Minggu, 21 April 2024 | 17:52
OPINI

Meninjau Kepemimpinan Digital Nadiem Makarim sebagai Mendikbudristek pada Kurikulum Merdeka

Meninjau Kepemimpinan Digital Nadiem Makarim sebagai Mendikbudristek pada Kurikulum Merdeka
Nadiem Makarim (Dok IG Nadiem)

Oleh: Amallia Lestari *

ASKARA - Dalam konteks dinamika global yang terus berkembang, kita menyaksikan pergeseran menuju era digitalisasi yang mempengaruhi setiap aspek kehidupan. Revolusi teknologi informasi dan komunikasi mengubah cara kita bekerja, belajar, dan berinteraksi. Kecepatan perkembangan teknologi telah menciptakan lanskap baru yang menuntut adaptasi cepat dari individu dan masyarakat. Era digitalisasi membawa potensi inovasi besar dalam berbagai sektor, mulai dari ekonomi hingga pendidikan. Pendidikan, sebagai fondasi pembangunan suatu negara, menghadapi tantangan dan peluang signifikan di tengah arus perubahan ini. 

Di tengah dinamika dunia dan tantangan pendidikan yang semakin kompleks, perlunya pemimpin yang visioner dan berkomitmen menjadi semakin mendesak. Pemimpin yang dapat memimpin transformasi pendidikan, mengintegrasikan teknologi secara bijak, dan memastikan inklusivitas pendidikan di tengah perkembangan peradaban menjadi kunci untuk memandu Indonesia menuju masa depan yang lebih cerah. Maka dari itu, diperlukan pemimpin yang menerapkan gaya kepemimpinan digital.

Apa Itu Kepemimpinan Digital?

Pemimpin merupakan individu yang mengaplikasikan kemampuan berpikirnya secara aktif, membuat perencanaan, mengkoordinasikan, melakukan percobaan, dan mengarahkan aktivitas kerja untuk mencapai tujuan bersama (Wulandari, dkk., 2021). Seorang pemimpin di era digital perlu menunjukkan sifat dan tindakan yang mendukung tercapainya transformasi digital (Mwita & Joanthan, 2019). Kemampuan kepemimpinan digital memungkinkan seseorang menjadi pemimpin yang dapat memanfaatkan teknologi dan data untuk mengarahkan suatu organisasi (Mukhlasin, 2019). Dekanawati, dkk. (2023) mengatakan bahwa penggunaan teknologi tidak terbatas pada tujuan pengiriman pesan semata, melainkan seorang pemimpin digital harus memiliki kemampuan untuk menggerakkan organisasinya dalam berbagai situasi. Konsep ini menekankan integrasi teknologi dalam strategi kepemimpinan, memungkinkan fleksibilitas, inovasi, dan respons cepat terhadap perubahan. Pemimpin digital diharapkan memiliki keterampilan berbasis teknologi, memfasilitasi kolaborasi daring, dan mendorong budaya organisasi yang terbuka terhadap perubahan. Kepemimpinan digital juga berkaitan erat dengan konsep pembelajaran berkelanjutan, di mana pemimpin terus belajar dan mengadopsi teknologi baru untuk meningkatkan kinerja organisasi. Khususnya, mereka yang berperan sebagai pengambil keputusan perlu memiliki pola pikir digital agar dapat secara akurat mengidentifikasi serta mengevaluasi peluang dan tantangan yang terkait dengan digitalisasi ini (Hensellek, 2020).

Kepemimpinan Digital Nadiem Makarim melalui Kurikulum Merdeka

Mendikbudristek, Nadiem Makarim, merupakan sosok pemimpin yang menerapkan gaya kepemimpinan digital, salah satunya melalui kebijakan Kurikulum Merdeka. Kurikulum Merdeka adalah terobosan dalam bidang pendidikan yang dimaksudkan untuk meningkatkan mutu dan relevansi pembelajaran dengan menggabungkan konsep kebebasan, inovasi, dan kemampuan adaptasi siswa (Gumilar dkk., 2023). Penerapan Kurikulum Merdeka dilatarbelakangi oleh salah satunya karena kurang optimalnya pemanfaatan teknologi digital dalam proses pembelajaran yang dijalankan oleh Kurikulum 2013. Nadiem menyatakan “Transformasi digital merupakan kunci untuk memajukan sistem pendidikan Indonesia” sehingga para guru dan pelajar dituntut untuk dapat memanfaatkan teknologi digital agar pembelajaran menjadi lebih menarik dan bermakna serta siap menghadapi perkembangan zaman (Fahlevi, 2023). Pada Kurikulum Merdeka, terjadi penguatan keterampilan teknologi digital dengan memasukkan mata pelajaran Informatika yang menjadi kewajiban, termasuk pengembangan kemampuan komputasional dan kemampuan berpikir sistem.

Penguatan Digitalisasi Pendidikan melalui PembaTIK dan Kihajar STEM

Nadiem melaksanakan program PembaTIK dan Kihajar STEM yang merupakan dua program unggulan yang bertujuan untuk memperkuat transformasi digital dalam mendukung penerapan Kurikulum Merdeka. Pembelajaran Berbasis TIK (PembaTIK) adalah program untuk meningkatkan kompetensi guru dalam kegiatan belajar, mengajar, dan berkarya, guna mendukung inovasi pembelajaran dalam Kurikulum Merdeka melalui pemanfaatan teknologi. Peningkatan kompetensi TIK guru mengikuti standar yang terbagi dalam empat level: literasi, implementasi, kreasi, serta berbagi dan berkolaborasi. Dilansir dari situs resmi kemdikbud.go.id (2023), pada tahun 2023, 79.919 peserta mengikuti PembaTIK dan menghasilkan 39 Duta Teknologi Kemendikbudristek. Sementara itu, Kihajar (Kita Harus Belajar) STEM adalah platform eksplorasi bagi peserta didik dari SD, SMP, dan SMA/SMK yang bertujuan untuk melatih kemampuan berpikir kritis, kreatif, serta kemampuan berkolaborasi dan berkomunikasi dalam menangani proyek atau memecahkan masalah dengan pendekatan STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics). Pada tahun 2023, Kihajar STEM berhasil menarik partisipasi dari 65.064 siswa, melalui tahap basic, intermediate, advance, dan final, menghasilkan 20 tim Gen Kihajar terbaik. 

