Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:22
NEWS

Kardinal Suharyo Sapa Polda Kaltim, Teguhkan Iman dan Integritas Polisi

Kardinal Suharyo Sapa Polda Kaltim, Teguhkan Iman dan Integritas Polisi
Kehadiran Kardinal Suharyo beserta rombongan foto bersama Direktur Reserse Narkoba Polda Kaltim Kombes Pol Romylus Tamtelahitu yang mewakili Kapolda Kaltim Irjen Pol Endar Priantoro (Dok OCI)

ASKARA - Seragam kepolisian membawa kewenangan, tetapi di balik kewenangan itu ada amanah untuk menjaga manusia. Karena itu, pengabdian seorang polisi tidak hanya membutuhkan profesionalitas, tetapi juga hati yang berpegang pada iman, kejujuran dan keberanian memperjuangkan kebenaran.

Pesan tersebut mengemuka dalam kunjungan pastoral Ignatius Kardinal Suharyo, Uskup bagi umat Katolik di lingkungan TNI dan Polri melalui Ordinariatus Castrensis Indonesia (OCI), ke Markas Kepolisian Daerah Kalimantan Timur (Polda Kaltim), Rabu (21/10/2026).

Kardinal Suharyo hadir didampingi Wakil Uskup OCI, Romo Kolonel (Purn.) Yos Bintoro, Pr., bersama sejumlah tokoh dan purnawirawan TNI-Polri. Rombongan antara lain Romo Letda Inf. Jimmy Yohanes Hyronimus, S.Fil.; Irjen Pol (Purn.) Heribertus Dahana; Marsda TNI (Purn.) A. Joko Takarianto; Laksda TNI (Purn.) A.R. Agus Santoso; Lettu Sus Marselinnus Yudhi; dan Dar Edi Yoga.

Vikaris Jenderal Keuskupan Samarinda, Romo Moses Komela Avan, Pr., turut mendampingi rombongan.

Kehadiran Kardinal Suharyo disambut Direktur Reserse Narkoba Polda Kaltim Kombes Pol Romylus Tamtelahitu, S.Sos., S.I.K., M.Krim. Romylus mewakili Kapolda Kaltim Irjen Pol Endar Priantoro, S.H., S.I.K., C.F.E., M.H., yang sedang menjalankan tugas ke Jakarta.

Dalam sambutan Kapolda yang dibacakan Romylus, ditegaskan, iman tidak seharusnya berhenti sebagai keyakinan pribadi. Iman harus terlihat dalam sikap, perilaku dan kualitas pelayanan kepada masyarakat.

"Keimanan hendaknya tidak hanya menjadi keyakinan pribadi, tetapi juga tercermin dalam sikap, perilaku dan kualitas pelayanan kepada masyarakat," demikian pesan Kapolda Kaltim.

Nilai-nilai seperti kejujuran, pengampunan, kerendahan hati, kepedulian dan keberanian memperjuangkan kebenaran, menurut Kapolda, menjadi bagian penting dalam menjalankan tugas kepolisian.

Kasih mengajarkan anggota Polri untuk melayani dengan tulus. Pengampunan mengingatkan agar tidak dikuasai kebencian. Kerendahan hati mendorong seseorang untuk mau mendengarkan dan memperbaiki diri.

Sementara kejujuran dan keberanian membela kebenaran menjadi landasan dalam menjaga kepercayaan masyarakat.

"Anggota Polri yang profesional bukan hanya cakap dalam bertugas, tetapi juga mampu menjaga integritas, bersikap humanis dan menjunjung tinggi keadilan," pesan Kapolda.

Kapolda juga mengingatkan, kewenangan yang diberikan kepada anggota Polri bukan sekadar kekuasaan untuk bertindak, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan dengan menjunjung tinggi martabat manusia.

