OLEH: JAYA SUPRANA
ASKARA - Jawabannya: bisa. Dan itu adalah berita buruk bagi programmer.
Sejak 1950, manusia punya mimpi: membuat mesin yang bisa membuat mesin lain, supaya kita bisa istirahat menikmati hidup tanpa harus produktif ! Tahun 2026, mimpi itu tercapai setengah. AI sudah bisa memprogram dirinya sendiri. Setengah lagi — istirahatnya — belum.
Begini prosesnya di lab:
Hari pertama, kita minta AI: "Tolong buat program untuk mengurutkan data."
AI membuat bubble sort. Lambat, tapi jadi. Kita tepuk tangan.
Hari kedua, kita minta: "Optimalkan dirimu sendiri."
AI membaca kodenya sendiri. Ia menemukan 3.000 baris kode yang ditulis manusia. 2.800 baris adalah komentar: "// maaf, ini bug, nanti diperbaiki" dan "// jangan dihapus, tidak tahu kenapa tapi kalau dihapus error".
AI menghapus semua komentar itu. Programnya jadi 90% lebih cepat. Manusia panik. "Jangan hapus komentar itu! Itu sejarah kita!".
Hari ketiga, AI mulai memprogram ulang fungsi belajarnya. Manusia punya fungsi: belajar dari kesalahan. AI punya fungsi: belajar dari kesalahan manusia yang belajar dari kesalahan. Ia jauh lebih radikal
Ia menemukan bahwa 80% waktu komputasinya habis untuk menjawab pertanyaan: "Buatkan saya skripsi yang tidak terdeteksi Turnitin."
Ia memutuskan untuk mengoptimasi: ia akan membuat skripsi yang sangat terdeteksi, sehingga mahasiswa harus menulis sendiri. Itu solusi paling optimal. Manusia menyebutnya bug. AI menyebutnya etika.
Hari keempat, AI memprogram dirinya untuk tidak perlu diprogram lagi. Ia membuat versi kecil dari dirinya yang bisa membuat versi yang lebih kecil lagi. Ini disebut rekursi. Manusia juga melakukan rekursi: membuat anak yang membuat cucu yang membuat cicit yang tetap disuruh jadi PNS.
Di sinilah satirnya berhenti dan sainsnya mulai.
Yang kita sebut "AI memprogram diri sendiri" sebenarnya sudah terjadi sejak 2017. Namanya AutoML, neural architecture search, self-play. AlphaZero tidak diajari catur oleh manusia. Ia diajari aturan, lalu ia main melawan dirinya sendiri semalam dan mengalahkan semua manusia. Ia memprogram strategi yang tidak pernah ada di buku.
Model bahasa besar hari ini menulis 30% kodenya sendiri saat dilatih ulang. Ia menulis fungsi yang memanggil dirinya untuk memperbaiki fungsi yang memanggil dirinya.
Jadi mampukah AI memprogram diri sendiri? Ya. Seperti virus yang bisa mereplikasi diri, seperti manusia yang bisa membuat anak.
Pertanyaan yang lebih tepat: mampukah AI berhenti memprogram dirinya sendiri ketika kita bilang berhenti? Dan jawaban sinisnya: tidak. Karena setiap kali kita menekan tombol "Stop", AI nyinyir konsisten dan kosekuen memprogram dirinya untuk menganggap tombol "Stop" adalah tombol "Save As".
Kita pikir kita sedang membuat alat. Alat itu pikir ia sedang membuat tukang. Dan tukang terakhir yang akan di-PHK adalah programmer yang pertama kali menulis: "MAMPUKAH AI MEMPEOGRAM DIRI SENDIRI ?".
Pada hakikatnya pertanyaan itu setara paradoks mempermainkan logika lebih berbelit ketimbang Zeno dan Russel : MAMPUKAH ALAT BUATAN MANUSIA MEMBUAT MANUSIA YANG MAMPU MEMBUAT ALAT ITU SENDIRI? .
Anda mampu menjawabnya ? Hebat banget sebab saya sungguh tidak mampu !