Digitalisasi Kurikulum Merdeka melalui Platform Daring

Digitalisasi Kurikulum Merdeka di bawah kepemimpinan Nadiem mencakup implementasi melalui berbagai platform daring yang digunakan untuk mendukung proses belajar-mengajar. Peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan dari berbagai satuan pendidikan diberikan akun belajar.id. Dengan keberadaan akun tersebut, mereka dapat mengakses berbagai kebutuhan dalam kegiatan belajar mengajar, termasuk platform Kemendikbudristek dan berbagai aplikasi yang mempermudah proses pembelajaran, baik secara tatap muka maupun jarak jauh. Penggunaan akun belajar.id tidak dikenakan biaya alias gratis.

Ada juga Platform Merdeka Mengajar (PMM) yang merupakan platform edukasi dan teman penggerak berbasis teknologi untuk guru dan kepala sekolah dalam kegiatan mengajar, belajar, dan berkarya. PMM dirancang untuk mendukung pelaksanaan Kurikulum Merdeka dengan memberikan dukungan kepada guru dalam mencari referensi, menemukan inspirasi, dan meningkatkan pemahaman dalam mengimplementasikan Kurikulum Merdeka. Data bulan Juni tahun 2023 dalam situs resmi guru.kemdikbud.go.id (2023) menunjukkan lebih dari 2,6 juta pendidik di Indonesia telah menggunakan PMM. Inovasi PMM lahir dengan tujuan untuk menghindari stagnasi dan mengadopsi digitalisasi sesuai perkembangan zaman.

Platform lainnya seperti SIPLah (Situs Informasi Pengadaan Sekolah) juga mendukung implementasi Kurikulum Merdeka. SIPLah merupakan platform digital dari Kemendikbudristek yang mendukung satuan pendidikan dalam proses pembelian barang dan jasa melalui mitra pengelola pasar daring SIPLah. Semua kegiatan pelaksanaan SIPLah telah memenuhi persyaratan dan diatur sesuai dengan ketentuan yang tercantum dalam Permendikbud Nomor 18 Tahun 2022. Data bulan Oktober tahun 2022 menunjukkan bahwa SIPLah berhasil menghubungkan lebih dari 223 ribu satuan pendidikan dengan 100 ribu penyedia barang dan jasa melalui 15 mitra pengelola pasar daring yang tersebar di seluruh Indonesia (siplah.kemdikbud.go.id, 2022).

Selain itu, terdapat platform Rapor Pendidikan Indonesia melalui situs raporpendidikan.kemdikbud.go.id yang bertujuan mendukung satuan pendidikan dan dinas pendidikan dalam memahami situasi mereka dan mengimplementasikan perbaikan. Platform ini menyajikan hasil dari Asesmen Nasional serta data lainnya mengenai pencapaian hasil belajar di satuan pendidikan yang disusun dalam tampilan terintegrasi. Dengan ini, pemerintah daerah dapat mengetahui hambatan pendidikan di satuan pendidikan sebagai bahan refleksi yang kemudian akan menghasilkan perbaikan berbasis data.

Dengan memanfaatkan teknologi melalui berbagai platform daring, Nadiem berkomitmen untuk menjadikan Kurikulum Merdeka lebih responsif terhadap tuntutan zaman, meningkatkan keterlibatan siswa, dan mempersiapkan generasi yang handal dalam menghadapi perubahan di era digital. Maka dari itu, berdasarkan penjelasan di atas, Nadiem dapat dikatakan sebagai sosok pemimpin yang menerapkan gaya kepemimpinan digital, di mana ia berhasil mengintegrasikan teknologi dengan visi inovatifnya untuk mencapai transformasi positif dalam sektor pendidikan Indonesia.

Secara keseluruhan, kepemimpinan digital Nadiem sebagai Mendikbudristek pada Kurikulum Merdeka menunjukkan upaya yang signifikan dalam mengadaptasi pendidikan Indonesia dengan era digital. Penerapan berbagai platform, program, dan inovasi digital memberikan kontribusi positif dalam meningkatkan akses pendidikan, mengoptimalkan pembelajaran, dan memberikan kesempatan inovatif bagi siswa dan guru. Untuk meningkatkan keberlanjutan implementasi Kurikulum Merdeka, perlu adanya strategi yang berkelanjutan dalam pelatihan guru terkait teknologi, pengembangan konten digital yang relevan, serta peran aktif dalam memastikan inklusivitas akses pendidikan digital di seluruh wilayah Indonesia. Selain itu, peningkatan kolaborasi dengan berbagai pihak terkait dan evaluasi terus menerus akan menjadi langkah penting untuk memastikan kesuksesan dan perkembangan berkelanjutan dalam era pendidikan yang semakin terdigitalisasi.

 

* Mahasiswa Fakultas Ilmu Administrasi Negara, Universitas Indonesia

Komentar