Atas nama keluarga besar Polda Kaltim, Kapolda menyampaikan apresiasi kepada Gereja Katolik yang terus memberikan perhatian batin, penguatan iman serta ruang bagi personel untuk merefleksikan kehidupan melalui bimbingan rohani, doa, dialog dan kebersamaan.

Ia berharap pelayanan pastoral OCI dapat membantu personel Polda Kaltim menghadapi tantangan pengabdian dengan hati yang tenang, pikiran yang jernih dan semangat yang tetap terpelihara.

"Kami berharap kunjungan pastoral ini semakin mempererat hubungan antara Gereja Katolik dan Kepolisian, khususnya Polda Kalimantan Timur, dalam semangat saling menghormati, mendukung dan menjaga kerukunan," ujarnya.

Kapolda juga menyampaikan empat pesan kepada personel.

Pertama, menjadikan iman sebagai landasan integritas dan keteladanan, baik dalam kedinasan maupun kehidupan pribadi.

Kedua, melaksanakan tugas dengan tulus, humanis, adil dan bertanggung jawab serta menghindari penyalahgunaan kewenangan.

Ketiga, memelihara toleransi dan kerukunan dengan menghormati perbedaan serta menjaga persatuan.

Keempat, terus belajar dan memperbaiki diri agar semakin profesional, bijaksana dan mampu memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.

"Kekuatan polisi tidak hanya ditentukan oleh kemampuan personel dan peralatan, tetapi juga oleh kualitas moral, keteladanan serta kepercayaan masyarakat," tegasnya.

Menanggapi sambutan tersebut, Kardinal Suharyo mengatakan pesan Kapolda sudah memberikan peneguhan rohani yang sangat kuat.

"Peneguhan rohani sudah disampaikan oleh Bapak Kapolda yang dibacakan tadi," ujar Kardinal disambut suasana hangat.

Kardinal kemudian memilih menjelaskan siapa OCI dan mengapa lembaga Gereja tersebut hadir di tengah TNI dan Polri.

Ia menerangkan, Gereja Katolik di Indonesia dilayani melalui keuskupan-keuskupan yang memiliki wilayah pelayanan. Namun, terdapat satu keuskupan yang wilayah pelayanannya mencakup seluruh Indonesia, yakni keuskupan bagi umat Katolik di lingkungan TNI dan Polri.

"Kami datang sebagai sebuah lembaga di dalam Gereja Katolik yang sekarang namanya Keuskupan untuk umat Katolik di lingkungan TNI dan Polri," jelasnya.

Menurut Kardinal, keberadaan OCI memiliki sejarah panjang yang tidak dapat dipisahkan dari perjalanan bangsa Indonesia.

Pada November 1949, ketika Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan mempertahankan kemerdekaan, Menteri Pertahanan menginisiasi unit pelayanan mental dan rohani bagi anggota Angkatan Perang Republik Indonesia.

Tidak lama kemudian, Gereja Katolik membentuk pelayanan khusus bagi umat Katolik di lingkungan Angkatan Perang.

Kardinal menyebut, pelayanan tersebut memiliki makna sejarah yang kuat. Kehadiran Gereja di tengah prajurit merupakan bentuk dukungan terhadap perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Menariknya, pelayanan khusus seperti keuskupan militer pada masa itu hanya terdapat di beberapa negara, antara lain Filipina, Korea Selatan dan Indonesia.

Namun Indonesia memiliki kekhasan. Pelayanan pastoral tidak hanya mencakup anggota militer, tetapi juga anggota kepolisian yang beragama Katolik.

"Keuskupan ini sangat khusus karena di Indonesia tentara dan polisi yang beragama Katolik dilayani secara khusus. Keutuhan pelayanan yang mencakup anggota militer dan polisi ini hanya ada di Indonesia," kata Kardinal.

Kardinal Suharyo juga mengingatkan, sejarah Gereja Katolik di Indonesia memiliki hubungan erat dengan perjalanan kebangsaan.

