Senin, 19 Oktober 2026 | 15:56
NEWS

Rosatom dan Indonesia Capai Kesepakatan Bersejarah Proyek Listrik Nuklir Terapung

Listrik nuklir rendah karbon untuk memperkuat ketahanan energi dan mendukung pembangunan ekonomi di Maluku Utara, Indonesia

Rosatom dan Indonesia Capai Kesepakatan Bersejarah Proyek Listrik Nuklir Terapung
Rosatom akan mengerahkan dua Floating Power Unit (FPU)-100 dengan kapasitas gabungan 200 MW untuk memasok listrik ke wilayah utara Pulau Halmahera, Maluku Utara (Dok Rosatom)

ASKARA - Rosatom State Corporation dan perusahaan milik nasional Indonesia, PT Pembangkit Listrik Nuklir, telah mencapai kesepakatan untuk memasok listrik yang dihasilkan oleh unit pembangkit listrik tenaga nuklir terapung kepada konsumen di Maluku Utara, Indonesia bagian timur.

Kesepakatan tersebut ditandatangani di sela-sela kegiatan Russian Energy Week (REW) di Moskow pada 16 Oktober 2026. Kesepakatan ini menjadi tonggak penting dalam kerja sama energi bilateral antara Rusia dan Indonesia.

Dalam proyek tersebut, Rosatom akan mengerahkan dua Floating Power Unit (FPU)-100 dengan kapasitas gabungan 200 MW untuk memasok listrik ke wilayah utara Pulau Halmahera, Maluku Utara.

Kedua unit tersebut dirancang untuk menyediakan listrik yang andal dan rendah karbon dengan menggunakan sistem reaktor seri RITM, yang telah menunjukkan efisiensi, keandalan, dan keselamatannya melalui pengalaman pengoperasian selama bertahun-tahun pada kapal pemecah es bertenaga nuklir.

FPU tersebut diperkirakan dapat mulai memasok megawatt listrik pertama kepada konsumen di Indonesia paling cepat lima tahun setelah ketentuan utama dalam kontrak pasokan listrik mulai berlaku.

Alexey Likhachev: Tonggak Bersejarah Kerja Sama Energi

Direktur Jenderal Rosatom State Corporation, Alexey Likhachev, mengatakan kerja sama Rosatom dan Indonesia berkembang dengan cepat.

“Kerja sama antara Rosatom dan Indonesia berkembang dengan sangat cepat. Pertemuan terbaru kami dengan Presiden Prabowo Subianto menegaskan kembali bahwa negara kepulauan terbesar di dunia ini secara konsisten menempuh jalan untuk memperkuat ketahanan energi dan mencapai netralitas karbon,” kata Likhachev.

Menurutnya, kesepakatan baru tersebut merupakan tonggak penting dalam upaya tersebut.

“Rosatom siap menawarkan solusi teknologi paling maju dan telah terbukti yang tersedia di pasar global. Kami sedang membicarakan lebih dari sekadar pasokan listrik. Kami sedang meletakkan dasar bagi kemitraan jangka panjang,” ujarnya.

Likhachev menekankan arti penting kesepakatan tersebut karena merupakan perjanjian ekspor pertama di dunia untuk pasokan listrik yang bersumber dari unit pembangkit listrik terapung.

“Saya yakin hal ini akan mengirimkan sinyal kuat kepada komunitas bisnis global bahwa dengan dukungan pemerintah yang sistematis, sektor swasta secara aktif memimpin dalam menginisiasi proyek infrastruktur nuklir yang mampu mentransformasi perekonomian suatu negara,” katanya.

Yudi Utomo: Proyek B2B Tanpa Mengandalkan APBN

Sementara itu, ilmuwan nuklir Indonesia sekaligus Direktur PT Pembangkit Listrik Nuklir, Yudi Utomo Imardjoko, mengatakan memimpin transisi energi Indonesia merupakan tujuan dan tanggung jawab utama pihaknya sebagai investor nasional.

“Kami sangat meyakini bahwa menyediakan listrik yang bersih, andal, dan bebas karbon bagi masyarakat merupakan hal yang sangat penting untuk menjamin masa depan energi Indonesia dalam jangka panjang,” ujar Yudi.

Menurutnya, energi nuklir menawarkan solusi berkelanjutan untuk memenuhi kebutuhan energi Indonesia yang terus meningkat sekaligus mendukung pembangunan ekonomi, khususnya di kawasan Indonesia Timur.

Yudi juga menegaskan bahwa proyek tersebut sepenuhnya dirancang sebagai inisiatif business-to-business (B2B) yang didorong oleh investasi sektor swasta dan tidak bergantung pada pendanaan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

“Kami sangat berterima kasih atas kesempatan untuk memajukan kemitraan bersejarah ini dan dengan tulus menghargai dukungan berkelanjutan dari Pemerintah Indonesia, khususnya Kedutaan Besar Republik Indonesia di Rusia, dalam memfasilitasi tonggak penting ini,” katanya.

Haji Romo Nitiyudo Wachjo: Awal Era Baru Energi Indonesia Timur

Investor PT Pembangkit Listrik Nuklir, Haji Romo Nitiyudo Wachjo, menyebut kesepakatan tersebut sebagai tonggak penting dalam ambisi bersama untuk memperkuat kemandirian energi Indonesia dan menjamin masa depan berkelanjutan bagi generasi mendatang.

“Kesepakatan ini merupakan tonggak penting dalam ambisi bersama kita untuk memperkuat kemandirian energi Indonesia dan memastikan masa depan yang berkelanjutan bagi generasi mendatang,” kata Haji Romo Nitiyudo.

Ia menyampaikan penghargaan kepada Presiden Rusia Vladimir Putin, delegasi Rusia, serta Rosatom atas kerja sama dan komitmen terhadap kemitraan tersebut.

“Di atas semuanya, saya ingin menyampaikan terima kasih kepada Presiden Prabowo Subianto dan Menteri Pertahanan Indonesia Sjafrie Sjamsoeddin yang telah mempercayakan kepada Profesor Yudi dan saya tanggung jawab untuk menghadirkan proyek pembangkit listrik tenaga nuklir berkapasitas 200 MW di Halmahera Utara, Maluku Utara,” ujarnya.

Menurutnya, kesepakatan bersejarah tersebut menjadi landasan bagi babak baru pengembangan energi yang diharapkan memberikan manfaat bagi masyarakat Maluku Utara sekaligus berkontribusi terhadap kemajuan yang lebih luas di kawasan Indonesia Timur.

“Melalui kesepakatan bersejarah ini, kami meletakkan dasar bagi era baru pengembangan energi yang akan memberikan manfaat bagi masyarakat Maluku Utara dan berkontribusi terhadap kemajuan Indonesia Timur secara lebih luas,” katanya.

 

Editor: Onaria Fransisca