Selasa, 28 September 2021 | 23:50
OPINI

Pengalaman Naniek S Deyang Selamat dari Kondisi Kritis Covid & Keajaiban Sedekah

Pengalaman Naniek S Deyang Selamat dari Kondisi Kritis Covid & Keajaiban Sedekah
Ilustrasi Pasien Corona (Istimewa)

Saya tadinya tidak mau menulis kondisi saya saat di ruang isolasi. Tapi mumpung saya insomnia dan waktu pas Jumat dini hari maka saya akan bercerita keajaiban sedekah.

Saya yang hanya bisa terbaring lemah di ruang isolasi, bergerak untuk miring pun tidak mampu, sambil harus memakai masker (topeng) dari mesin oksigen dengan selang plastik besar. Di satu sisi kaki dan tangan penuh jarum (infus) berbagai macam obat. Di situ hanya saya dan Allah saja yang ada. 

Meski dilarang menengok monitor yg menayangkan saturasi, detak jantung, nadi dll saya kerap berusaha untuk menengok, untuk memastikan berapa saturasi saya kalau dada terasa sesak.

Tidak ada yang bisa saya lakukan, jangankan shalat, untuk menggerakkan bibir pun susah, karena bibir saya sudah luka terpapar oksigen yang terus menerus tidak lepas. Saat itu bulan puasa kemarin.

Satu-satunya yang bisa saya lakukan adalah meraih HP yg didekatkan perawat, dan menulis sepotong-potong karena menulis panjang nggak mampu. Saat itu yang saya ingat, saya harus bersedekah (saya pribadi bukan JMP), saya bilang ke Allah, 
"Ya Rab saya pernah membaca bahwa sedekah akan menolong hambaMU, hamba ingin janjiMu itu ya Rab, meski hampir tiap hari bersedekah saya belum melihat janjiMu utk hambaMu ini"...

Maka saya lantas berpikir, mungkin dalam kondisi susah seperti sekarang Allah justru menghendaki saya harus lebih banyak sedekah (di satu sisi posisi keuangan saya tidak lagi baik), saya tidak berpikir uang di ATM akan habis maka saya pun instruksi ke keluarga setiap hari mengambil uang saya (ATM dipegang ponakan) dan setiap hari memberi makan untuk buka semua tukang becak dan kaum dhuafa di kota Madiun dan para Nakes di ruang isolasi.

Setiap hari saya minta dibelikan makanan dengan menu paling enak dan berganti -ganti menu untuk dibagikan ke mereka. Masyaallah, saturasi yang tadinya di bawah 90, naik terus di atas 90 bahkan berhari-hari bisa sampai 100 meski memang saya masih dibantu alat mesin oksigen.

Harapan untuk hidup saya berlanjut makin membuncah, saya makin meminta keluarga terus bersedekah dalam jumlah yang lebih banyak, dan semua para Nakes terkejut, saya yang menolak pakai ventilator (saya harus tanda tangan), bisa peroleh saturasi di posisi di atas 95 sampai 100. Padahal di ruang isolasi saya termasuk kelas berat dan harus pakai ventilator (tapi saya menolak pakai ventilator).

Saat malam Takbiran Lebaran Idul Fitri ada kesedihan mendalam karena saya masih terbaring di ruang isolasi. Meski berhari-hari saturasi saya sudah 100, tapi saya belum boleh keluar dari ruang isolasi, karena harus diuji coba dengan bantuan oksigen dengan tekanan yang terus diperkecil. Maka untuk menghibur hati saya, saya minta diantar uang cash, dan uang itu saat Idul Fitri saya bagi-bagi dari tukang sapu, OB sampai ke semua perawat di ruang isolasi, karena saya berpikir mereka sama sedihnya dengan saya, harus berlebaran di ruang isolasi bersama saya dan puluhan atau mungkin ratusan pasien covid lainnya. Saya juga minta semua Nakes di ruang isolasi diberi bingkisan Lebaran.

Tak hanya itu, dari ruang isolasi, saya juga instruksi keluarga untuk bagi THR dan bingkisan ke semua karyawan dan tetangga yang dhuafa, seperti saat saya sehat di rumah. 

Saat saya dinyatakan negatif dan bisa pindah ke ruang HCU, saya minta keluarga terus bersedekah, hingga pindah di ruang biasa, dan sampai keluar di RS. 