Ia menyebut peran Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ., uskup pribumi pertama, yang dikenal dengan semboyan 100 persen Katolik, 100 persen Indonesia.

Bagi Kardinal, semboyan tersebut bukan sekadar ungkapan identitas, tetapi merupakan warisan spiritual dan kebangsaan yang harus terus dihidupkan.

"Sejarah itu kami yakini menjadi tanggung jawab sejarah bagi umat Katolik di Indonesia, dan tentu saja secara khusus bagi TNI dan Polri," tuturnya.

Karena itu, kunjungan ke berbagai satuan TNI dan Polda di Indonesia tidak sekadar agenda silaturahmi.

Ada pesan sejarah yang hendak dirawat. Ada warisan perjuangan yang ingin diteruskan. Dan ada umat yang ingin diyakinkan bahwa Gereja tidak pernah jauh dari perjalanan hidup mereka.

Kardinal juga menjelaskan perjalanan pelayanan pastor dalam lingkungan TNI dan Polri.

Pada masa lalu, Gereja pernah mengutus sejumlah pastor untuk masuk ke institusi TNI dan menjalankan pelayanan sebagai bagian dari lingkungan militer. Seiring perubahan zaman, pola pelayanan tersebut mengalami perkembangan.

Kini, OCI kembali mendorong kehadiran imam yang dapat memberikan perhatian khusus kepada umat Katolik di lingkungan TNI dan Polri.

Romo Yos Bintoro menjadi salah satu figur yang berperan dalam menguatkan pelayanan tersebut.

Menurut Kardinal, perjalanan tersebut tidak selalu mudah. Seorang imam yang berada di lingkungan militer harus mampu memahami dua bentuk ketaatan: ketaatan sebagai imam kepada Gereja dan ketaatan sebagai prajurit kepada komandan.

"Sebagai imam dia taat kepada uskupnya, tetapi sebagai tentara dia harus taat kepada komandan. Itu kadang-kadang tidak mudah dijalankan," kata Kardinal.

Namun pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pelayanan pastoral dan pengabdian kepada negara dapat berjalan berdampingan ketika dijalankan dengan integritas.

Kardinal Suharyo mengatakan, perjalanan pastoral ke Balikpapan merupakan bagian dari upaya OCI untuk terus menyapa umat Katolik di lingkungan TNI dan Polri di berbagai daerah.

Ia berharap kunjungan serupa dapat dilakukan ke seluruh Indonesia.

Khusus di Kalimantan Timur, pelayanan juga dilakukan bersama Keuskupan Agung Samarinda. Kehadiran Romo Moses Komela Avan sebagai Vikaris Jenderal menjadi bagian dari sinergi pelayanan Gereja di wilayah tersebut.

Pada kesempatan itu, Kardinal juga menyampaikan bahwa pada sore hari rombongan akan bertemu dan melaksanakan ibadah bersama anggota TNI dan Polri yang beragama Katolik.

Perjumpaan sederhana itu menjadi inti dari seluruh perjalanan pastoral, menyapa umat di tempat mereka bertugas.

Sebab bagi Gereja, seorang polisi atau prajurit bukan semata-mata seragam, pangkat atau jabatan. Dia adalah manusia yang memiliki iman, keluarga, kegelisahan, harapan dan kerinduan untuk mendapatkan kekuatan dalam menjalankan tugas.

Dan di situlah OCI hadir, bukan untuk berpolitik, bukan untuk mengambil alih tugas institusi negara, tetapi untuk merawat hati manusia agar tetap memiliki kasih, integritas dan keberanian dalam menjalankan pengabdian.

Karena ketika tugas negara dijalankan dengan hati yang bersih, profesionalitas bertemu dengan kemanusiaan. Dan ketika iman menjadi sumber kekuatan, pengabdian kepada bangsa dapat menjadi jalan pelayanan kepada sesama.

 

Editor: Dar Edi Yoga