Jumat, 17 Juli 2020 | 00:40
COMMUNITY

Kisah Nyata

Diantar Rombongan Anak Kecil di Gunung Salak

Diantar Rombongan Anak Kecil di Gunung Salak
(Dok. Abdul Azis)

ASKARA - Kali ini agak sedikit berbeda dari biasanya karena saya akan berbagi pengalaman menarik ketika mendaki Gunung Salak. Perlu teman-teman ketahui bahwa saya sudah sangat sering mendaki Gunung Salak via Cidahu (Javana Spa) karena posisi rumah saya masih terbilang berada di sekitar kaki Gunung Salak. 

Dari sekian banyak pengalaman saya mendaki Gunung Salak, ada satu kali pendakian yang berkesan sekaligus janggal sampai saat ini yakni pendakian ketika menuju Kawah Ratu. Sekitar beberapa tahun lalu tepatnya akhir bulan Desember, saya dari rumah berniat main ke Javana Spa hanya untuk sekadar ngopi dan foto-foto. Saya berangkat seorang diri menggunakan sepeda motor dengan pakaian alakadarnya yakni kemeja dan celana bahan berwarna hitam.

Sesampainya di Javana Spa saya menuju warung langganan yang berada di dekat pintu pendakian Gunung Salak. Di warung itu saya memesan minuman wedang jahe dan roti untuk sekadar cemilan santai, setelah kira-kira menghabiskan setengah gelas minuman wedang saya melihat ada rombongan muda mudi mendekat ke arah saya dengan pakaian lengkap ala pendaki gunung, kira-kira jumlah mereka itu ada 11 orang. 

Ketika mereka tiba di warung saya mendengar dari obrolan mereka bahwa mereka akan melakukan pendakian. Entah bagaimana ceritanya tiba-tiba ada keinginan kuat dalam diri saya untuk ikut mendaki padahal saya tidak ada niatan mendaki sebelumnya. Akhirnya saya tanya pada salah seorang dari mereka
"Mau muncak mas..?"
"Ouh iya mas kita mau muncak," jawabnya singkat.

Singkatnya, saya ngobrol dengan salah satu dari mereka, dan dari obrolan itu saya ketahui bahwa mereka ini rombongan dari salah satu kampus di Depok. Dan tujuan mereka itu ke Kawah Ratu lalu ke Puncak Gunung Salak.
"Mas saya boleh gabung gak..? Saya mau ke Kawah Ratu, mau ngobatin penyakit kulit," tanya saya kepada pria berbaju coklat.
"Silahkan mas bareng aja biar rame di jalannya," timpalnya dengan antusias.

Singkat cerita saya pun menitipkan helm ke bibi warung dan motor saya parkir tepat di depan warung, lalu saya pun ikut rombongan ini menuju Kawah Ratu. Selama mendaki tidak ada kendala apapun dan semuanya terlihat normal, bahkan kami hanya istirahat satu kali selama perjalanan. Dan perjalanan kami tempuh selama kurang lebih 3-4 jam. Kami start itu jam sembilan pagi dan sampai di Kawah Ratu itu sekitar jam 12 lebih.

Setibanya di Kawah Ratu saya memisahkan diri dari rombongan karena mereka saya lihat di Kawah Ratu itu hanya foto-foto dan makan siang sedangkan saya niat awal ke Kawah Ratu itu untuk mandi belerang untuk obat kulit. Karena saya tidak bawa baju ganti efek mendaki dadakan akhirnya saya tidak jadi mandi tapi saya berburu belerang untuk saya bawa pulang.

Sekitar pukul 2.30 saya berniat untuk pulang dan ketika saya lihat ke sekeliling kawah ternyata rombongan tadi itu sudah tidak ada, mungkin mereka sudah jalan menuju puncak pikir saya saat itu. Alhasil saya pulang seorang diri. Setelah 15 menit melakukan perjalanan pulang tiba-tiba hujan deras dan berkabut tebal, akhirnya saya tetap meneruskan perjalanan sambil berharap ada tempat yang aman untuk berteduh.

Akhirnya saya menemukan semacam bekas saung di pinggir jalur pendakian yang kondisinya sudah hancur tapi ada sebagian atap yang masih kuat menahan air hujan, lalu saya pun menuju saung itu dan meneduh. Saya lihat jam di HP menunjukkan pukul tiga sore.

Hujannya semakin deras dan kabutnya pun semakin tebal, di sinilah awal mula kecemasan saya timbul. Sudah sekitar satu jam saya menunggu hujan reda namun tidak juga kunjung reda. Kenapa saya tidak berani melanjutkan perjalanan saat hujan, jawabannya karena saya memakai pakaian tipis sedangkan jarak tempuh masih jauh, saya khawatir saya kedinginan. Apalagi saya seorang diri dan tak bawa perbekalan apapun selain HP dan satu buah kresek kecil yang tadinya untuk wadah belerang tapi tidak jadi saya pakai karena saya menggunakan botol bekas untuk wadah belerangnya.

Karena mulai gelisah di tengah hutan sendirian dengan kondisi hujan deras nan berkabut akhirnya saya melantunkan adzan pada saat itu, karena yang saya ketahui dari guru-guru saya ketika di pesantren bahwa adzan juga biasa digunakan ketika ada hujan lebat dan berbadai. Saya pun adzan sebagaimana adzan untuk sholat dan dalam hati saya niatkan bahwa adzan ini agar hujan reda dan kabutnya hilang.

