Selasa, 21 Mei 2024 | 20:08
NEWS

Geng Motor Marak dan Brutal, IPW Punya Saran untuk Polisi

Geng Motor Marak dan Brutal, IPW Punya Saran untuk Polisi
Ilustrasi geng motor (Dok Pixabay)

ASKARA - Indonesia Police Watch (IPW) mencatat, ulah geng motor semakin brutal dalam dua minggu terakhir.

Dalam catatan IPW dari 28 Februari- 12 Maret 2021, tujuh peristiwa terkait ulah geng motor telah menewaskan tiga orang, dan sejumlah lainnya luka, termasuk anggota polisi yang luka-luka akibat dibacok.

Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane mengatakan jajaran Polri perlu segera mengantisipasi tren geng motor yang muncul belakangan ini.

Neta menjelaskan peristiwa pertama, Muhammad Farhan Lubis (17) tewas dibantai geng motor di Jalan Sisisngamangaraja, Medan Amplas, Sumatera Utara, Minggu (28/2), sekitar pukul 02.00.

Hari yang sama anggota geng motor Enjoy MBR 86 membacok anggota Polsek Metro Menteng, Jakarta Pusat, Aiptu Dwi Handoko. "Geng motor ini memiliki ratusan anggota," tegas Neta, Jumat (12/3).

Masih hari yang sama, lanjut Neta, seorang tukang parkir bernama Hendri menjadi korban pengeroyokan geng motor di Jalan Pasuketan, Kota Cirebon, Jawa Barat. 

Menurutnya, anggota geng motor itu juga memukuli orang-orang yang memvideokan aksi brutal mereka.

Pada 1 Maret, lanjut Neta, satu tewas akibat bentrok antardua kelompok geng motor di Jalan Raya Padalarang–Purwakarta, Desa Nyalindung, Kabupaten Bandung Barat, Jabar.

Menurutnya, bentrok ini melibatkan dua kelompok geng motor, XTC dan Moonra. 

Neta menambahkan pada 7 Maret, polisi menangkap lima anggota geng motor yang membunuh seorang pemuda di Jalan Raya Kampung Buwek Jaya, Desa Sumber Jaya, Tambun Selatan, Bekasi, Jabar. 

Neta melanjutkan pada 10 Maret, geng motor menyerang dan merusak indekos di Kabupaten Cianjur, Jabar.

Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini, tetapi salah satu sepeda motor penghuni indekos rusak akibat dibanting dan ditendang para pelaku. 

Sebelumnya, lanjut Neta, Polda Banten menangkap 10 dari 36 anggota geng motor All Star yang meresahkan warga Kota Serang Timur, karena konvoi membawa senjata tajam. 

Aksi ini sempat mengejutkan warga karena massa konvoi sambil mengacungkan aneka senjata tajam mulai dari golok, pedang, hingga celurit untuk mengancam warga, dan memblokir jalanan. 

"Aksi ini sempat viral di media sosial," tegasnya.

Jajaran Polda Banten lalu memburu anggota geng motor ini hingga ke rumahnya. 

Ratusan orang terdata, sejumlah senjata tajam dan sepeda motor tanpa surat disita. Sebanyak 10 orang ditahan dan dijadikan tersangka. 

"Yang lainnya diingatkan, jika berulah lagi maka akan ditahan," katanya.

Neta menilai sikap tegas Polda Banten ini sepertinya patut dicontoh Polda lain agar geng motor bisa terkendali dan tidak berbuat onar. 

Sikap jemput bola, antisipasi, dan deteksi dini bisa dilakukan bersama Polsek dan Polres, dengan mendatangi rumah anak-anak muda yang terindikasi sebagai anggota geng motor. 

"Mereka diingatkan di depan orang tuanya, jika masih berbuat onar akan ditahan," paparnya. 

Neta menambahkan sikap pembiaran terhadap geng motor harus disudahi. "Polisi perlu jemput bola, terutama menjelang Bulan Ramadan, biasanya geng motor ini suka berulah dan harus diantisipasi," kata dia.

Menurut Neta, mereka tidak hanya membuat onar tetapi juga melakukan tindakan kriminal, seperti merampok minimarket, SPBU, membegal orang di jalanan dan lainnya. 

Oleh karena itu, Neta menyatakan jajaran kepolisian perlu mengintensifkan patroli di malam hari untuk menindak tegas aksi geng motor. 

"Biasanya anak-anak di usia 15 hingga 21 tahun itu (yang merupakan anggota geng motor) beraksi pukul 01.00 hingga 04.00. Kawasan rawan geng motor adalah Ibu Kota Jakarta, Jabar, Jateng, Jatim, Sumut, dan Sulsel," pungkasnya. (jpnn)

Komentar