ASKARA - Malam telah larut. Sebagian besar warga sudah terlelap, sementara di sudut-sudut permukiman masih ada sejumlah orang yang memilih tetap terjaga.
Mereka adalah warga yang berjaga di pos keamanan lingkungan. Menahan kantuk, mengusir dingin malam, dan memastikan lingkungan tetap aman hingga pagi datang.
Bagi sebagian orang, secangkir kopi mungkin hanya minuman biasa. Begitu pula sebuah kipas angin yang diletakkan di pos ronda. Namun bagi mereka yang berjaga sepanjang malam, perhatian sederhana itu bisa terasa jauh lebih berarti.
Di situlah Kapolsek Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Kompol Theodorus Echeal Setiyawan, S.I.K., M.H., mencoba membangun sebuah cara pandang baru tentang keamanan.
Baru sekitar satu bulan dipercaya memimpin Polsek Pasar Minggu, Theo memilih mendekati warga dengan sebuah kalimat sederhana: “Wargaku Keluargaku.”
Bagi Theo, keamanan tidak semata-mata tentang menangkap pelaku kejahatan. Keamanan juga tentang bagaimana polisi hadir sebelum masalah terjadi, mendengar keresahan warga, mengenali lingkungan, dan membangun kepercayaan.
"Di saat jam-jam rawan antara pukul 23.00 sampai 01.00 dini hari, rasa kantuk biasanya mulai menyerang para petugas ronda. Di situlah kami hadir menemani mereka, sekadar membawakan serenceng kopi seduh dan mengajak mereka berbincang ringan," ujar Theo, Kamis (22/10/2026).
Malam-malam seperti itu membuat polisi tidak hanya melihat wilayah dari balik meja kantor. Mereka melihat langsung bagaimana warga menjaga lingkungannya dengan segala keterbatasan.
Dari obrolan sederhana di pos ronda, persoalan keamanan pun dapat dibicarakan tanpa jarak.
Wilayah hukum Polsek Pasar Minggu mencakup tujuh kelurahan dengan jumlah penduduk lebih dari 300.000 jiwa. Dengan wilayah yang luas dan jumlah penduduk yang besar, keamanan tentu tidak mungkin sepenuhnya dibebankan kepada polisi.
Jumlah personel yang terbatas membutuhkan dukungan masyarakat. Warga menjadi mata dan telinga pertama di lingkungannya sendiri, sementara polisi hadir untuk memastikan setiap persoalan ditangani melalui jalur yang tepat.
Mengubah Cara Pandang Penindakan
Pengalaman panjang Theo di satuan reserse mobil (Resmob) Makassar, satuan narkoba dan reserse kriminal membuatnya akrab dengan berbagai wajah kejahatan.
Belasan tahun berhadapan dengan kasus kriminal memberinya pengalaman tentang bagaimana kejahatan terjadi, bagaimana pelaku bekerja, dan bagaimana aparat harus bertindak.
Namun pengalaman itu pula yang membuatnya melihat bahwa penegakan hukum tidak selalu harus dimulai ketika kejahatan sudah terjadi.
"Saya ubah pola pikir saya. Kegiatan yang semula berorientasi pada penindakan reserse kriminal, saya jadikan sebagai sebuah penggalangan," katanya.
Penggalangan yang dimaksud bukan berarti mengurangi ketegasan dalam penegakan hukum.
Sebaliknya, pendekatan tersebut diarahkan untuk membangun komunikasi dengan masyarakat, membaca potensi gangguan keamanan sejak dini, serta mencegah persoalan berkembang menjadi tindak pidana.
Polisi tidak hanya hadir ketika warga sudah menjadi korban. Polisi juga perlu hadir ketika masalah masih berupa kegelisahan, konflik kecil, atau persoalan sosial yang sebenarnya masih dapat diselesaikan melalui dialog.
Pos kamling menjadi salah satu ruang sederhana untuk membangun komunikasi itu.
Warga yang sebelumnya mungkin hanya bertemu polisi ketika terjadi persoalan perlahan diajak melihat bahwa polisi juga dapat menjadi teman berdiskusi dalam menjaga lingkungan.
Kopi yang dibawa ke pos ronda menjadi simbol kecil dari pendekatan tersebut.
"Kopi dan kipas angin yang dibawa saat menyambangi pos keamanan memang sederhana. Namun, di balik itu terdapat pesan bahwa keamanan lingkungan merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan kepedulian terhadap orang-orang yang menjaganya," ujar Theo.
Ketika Warga Memilih Tidak Main Hakim Sendiri
Ada satu hal lain yang menjadi perhatian Theo: bagaimana menjaga agar masyarakat tidak mengambil alih proses hukum dengan cara kekerasan.
Selama sekitar satu bulan masa kepemimpinannya, ia menyebut tidak mengetahui adanya kejadian main hakim sendiri oleh warga di wilayahnya.
Bagi Theo, kecenderungan warga menyerahkan orang yang diduga melakukan kejahatan kepada polisi merupakan sesuatu yang harus terus dijaga.
