Sabtu, 17 Oktober 2026 | 05:27
OPINI

111 Jenis Tanaman, Satu Kebahagiaan: Cerita Kami di Lembah Halimun

111 Jenis Tanaman, Satu Kebahagiaan: Cerita Kami di Lembah Halimun
Ilustrasi tanaman (Dok Salomita)

Oleh: Salomita Lomon Lyons

ASKARA - Seorang teman lama, Sany namanya, mengirimkan sebuah kuis ke grup WhatsApp teman-teman kampus S1-ku. Kuis itu membahas potret gaya hidup para pensiunan di era modern.

Ternyata, ada tujuh gaya hidup yang banyak dipilih untuk menikmati masa pensiun.

Pertama, Septolescent (Si Jiwa Muda). Para lansia yang tetap energik, gaul, melek teknologi, dan aktif berkegiatan layaknya anak muda.

Kedua, Active Aging (Menjaga Kebugaran). Menjadikan kesehatan sebagai prioritas dengan rutin berolahraga ringan, menjaga pola makan, dan berusaha tetap mandiri tanpa merepotkan anak cucu.

Ketiga, Slow Living (Hidup Tenang). Menikmati hidup tanpa tergesa-gesa. Kebahagiaan ditemukan dalam kesederhanaan, seperti berkebun, membaca, dan menjauh sejenak dari kebisingan dunia.

Keempat, Co-Housing (Hidup Bersama Sahabat). Memilih tinggal berdekatan atau sering berkumpul dengan teman sebaya agar tidak kesepian dan bisa saling menjaga.

Kelima, The Spiritualist (Mendekatkan Diri kepada Tuhan). Memperbanyak ibadah, melembutkan hati, dan mencari kedamaian jiwa sebagai bekal mempersiapkan diri untuk kembali kepada Sang Pencipta.

Keenam, The Philanthropist (Gemar Berbagi). Mengisi waktu dengan menjadi sukarelawan atau aktif dalam kegiatan sosial. Bagi mereka, kebahagiaan hadir ketika masih bisa berguna dan membawa sukacita bagi sesama.

Ketujuh, Grey Nomads (Petualang Senior). Para lansia yang gemar bepergian, menikmati keindahan alam, dan memenuhi rasa ingin tahu yang mungkin belum sempat terwujud ketika masih muda.

Lalu, Sany bertanya kepada kami di grup:

“Kira-kira, kalian termasuk yang mana? Boleh pilih satu atau lebih.”

Pertanyaan sederhana itu mengingatkanku bahwa memasuki usia pensiun bukanlah akhir dari segalanya. Justru, masa pensiun bisa menjadi babak baru kehidupan yang penuh warna.

Apa pun gaya hidup yang kita pilih, yang terpenting adalah menjaga hati agar tetap tenang, ikhlas, dan bahagia. Akan lebih indah lagi jika kebahagiaan itu tidak hanya kita nikmati sendiri, tetapi juga bisa kita bagikan kepada orang lain.

Menikmati Hidup di Lembah Halimun

Kalau ditanya termasuk kelompok yang mana, aku memilih nomor 1, 2, 3, 5, dan 6.

Aku ingin tetap berjiwa muda, menjaga kesehatan, menikmati hidup dengan tenang, mendekatkan diri kepada Tuhan, sekaligus tetap berguna bagi sesama.

Untuk nomor 4, aku tergolong jarang ikut kumpul-kumpul. Biasanya, aku lebih senang menerima kunjungan teman-teman yang datang bertandang ke rumah.

Sementara itu, nomor 7, menjadi petualang senior, bukan lagi pilihanku. Faktor kesehatan membuatku harus lebih bijaksana dalam menentukan aktivitas dan perjalanan.

Namun, dari kelima pilihan itu, Slow Living atau hidup tenang adalah gaya hidup yang paling menggambarkan kehidupanku bersama suami saat ini.

Setelah pensiun dari pekerjaannya di Florida, Amerika Serikat, suamiku memilih tinggal di Indonesia. Kami menetap di sebuah rumah di pinggiran Jakarta Timur selama hampir sembilan tahun.

Hingga sekitar satu setengah tahun lalu, kami memutuskan meninggalkan hiruk-pikuk kota dan memilih tinggal di sebuah desa nan sejuk di kaki Gunung Gede Pangrango, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Di sinilah kami menemukan tempat yang terasa seperti hadiah dari Tuhan.

Sebuah vila di atas lahan seluas sekitar 450 meter persegi, di kawasan Lembah Halimun yang sejuk.

Ketika pertama kali kami membelinya, rumah itu terbengkalai. Namun, justru di sanalah kami melihat kesempatan untuk memulai kehidupan baru.

Di depan rumah tumbuh dua pohon yang menarik perhatian. Ada pohon pachira atau Money Tree yang sudah berbuah dan pohon pakis haji yang menjulang di depan jendela hingga mendekati teras atas.

Bagi kami, rumah ini bukan sekadar tempat tinggal. Ia menjadi ruang untuk merawat kehidupan, menikmati alam, dan mensyukuri hari-hari yang Tuhan masih berikan.

