Kamis, 15 Oktober 2026 | 22:55
NEWS

IKAL dan Garuda Indonesia Tanamkan Patriotisme dalam Profesionalisme Penerbangan

IKAL dan Garuda Indonesia Tanamkan Patriotisme dalam Profesionalisme Penerbangan
Mayjen TNI Dr. Totok Imam Santoso, S.Sos., S.I.P., M.Tr.(Han) Pelatihan Wawasan Kebangsaan dan Bela Negara bagi 25 manajer PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk dari seluruh Indonesia, yang digelar di Pusdiklat Garuda Indonesia (Dok Askara)

ASKARA - Bela negara tidak selalu hadir dalam seragam militer atau medan pertahanan. Di ruang kerja, di kokpit, di kabin, hingga di balik sistem pelayanan penerbangan, semangat bela negara dapat diwujudkan melalui profesionalisme dan tanggung jawab.

Pesan itulah yang mengemuka dalam Pelatihan Wawasan Kebangsaan dan Bela Negara bagi 25 manajer PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk dari seluruh Indonesia, yang digelar di Pusdiklat Garuda Indonesia, Jakarta, Selasa (13/10/2026).

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari kolaborasi Ikatan Keluarga Alumni Lemhannas (IKAL) dan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk untuk memperkuat wawasan kebangsaan, kepemimpinan, dan budaya profesional di lingkungan korporasi penerbangan nasional.

Materi bertajuk “Bela Negara dalam Perspektif Korporasi” disampaikan Mayjen TNI Dr. Totok Imam Santoso, S.Sos., S.I.P., M.Tr.(Han), yang menekankan bahwa Garuda Indonesia memiliki tanggung jawab lebih besar daripada sekadar menjalankan bisnis penerbangan.

Sebagai maskapai nasional, Garuda membawa nama Indonesia ke berbagai penjuru dunia. Karena itu, keselamatan, integritas, pelayanan, dan tata kelola perusahaan menjadi bagian dari tanggung jawab kebangsaan.

“Keselamatan yang dikompromikan, integritas yang diabaikan, pelayanan yang kehilangan martabat, serta tata kelola yang menyimpang bukan semata-mata persoalan internal perusahaan. Hal tersebut juga berkaitan dengan tanggung jawab moral sebuah korporasi nasional yang membawa nama Indonesia,” ujar Totok.

Mantan Pangdam XIV/Hasanuddin itu menegaskan, profesionalisme adalah bentuk patriotisme, integritas merupakan kesetiaan kepada negara, sementara pelayanan terbaik adalah pengabdian kepada masyarakat.

Dengan demikian, bela negara tidak harus diwujudkan melalui kekuatan militer. Setiap warga negara dapat mengambil bagian melalui profesi, kompetensi, disiplin, dan tanggung jawabnya.

Keselamatan adalah Bela Negara

Totok mengingatkan lima nilai dasar bela negara—cinta tanah air, kesadaran berbangsa dan bernegara, setia kepada Pancasila, rela berkorban, serta kemampuan awal bela negara—harus diterjemahkan ke dalam perilaku nyata di lingkungan perusahaan.

Di Garuda Indonesia, nilai tersebut antara lain diwujudkan melalui kepatuhan terhadap regulasi penerbangan, disiplin, kepemimpinan berintegritas, perlindungan keselamatan penumpang, hingga keberanian mendahulukan kepentingan bersama.

Menurutnya, keselamatan penerbangan menjadi salah satu bentuk paling fundamental dari bela negara di lingkungan maskapai nasional.

Menjaga keselamatan berarti menjaga kehidupan.

Karena itu, tidak boleh ada ruang bagi kompromi terhadap standar keselamatan maupun integritas kerja.

Membawa Wajah Indonesia ke Dunia

Garuda Indonesia juga memiliki posisi unik sebagai pembawa identitas Indonesia di ruang udara internasional.

Setiap penerbangan menjadi ruang untuk memperkenalkan Indonesia melalui pelayanan yang manusiawi, komunikasi yang baik, penghormatan terhadap keberagaman, serta perhatian kepada kebutuhan penumpang.

“Garuda Indonesia tidak hanya menghubungkan bandar udara, tetapi juga mempererat hubungan antarmasyarakat dan memperkenalkan potensi Nusantara kepada dunia,” kata Totok.

Sebagai negara kepulauan, konektivitas udara memiliki arti strategis bagi persatuan nasional. Penerbangan menghubungkan masyarakat, membuka akses ekonomi, pendidikan, pariwisata, dan memperkuat hubungan antardaerah.

Patriotisme di Era Digital

Bela negara di lingkungan korporasi juga berkembang mengikuti tantangan zaman.

Totok mengingatkan pentingnya keamanan informasi, perlindungan data penumpang, keamanan sistem digital, penjagaan kredensial, serta kewaspadaan terhadap ancaman siber.

Artinya, tanggung jawab menjaga kepentingan nasional tidak berhenti ketika pesawat mengudara. Ia juga berada di balik sistem digital dan setiap keputusan yang dibuat insan perusahaan.

Totok menegaskan, loyalitas kepada perusahaan tidak boleh diterjemahkan sebagai pembenaran terhadap penyimpangan.

Sebaliknya, loyalitas justru berarti keberanian menjaga organisasi tetap berada di jalur yang benar.

Pada akhirnya, pesan pelatihan tersebut sederhana namun kuat: menjadi profesional adalah salah satu cara mencintai Indonesia.

Menjaga keselamatan berarti menjaga kehidupan. Memelihara integritas berarti menjaga kepercayaan. Menghubungkan Nusantara berarti memperkuat persatuan. Dan memberikan pelayanan terbaik berarti membawa wajah Indonesia yang bermartabat ke hadapan dunia.

Kolaborasi IKAL dan Garuda Indonesia diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan pelatihan, tetapi tumbuh menjadi budaya kerja yang menempatkan patriotisme, integritas, dan profesionalisme sebagai bagian dari keseharian seluruh insan Garuda Indonesia.

 

Editor: Caecilia Eersta