut beredar tanpa persetujuannya. Ia menyatakan tidak tahu menahu film itu akan dipublikasikan dan dipotong sedemikian rupa. “Kami di Papua sudah cukup luka. Jangan bawa nama kami untuk kepentingan yang kami tidak pahami,” tambahnya.
Langkah Hukum dan Imbauan
Dalam konferensi pers pada Jumat (22/5), Kuasa hukum Mamah Papua, Yohanes Wenda, S.H., menyatakan akan mengirim somasi terbuka kepada LSM yang memproduksi film tersebut. Pihaknya meminta klarifikasi, permintaan maaf, dan penarikan video dari seluruh platform.
“Kami punya bukti undangan, chat, dan saksi bahwa klien kami tidak tahu menahu soal narasi yang dibangun dalam film itu. Ini dugaan pelanggaran UU ITE dan UU Perfilman terkait manipulasi konten,” jelas Yohanes.
Mamah Papua mengimbau seluruh masyarakat untuk tidak cepat menghakimi dan menyebarkan potongan video tanpa konteks utuh. Ia juga meminta LSM dan pembuat film untuk lebih beretika saat melibatkan masyarakat adat.
“Hargai kami. Jangan jadikan mama-mama Papua sebagai objek. Kalau mau angkat budaya, duduk, minum teh, bicara baik-baik,” pesannya.
Hingga berita ini diturunkan, pihak LSM yang disebut belum memberikan tanggapan resmi.

Komentar