Berkebun, Bahagia Itu Sederhana

Tinggal di Lembah Halimun yang sejuk sungguh terasa seperti impian yang menjadi kenyataan.

Aku dan suami mulai merapikan rumah beserta halamannya. Dengan bantuan seorang asisten rumah tangga yang juga memiliki keterampilan berkebun serta seorang tukang bangunan, kami perlahan-lahan membenahi rumah dan lingkungannya.

Lebih dari setahun tinggal di sini, aku mencoba menghitung tanaman yang tumbuh di halaman depan, belakang, dan samping rumah.

Hasilnya cukup mengejutkan.

Ada sekitar 111 jenis tanaman yang berhasil kuhitung. Terdiri atas 75 jenis bunga, 19 jenis tanaman sayur, dan 17 jenis tanaman buah.

Bagiku, berkebun bukan sekadar mengisi waktu luang. Ada kebahagiaan tersendiri ketika melihat tanaman yang dirawat tumbuh subur, bunga bermekaran, dan sayuran mulai bisa dipanen.

Setiap tanaman memiliki cerita.

Ada yang sudah tumbuh besar, ada yang mulai berbunga, dan ada pula yang masih kecil serta membutuhkan kesabaran untuk menunggu hasilnya.

Di antara bunga-bunga yang menghiasi halaman kami terdapat bunga mentega (Nerium oleander), pacar air (Impatiens walleriana), cemara balon, melati Asia (Asiatic jasmine), lili laba-laba raksasa (Crinum asiaticum), anthurium, lentera Cina (Abutilon), lili Peru (Alstroemeria), Tibouchina urvilleana, dahlia, Crossandra, krokot atau bunga pukul sembilan, Yellow Walking Iris, kastuba (Poinsettia), Singapore daisy, geranium, jengger ayam, bunga mawar, dan lainnya.

Halaman rumah juga menjadi tempat kami menanam berbagai sayuran dan tanaman bumbu.

Ada pohpohan, pandan, tekokak, kenikir, kayu manis, genjer, kangkung, labu, wortel, cabai, bayam, tomat, cangkok manis atau daun katuk, kacang batik, daun agas, serai, daun kelor, singkong, dan sirih.

Sementara itu, di antara tanaman buah yang kami pelihara terdapat jeruk lemon, jambu air, manggis, kurma, kopi, edamame, markisa, dewandaru, murbei, jambu klutuk, terong Belanda, dan lainnya.

Sebagian tanaman buah masih kecil. Bahkan, ada yang tingginya baru sekitar satu meter. Kami tentu harus bersabar menunggu pertumbuhannya.

Namun, bukankah kesabaran juga bagian dari menikmati hidup?

Kami belajar bahwa tidak semua hal harus menghasilkan sesuatu dengan segera.

Ada yang perlu dirawat setiap hari. Ada yang harus menunggu musimnya. Ada pula yang hasilnya baru bisa dinikmati setelah waktu berlalu.

Pensiun Bukan Berarti Berhenti Bertumbuh

Kini, aku semakin memahami bahwa masa pensiun tidak harus diisi dengan banyak bepergian, menghadiri berbagai pertemuan, atau mengejar kesibukan seperti ketika masih bekerja.

Setiap orang memiliki cara sendiri untuk menikmati masa tuanya.

Ada yang tetap aktif di luar rumah. Ada yang senang berkumpul dengan sahabat. Ada yang mengabdikan diri kepada masyarakat. Ada pula yang menemukan kebahagiaan dalam kesunyian yang menenangkan.

Bagiku, menikmati hidup bersama suami di Lembah Halimun merupakan anugerah yang patut disyukuri.

Kami belajar menikmati hal-hal sederhana: udara yang sejuk, tanaman yang tumbuh, bunga yang mekar, sayuran yang bisa dipetik, serta waktu untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan.

Lembah Halimun yang awalnya menghadirkan sebuah rumah terbengkalai, perlahan berubah menjadi taman kehidupan. Dan masa pensiun pun berubah menjadi kesempatan untuk terus bertumbuh.

Aku tidak tahu berapa lama kami masih diberi kesempatan menikmati kehidupan seperti ini.

Namun, selama Tuhan masih memberi kesehatan dan kekuatan, aku ingin menjalani hari-hari dengan hati yang penuh syukur.

Aku ingin tetap belajar, tetap berkarya sesuai kemampuan, dan tetap berbagi kebaikan kepada orang lain.

Sebab, bagiku, masa pensiun bukanlah masa untuk berhenti bertumbuh, melainkan kesempatan untuk bertumbuh dengan cara yang berbeda.

Dan jika boleh memilih, aku ingin menua dengan sederhana: hati yang tenang, iman yang semakin kuat, tubuh yang tetap dirawat, serta kehidupan yang masih membawa manfaat bagi sesama.

Semoga Tuhan senantiasa menyertai perjalanan kami, hingga kelak tiba waktunya untuk pulang ke rumah-Nya.

 

Editor: Caecilia Eersta