Dua hari sampai rumah saya undang anak-anak yatim ke tempat usaha saya di Madiun (saya di dalam mobil karena baru bisa duduk belum bisa jalan), untuk menyenangkan hati mereka (anak-anak yatim) dengan boleh mengambil apa saja yang ada di toko pakain, dan retail milik saya, dan boleh makan sepuasnya di kafe milik saya juga.

Saat saya sedekah "ugal-ugalan" tersebut, saya hanya berpikir, saya kalau sehat bisa mencari lagi, tapi kalau saya mati, saya tidak bisa berbuat kebaikan. 

Hingga hari ini saya tidak pernah menghitung atau bertanya selama hampir dua bulan, berapa harta/uang yang sudah saya keluarkan untuk sedekah, karena saat sakit yang berat itu, sejatinya Anda nanti akan mengetahui bahwa "harta itu tidak berarti", namun akan berarti saat kita bagikan, karena akhirnya kita melihat "janji Allah ternyata benar"! Sedekah akan menyelamatkan kita!

Semua dokter setelah saya sembuh baru bilang, semua yang kondisinya kayak saya ternyata "lewat" atau tak terselamatkan, tapi saya yang kormobid darah tinggi, obesitas, dll, namun tanpa ventilator Alhamdulillah diberi kesempatan Allah SWT untuk sembuh, meski hampir dua bulan harus meringkuk di RS. Saya bilang ke semua dokter dan Nakes, itu semua karena kekuatan sedekah dan doa keluarga serta doa jutaan teman-teman di dunia maya dan nyata.

Jangan takutkan hartamu habis, karena saat sehat Anda masih bisa mencarinya bila hartamu habis. Namun bila sakit atau bahkan meninggal harta itu menjadi tdk ada artinya. Dan Alhamdulillah saat recovery seperti saat ini, lagi-lagi Allah memberi kemudahan, karena lagi-lagi menurut para dokter, saya sangat cepat recovery dibanding pasien long covid lainnya atau pada umumnya.

Meski sekarang berat saya berkurang 20 kg dan sangat hitam karena berjemur, saya sudah bisa shalat lima waktu dan shalat sunnah lainnya dengan berdiri, naik sepeda, berlari, dan jalan 700 meter setiap hari, dan tentu sudah aktif menulis lagi. Yang tersisa tinggal insomnia saja.

Ya Rab, kebenaran janjiMU bahwa "sedekah akan bisa menyelamatkan", mohon maaf bila dini hari ini saya bagi ke teman-teman. Engkau Maha Tau ini bukan riya' tapi sebagai bentuk syiar saya agar kita bersedekah di saat sulit atau pun senang.

NB:

1. Sedekah tidak harus punya uang banyak atau kaya, sepiring nasi yang kita berikan ke orang yang membutuhkan, Insyaallah akan menolong kita.

2. Mukzijat sedekah juga pernah saya alami belasan tahun lalu, saat Ibu saya koma karena salah obat di RS swasta di Madiun, saya seperti kehilangan harapan. Entah kenapa tiba-tiba terbetik dalam benak saya untuk mentraktir tiap hari tukang becak di seputar RS dan tukang parkir, serta kaum dhuafa di rumah makan paling terkenal di Madiun yang tidak mungkin para Abang becak dll untuk membeli. Tiga hari berturut -turut saya bawa rombongan tiap pagi atau siang dan sore ke rumah makan tersebut, dan apa yang terjadi, Ibu yang diprediksi tak bisa tertolong, pada hari ketiga ba'da Isa' memanggil nama cucu laki-laki di sebelahnya. Masyaallah saya tidak pernah lupa peristiwa itu, keajaiban sedekah.

3. Entah sudah ratusan, bahkan ribuan kali Allah menolong saya dari yang kecil sampai besar, karena saya ikut menolong hambaNYA yang membutuhkan. Itu yang membuat saya tergila-gila sedekah, bahkan dulu di tahun 2000-an sampai saya undang Ustad Yusuf Mansur saat ulang tahun saya untuk bercerita keajaiban sedekah, dan saat saya dirikan JMP, motivasi saya selain bisa menolong orang lebih banyak, bisa mengajak teman-teman untuk "menikmati" kebesaran Allah lewat keajaibanNYA.

4. Sedekah itu sebetulnya bukan hanya menolong orang lain, tapi menolong diri kita sendiri.

5. Saya dirawat di RSUD Soedono Madiun, karena kebetulan pas saya kena covid  posisi saya lagi pulang kampung di Madiun.


Sumber: Facebook Naniek S Deyang yang diunggah Minggu 25 Juli 2021

Komentar