Senin, 19 Oktober 2026 | 10:56
NEWS

Dari Cikampek Barat untuk Indonesia, Kisah Pengabdian Yuyun Yunengsih

Dari Cikampek Barat untuk Indonesia, Kisah Pengabdian Yuyun Yunengsih
Yuyun Yunengsih beserta keluarga (Dok Nurkenda)

ASKARA - Memimpin desa bukan sekadar mengelola pemerintahan. Di dalamnya ada amanah untuk mendengar suara warga, memastikan pelayanan berjalan, dan ikut membuka jalan bagi masa depan masyarakat.

Hal itu dijalani Hj. Yuyun Yunengsih, A.Md., Kepala Desa Cikampek Barat, Kecamatan Cikampek, Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Ia terpilih melalui Pilkades serentak Kabupaten Karawang pada 21 Maret 2021 setelah meraih suara terbanyak, termasuk mengungguli kepala desa petahana.

Sejak dipercaya memimpin, Yuyun menjalankan tugas pemerintahan desa yang bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat, mulai dari pelayanan administrasi, pembangunan, pemberdayaan hingga pembinaan sosial.

Bagi seorang kepala desa, kedekatan dengan masyarakat menjadi bagian penting dari kepemimpinan. Aspirasi warga perlu didengar dan diterjemahkan dalam perencanaan pembangunan yang sesuai dengan kebutuhan lingkungan.

Dari Musyawarah hingga Pemberdayaan

Salah satu proses penting dalam pembangunan Desa Cikampek Barat adalah Musyawarah Perencanaan Pembangunan Desa (Musrenbangdes). Pada 24 September 2025, pemerintah desa menggelar Musrenbangdes untuk menyusun RKPDes 2026.

Forum tersebut menjadi ruang mempertemukan kebutuhan masyarakat dengan prioritas pembangunan desa. Dari sinilah berbagai program dirancang dengan mempertimbangkan kondisi lingkungan, pelayanan publik, serta potensi masyarakat.

Kepemimpinan desa juga tidak berhenti pada pembangunan fisik. Pendidikan dan pemberdayaan generasi muda menjadi bagian penting dalam membangun masa depan desa.

Pada 10 Januari 2026, Yuyun menghadiri kegiatan KKN mahasiswa Universitas MPU Tantular di Aula Kantor Desa Cikampek Barat. Kegiatan tersebut memberikan edukasi hukum kepada masyarakat sekaligus mempertemukan perguruan tinggi dengan pemerintah desa dan warga.

Kolaborasi semacam ini menjadi penting agar desa tidak hanya berkembang secara fisik, tetapi juga tumbuh melalui pengetahuan dan kualitas sumber daya manusianya.

Di Balik Kepala Desa, Ada Ibu yang Menunggu

Ada sisi lain dari kehidupan Yuyun yang membuat perjalanan pengabdiannya terasa lebih personal.

Di tengah tanggung jawab sebagai kepala desa, ia menjalani peran sebagai ibu Jalasenastri, istri Serka Marinir Nurkenda, anggota Dispen Kormar yang kini juga menempuh pendidikan S2 Hukum.

Dari keluarga inilah lahir sebuah kisah perjuangan pendidikan.

Putri pertama mereka, Citta Pratiwi Nury, pada 2026 berhasil menyelesaikan pendidikan strata satu Fakultas Kedokteran Universitas Wahid Hasyim (UNWAHAS) Semarang dan meraih gelar Sarjana Kedokteran (S.Ked.).

Perjalanan Citta menuju gelar tersebut bukan jalan singkat. Ia menempuh pendidikan sejak TK Al Murtadho Cikampek, kemudian SD Al Murtadho Cikampek, SMP Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta, dan SMA Negeri 1 Purwakarta.

Setelah itu, ia memilih Fakultas Kedokteran Universitas Wahid Hasyim Semarang. Bertahun-tahun menjalani pendidikan dengan tuntutan akademik yang tidak ringan akhirnya berbuah gelar S.Ked.

Bagi Yuyun dan Nurkenda, keberhasilan itu bukan sekadar pencapaian akademik seorang anak. Ada doa, pengorbanan, kesabaran, dan dukungan keluarga yang mengiringi setiap tahap perjalanan.

Namun, perjuangan Citta belum selesai. Gelar S.Ked. merupakan tahap awal sebelum memasuki pendidikan profesi dokter. Jalan panjang masih terbentang sebelum cita-citanya benar-benar diwujudkan dalam pelayanan kepada masyarakat.

Ketika Pengabdian Menjadi Teladan

Kisah Yuyun memperlihatkan bahwa pengabdian memiliki banyak wajah. Di kantor desa, ia menjalankan amanah masyarakat. Di rumah, ia menjadi ibu yang mendampingi perjalanan anak. Sementara sang suami menjalankan pengabdian sebagai prajurit Marinir sekaligus melanjutkan pendidikan.

Dua dunia yang berbeda itu bertemu dalam satu nilai: tanggung jawab.

Memimpin masyarakat membutuhkan keteguhan. Membesarkan anak membutuhkan kesabaran. Dan keduanya menuntut ketulusan untuk terus hadir meski tidak semua proses mudah dilalui.

Bagi Desa Cikampek Barat, tantangan ke depan tentu tidak ringan. Pelayanan publik, pembangunan yang merata, pemberdayaan warga, perhatian terhadap kelompok rentan, serta ruang bagi generasi muda membutuhkan kerja bersama.

Pemerintah desa tidak dapat berjalan sendirian. Sinergi dengan BPD, lembaga kemasyarakatan, tokoh masyarakat, dunia pendidikan, dan seluruh warga menjadi kunci agar pembangunan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.

Pada akhirnya, ukuran kepemimpinan bukan hanya jabatan yang disandang, tetapi seberapa jauh amanah itu menghadirkan manfaat.

Dan di balik sosok seorang kepala desa, terkadang ada kisah yang jauh lebih sederhana namun kuat: seorang ibu yang bekerja untuk masyarakat, pulang kepada keluarga, lalu terus mendoakan anaknya agar kelak dapat menggunakan ilmu bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk mengabdi kepada sesama.

Dari kantor desa hingga ruang kuliah kedokteran, pengabdian menemukan bentuknya masing-masing. Yang menyatukannya adalah satu hal: bekerja, belajar, dan melayani dengan hati.

 

Editor: Dar Edi Yoga