Kamis, 13 Juni 2024 | 23:15
OPINI

Viva Argentina

Viva Argentina
Ilustrasi Sepakbola Argentina (Dok Pixabay)

ASKARA - Naskah ini mulai ditulis pada pagi hari, Minggu 18 Desember 2022, sebagai Hari Nasional Qatar yang kebetulan juga merupakan hari final The Clash Of The Titans antara Argentina melawan Perancis memperebutkan gelar juara Piala Dunia 2022 di Stadion Lusail, Doha, Qatar. Maka belum diketahui siapa yang menang.

Pertempuran Argentina melawan Perancis benar-benar menegangkan sebab kedua timnas sama-sama sudah dua kali menjadi juara dunia dan masing-masing berambisi untuk tiga kali menjadi juara dunia demi mendekati prestasi Jerman yang empat kali dan Brasil yang lima kali juara dunia, namun sama-sama tersingkir terlebih dahulu ketimbang Argentina dan Perancis di Piala Dunia 2022.

Argentina menjadi juara dunia pada 1978 dan 1986, sementara Perancis juara dunia pada 1998 dan 2018.

Argentina memiliki mahanbintang legendaris Lionel Messi, sementara Perancis punya superhero muda sakti-mandraguna, Kylian Mbappe.

Sejak 1930, Argentina sudah 12 kali berhadapan dengan Perancis di mana Argentina berada di atas angin sebab 6 kali berhasil menaklukkan Perancis, tiga kali seri, serta tiga kali Perancis mengalahkan Argentina.

Mayoritas khalayak ramai termasuk para pekerja imigran dari Asia Selatan di Qatar berpihak ke Argentina mungkin akibat Perancis pernah berperan sebagai penjajah.

Untuk mendukung Messi dan kawan-kawan merebut Piala Dunia, berduyun-duyun puluhan ribu warga Argentina khusus terbang dari Buenos Aieres ke Doha untuk memadati stadion Lusail pada 18 Desember 2022.

Sebagai seorang warga Argentina, adalah wajar bahwa Sri Paus Fransiskus berdoa agar timnas Argentina menjadi juara pada perang bola 2022 di Qatar.

Secara kultural, terus terang saya dalam posisi dilematis bak menghadapi masalah buah silakama.

Sebagai pembelajar menulis, saya mengagumi maha sastrawan Argentina, Jorge Luis Borges, namun juga mengagumi maha sastrawan Perancis, Jean Paul Satre.

Sebagai pembelajar musik pianoforte, saya mengagumi maha komponis Argentina, Alberto Evaristo Ginaresta, namun juga mengagumi maha komponis Perancis, Achilee Claude Debussy.

Saya mengagumi tradisi sepakbola Argentina dengan tokoh legendaris sang maha bintang Lionel Messi sama halnya saya juga mengagumi tradisi sepakbola Perancis dengan sang the Rising Star, Kylian Mbappe.

Terus terang, secara pribadi saya kurang suka Argentina sejak Diego Maradona curang menampar bola dengan tangan agar masuk gawang Inggris pada Piala Dunia 1986 kemudian jumawa mengklaimnya sebagai La mano de Dios alias Tangan Tuhan.

Namun apa artinya ketidak-sukaan seorang bukan siapa-siapa seperti saya dibandingkan dengan kesukaan jutaan pendukung Argentina termasuk Sri Paus Fransiskus yang sangat saya hormati.

Tercatat dengan tinta emas pada lembaran sejarah sepakbola bahwa dengan susah payah lewat drama perpanjangan waktu serta adu penalti, Argentina berjaya mengalahkan Perancis dengan skor laga 3-3 plus skor adu penalti 4-2 = 7-5.


Dengan demikian, Argentina resmi dinobatkan sebagai juara Piala Dunia 2022. VIVA ARGENTINA!

(Insya Allah, pada suatu hari di masa depan Indonesia akan ikut berlaga di Piala Dunia sehingga saya dapat berseru 

HIDUP INDONESIA! MERDEKAAAAAAAA!

Komentar