Kurang lebih 5-10 menit setelah saya adzan hujan pun mulai reda yang hanya menyisakan gerimis, akan tetapi kabut masih tebal bercampur dengan suasana menjelang sore karena saya lihat jam saat itu sudah jam empat lebih. Tiba-tiba dari arah jalur Kawah Ratu terdengar riuh seperti banyak orang ngobrol menuju jalur saya, saya sangat senang karena akhirnya ada teman pulang. Setelah mereka mendekat saya lihat ternyata ada sekitar tujuh orang anak kecil seusia anak kelas 3 SD. Semuanya berpakaian rapih layaknya hari raya lebaran dan mereka semua menggunakan sepatu dan memakai celana selutut serta berpakaian dengan warna cerah.

"Kamarana..?" tanya saya.
"Bade balik a" jawab si anak yang paling depan. 
"Ibu bapakna mana..?" 
"Itu a masih di belakang" jawabnya sambil menunjuk ke arah belakang.

Setelah percakapan singkat itu, akhirnya si anak yang tadi saya tanya melanjutkan perjalanan lalu saya pun masuk di tengah barisan mereka. Jadi posisinya saya ada di tengah-tengah mereka, yang tiga anak kecil di depan saya dan yang empat orang berada di belakang saya. 

Di tengah perjalanan saya mulai merasakan ada kejanggalan. Pertama hujan sebelumnya itu deras tapi kok baju mereka semuanya kering padahal setahu saya tidak ada tempat buat berteduh lalu sepatu yang mereka gunakan saya lihat gak ada bekas lumpur dan kotoran tanah lainnya padahal medan dan jalur pendakian itu kebanykan tanah. Dan di saat saya memikirkan ke anehan-keanehan itu di dalam hati saya tiba-tiba yang di belakang saya bilang begini, "Ayo cepetan a jalannya nanti keburu Maghrib". 

Saya pun kaget dan cuma bisa jawab "iya" dan kembali melanjutkan perjalanan. Dan anehnya lagi selama di perjalanan mereka tidak pernah istirahat bahkan jalannya semakin terlihat semangat dan mereka ngobrol satu sama lain layaknya anak seumuran mereka. Dan yang lebih tidak masuk akal lagi adalah selama perjalnan saya tidak menemukan jalur atau rute seperti saya naik. Jadi ketika saya pulang bersama mereka, jalan yang saya lewati itu bagi saya yang suka bolak balik ke Kawah Ratu terlihat asing tapi jalurnya itu enak karena datar dan gak ada naik turun yang biasa kita temukan kalau naik gunung. 

Selama di perjalanan itu saya hanya berbicara dalam hati terkait kejanggalan yang saya temui itu dan semakin saya janggal dengan mereka saya perhatikan kok wajah mereka semakin pucat, pikiran positif saya saat itu mungkin itu efek cuaca dingin, jadi saya tidak terlalu memikirkannya.

Ketika melakukan perjalanan tiba-tiba saja terdengar sayup adzan Maghrib dari Perkampungan Cidahu, lalu secara serempak mereka yang anak kecil ini berhenti di tengah jalan. Ada yang berhenti kemudian istirahat dengan posisi rukuk, ada yang jongkok tertunduk, ada juga yang duduk-duduk. Tapi anehnya semua badan dan muka mereka ini menghadap ke arah Gunung Salak atau ke arah rute yang tadi dilewati. Saya pun saat itu gak berpikir yang aneh-aneh.

Kemudian saya salip yang tiga anak di depan saya karena saya pikir mungkin mereka istirahat sekalian nunggu ibu bapaknya yang katanya di belakang itu. Dan alhamdulillah tidak jauh dari jarak mereka ini saya sudah melihat pintu gerbang pendakian awal. 

Alangkah senangnya saya saat itu karena tidak kemalaman di jalan. Saat posisi saya dekat dengan pintu pos pendakian saya masih melihat mereka di posisi semula. Namun tiba-tiba mereka berjalan lagi menuju arah gunung, jadi mereka balik arah lagi bukannya ke arah turun seperti saya. Pikir saya saat itu mungkin mereka jemput orang tuanya yang ketinggalan di belakang. Akhirnya saya pun menuju warung tempat saya menitipkan motor dan helm.

Di warung itu saya kembali memesan minuman wedang jahe untuk menghangatkan tubuh karena saya kedinginan saat itu. Setelah kira-kira 30 menit kok mereka rombongan anak kecil tadi tidak ada yang turun satu pun. Alhasil karena takut terlalu larut malam saya pun pulang. Setibanya di rumah saya membuka kemeja dan celana saya yang basah kuyup itu ke dalam ember. Malam itu pun saya tidur dengan lelap karena capek.

Paginya, ketika saya bangun dan ingin menuju kamar mandi saya melewati ember yang tempat saya menaruh pakaian semalam. Saya pun terkejut karena baju saya itu ternyata penuh dengan bekas jaring laba-laba. Seolah-olah seperti saya habis menerobos jalur yang penuh dengan sarang laba-laba. Saya angkat baju dan celananya dan saya pegang untuk memastikannya dan ternyata benar itu bekas jaring laba-laba.

Akhirnya saya bersihkan, saya ambil bekas sarang laba-laba itu hingga bersih sambil menahan rasa penasaran dalam hati. Dan beberapa hari setelah itu saya sakit demam. Dan setelah saya pikir jauh hari setelah kejadian ternyata waktu tempuh ketika saya pulang itu lebih cepat dari waktu berangkat. Saya pulang bersama rombongan anak kecil itu dari Kawah Ratu ke pos awal hanya dua Jam. Dimulai jam empat saat hujan mulai reda dari saung tempat saya berteduh dan sampai ke pos itu Maghrib. Padahal normalnya 3-4 jam.

Itulah pengalaman singkat saya dengan Gunung Salak. Sebenarnya banyak hal yang tidak saya muat dalam tulisan ini karena akan terlalu panjang. Terima kasih.

Abdul Azis
(Wiraswasta, tinggal di Parungkuda, Sukabumi, [email protected]_azis)

Komentar