Senin, 18 Oktober 2021 | 05:08
NEWS

Soal Pembongkaran Patung Soeharto hingga AH Nasution, Fadli Zon: Ini Kesalahan yang Fatal

Soal Pembongkaran Patung Soeharto hingga AH Nasution, Fadli Zon: Ini Kesalahan yang Fatal
Patung Soeharto (Dok Istimewa)

ASKARA - Politisi Partai Gerindra, Fadli Zon menyebutkan, pembongkaran patung tokoh-tokoh yang terlibat dalam penumpasan Gerakan 30 September 1965 (G30S) yang dipajang di Museum Darma Bhakti di Markas Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad) merupakan kesalahan yang fatal.

Patung-patung yang dibongkar itu, yakni patung Presiden kedua RI Jenderal Soeharto, patung Letnan Jenderal TNI Sarwo Edhie Wibowo, patung Jenderal AH Nasution, serta tujuh diorama tokoh revolusi lainnya.

"Tidak bisa benda museum seenaknya diangkut atas permintaan seseorang. Apalagi menyangkut tonggak sejarah penting bangsa kita. Ini kesalahan yang fatal," tulis Fadli Zon di akun Twitter @fadlizon, Selasa (28/9). 

Kolonel Infanteri Haryantana mengatakan, pembongkaran patung-patung tersebut dilakukan atas permintaan Letnan Jenderal TNI (Purn) Azmyn Yusri Nasution.

Azmyn merupakan orang yang menyarankan pembuatan patung-patung tersebut saat dirinya menjadi sebagai Pangkostrad, pada 9 Agustus 2011 hingga 13 Maret 2012.

Alasan dibongkarnya patung-patung tersebut untuk ketenangan lahir dan batin Azmyn. Hal itu disampaikan Azmyn kepada Letjen Dudung Abdurachman pada saat itu.

"Letnan Jenderal TNI (Purn.) Azmyn Yusri Nasution meminta patung-patung yang telah dibuatnya untuk dibongkar demi ketenangan lahir dan batin, sehingga pihak Kostrad mempersilakan," kata Haryantana, dalam keterangan pers, Senin kemarin (27/9).

Sebelumnya, kabar hilangnya patung-patung tersebut mencuat setelah disampaikan oleh Mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo saat menjadi pembicara dalam webinar bertajuk 'TNI Vs PKI' pada Minggu (26/9). 

Gatot dalam kesempatan itu mengaitkan hilangnya patung tokoh-tokoh penumpasan G30 S itu dengan eksistensi Partai Komunis Indonesia (PKI). Menurut Gatot, keberadaan komunisme di Indonesia bahkan menyusup ke tubuh TNI. 

"Bukti nyata jurang kehancuran itu adalah persis di depan mata. Baru saja terjadi adalah Museum Kostrad, betapa diorama yang ada di Makostrad, dalam Makostrad ada bangunan, bangunan itu adalah kantor tempatnya Pak Harto (Soeharto) dulu, di situ direncanakan gimana mengatasi pemberontakan G30SPKI di mana Pak Harto sedang memberikan petunjuk ke Pak Sarwo Edhie sebagai Komandan Resimen Parako dibantu oleh KKO," kata Gatot.

"Ini menunjukkan bahwa mau tidak mau kita harus akui, dalam menghadapi pemberontakan G30SPKI, peran Kostrad, peran sosok Soeharto, peran Kopassus yang dulu Resimen Para Komando dan Sarwo Edhie, dan peran Jenderal Nasution, peran KKO jelas akan dihapuskan dan (tiga) patung itu sekarang tidak ada, sudah bersih," sambungnya.

Gatot mengatakan, berdasarkan informasi yang didapatnya dari utusannya yang ia perintahkan untuk berkunjung ke Museum Darma Bhakti di Makostrad, bukan cuma patung Soeharto, Sarwo Edhie, dan AH Nasution saja yang hilang, tetapi juga diorama 7 pahlawan revolusi turut hilang.

"Saya mendapat informasi--walau bagaimanapun saya mantan Pangkostrad--baru akhir akhir ini disampaikan bahwa diorama bukan hanya patung Pak Harto, patung Pak Sarwo Edhie, sama Pak Nasution tapi juga 7 pahlawan revolusi sudah tidak ada di sana, dan khusus di ruangan Pak Harto mencerminkan penumpasan pemberontakan G30SPKI dikendalikan oleh Pak Harto di markasnya," katanya.

Gatot mengaku, awalnya dia tidak percaya bahwa patung-patung dan diorama itu hilang. Ia baru percaya setelah utusannya itu memberikan bukti berupa foto dan video usai berkunjung ke museum tersebut.

"Maka saya katakan ini kemungkinan sudah ada penyusupan paham-paham kiri, paham-paham komunis di tubuh TNI," kata Gatot.

Dikatakan Gatot, peristiwa pasca-G30S melahirkan dendam sejumlah kelompok yang merupakan keturunan biologis anggota PKI. Menurut dia, mereka telah menjelma menjadi komunis gaya baru yang bercita-cita menguasai Indonesia.

Menurut Gatot, keberadaan komunisme di Indonesia bahkan menyusup ke tubuh TNI. 

"Menyusup ke semua lini kekuasaan. Ini yang sangat berbahaya. Bahkan sampai ke TNI juga," katanya.

Komentar