Sebab, ketika seseorang tertangkap karena diduga mencuri atau melakukan tindakan yang meresahkan, kemarahan warga sangat mungkin muncul.
Namun hukum tidak boleh digantikan oleh amarah.
"Dugaan pelanggaran hukum harus ditangani melalui proses yang berlaku, bukan melalui kekerasan massa," tegasnya.
Di sinilah makna "Wargaku Keluargaku" menjadi lebih dalam.
Menurut Theo, seseorang yang melakukan kesalahan tetap merupakan bagian dari masyarakat. Jika terbukti melakukan tindak pidana, tentu harus mempertanggungjawabkan perbuatannya melalui proses hukum. Tetapi proses tersebut tetap harus menghormati kemanusiaannya.
"Wargaku keluargaku itu susah. Walaupun dia kurang ajar, walaupun dia penjahat, walaupun dia pencuri, pembohong, atau apa, tetap keluarga saya. Tapi itu yang butuh dibina dan tetap di-wongke atau dimanusiakan," tuturnya.
Kalimat itu menggambarkan tantangan seorang polisi: tegas terhadap perbuatan, tetapi tidak kehilangan rasa kemanusiaan terhadap orangnya.
Sikap humanis bukan berarti membiarkan pelanggaran. Justru pendekatan humanis menempatkan penegakan hukum dan penghormatan terhadap martabat manusia dalam satu garis yang seimbang.
Keamanan Tidak Hanya Diukur dari Angka
Theo juga berbicara tentang angka-angka yang ditemuinya selama masa awal bertugas di Polsek Pasar Minggu.
Ia menyebut jumlah tahanan di Polsek Pasar Minggu tercatat dua orang, sementara laporan polisi yang masuk juga relatif minim.
Namun angka tersebut tidak serta-merta dapat menjadi satu-satunya ukuran untuk menyimpulkan tingkat kriminalitas sebuah wilayah.
Jumlah kejadian, jenis tindak pidana, kecenderungan laporan masyarakat, serta perbandingan dengan periode sebelumnya tetap diperlukan untuk melihat situasi keamanan secara lebih utuh.
Bagi Theo, ada persoalan lain yang tidak kalah penting: kepercayaan masyarakat untuk melapor.
Warga yang percaya kepada polisi akan lebih berani menyampaikan persoalan. Sebaliknya, persoalan yang tidak dilaporkan berpotensi menjadi masalah yang tidak terlihat.
Karena itu, keamanan harus dibangun bersama.
Polisi membutuhkan masyarakat. Masyarakat membutuhkan polisi yang responsif, terbuka terhadap pengaduan, dan konsisten menindaklanjuti setiap persoalan sesuai kewenangan.
Di wilayah Pasar Minggu, pendekatan itu dibangun melalui sinergi kepolisian bersama unsur Tiga Pilar, Pokdarkamtibmas dan perangkat kelurahan.
Harapannya sederhana: masalah dapat dikenali lebih awal, dibicarakan lebih cepat, dan diselesaikan melalui mekanisme yang tepat sebelum berkembang menjadi gangguan keamanan yang lebih besar.
Polisi, Tugas dan Hati Nurani
Bagi Theo, menjadi polisi bukan hanya soal menguasai aturan dan kemampuan teknis.
Pengalaman lapangan, menurutnya, harus berjalan bersama dengan kepekaan membaca persoalan masyarakat.
Polisi tidak cukup hanya berada di kantor dan menunggu laporan. Mereka perlu keluar, melihat kondisi wilayah, mengenali warga dan memahami persoalan yang berpotensi mengganggu ketertiban.
"Polisi itu dihadapkan pada dua hal yang harus dipegang. Pertama, tugas dan tanggung jawabnya. Kedua, hati nurani," kata Theo.
Dua hal itulah yang ingin ia satukan.
Tugas dan tanggung jawab membuat polisi harus bekerja berdasarkan hukum. Hati nurani mengingatkan bahwa di balik setiap laporan, setiap perkara dan setiap tindakan kepolisian, selalu ada manusia yang kehidupannya ikut terdampak.
Pada akhirnya, keberhasilan menjaga keamanan bukan hanya soal berapa banyak pelaku kejahatan yang ditangkap.
Keamanan juga terlihat ketika seorang ibu merasa tenang mengantar anaknya sekolah, pedagang dapat menutup tokonya tanpa rasa khawatir, warga dapat tidur nyenyak, dan orang-orang yang berjaga di pos ronda merasa bahwa pengabdiannya dihargai.
"Wargaku Keluargaku" karena itu bukan sekadar slogan.
Kopi di pos ronda mungkin hanya membutuhkan beberapa menit untuk diseduh. Tetapi dari secangkir kopi, sebuah percakapan bisa dimulai.
Dari percakapan, lahir rasa saling percaya.
Dan dari kepercayaan itulah keamanan lingkungan perlahan tumbuh, bukan semata karena polisi hadir, tetapi karena warga dan polisi merasa menjadi bagian dari keluarga yang sama.
Keluarga yang saling menjaga.