ASKARA - Menjelang peringatan Milad Aceh Leuser Antara (ALA) ke-21 pada 4 Desember 2026, tokoh muda asal Panteraya, Kecamatan Wih Pesam, Kabupaten Bener Meriah, Firdaus, mengajak masyarakat di enam kabupaten/kota wilayah ALA untuk menjaga perdamaian, memperkuat persaudaraan, dan mengedepankan persatuan.
Firdaus, yang mengaku pernah merasakan kehidupan pada masa konflik di Aceh, menilai perdamaian merupakan anugerah berharga yang harus dirawat bersama. Menurutnya, pengalaman masa lalu menjadi pengingat bahwa stabilitas dan ketenteraman masyarakat tidak boleh dikorbankan demi kepentingan sesaat.
“Saya adalah bagian dari generasi yang pernah merasakan bagaimana kehidupan pada masa konflik, dan hari ini saya bersyukur dapat menjalani kehidupan dalam suasana damai. Pengalaman itu mengajarkan saya satu hal yang sangat berharga: perdamaian adalah anugerah yang harus kita jaga bersama, bukan sesuatu yang boleh kita pertaruhkan demi kepentingan sesaat,” ujar Firdaus, Selasa (13/10/2026).
Ia juga menegaskan komitmennya terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Baginya, Merah Putih merupakan bendera negara, Garuda Pancasila adalah lambang negara, dan Pancasila menjadi pedoman dalam menjaga persatuan bangsa.
Di tengah berkembangnya berbagai isu di masyarakat, termasuk persoalan pengibaran bendera, Firdaus mengimbau warga agar tetap tenang, berpikir jernih, dan tidak mudah terprovokasi.
“Mari kita sikapi setiap persoalan dengan kepala dingin, mengedepankan dialog, menghormati hukum, serta menjaga agar situasi damai yang telah kita nikmati bersama tidak rusak oleh kesalahpahaman dan provokasi,” tegasnya.
ALA dan Aspirasi Pemerataan Pembangunan
Firdaus menjelaskan, aspirasi pembentukan Aceh Leuser Antara berangkat dari keinginan masyarakat untuk memperoleh pemerataan pembangunan, keadilan ekonomi, dan peningkatan kesejahteraan, khususnya di wilayah tengah dan tenggara Aceh.
Menurutnya, perjuangan tersebut semestinya ditempatkan dalam kerangka memperjuangkan kepentingan masyarakat, bukan mempertajam perbedaan di antara sesama anak bangsa.
“Bagi kami, perjuangan ini bukan tentang mempertentangkan sesama anak bangsa. Bukan pula tentang membangun kebencian atau memecah persaudaraan. Perjuangan ini adalah tentang bagaimana masyarakat di wilayah tengah dan tenggara Aceh dapat merasakan pembangunan, pelayanan publik, dan peluang ekonomi secara lebih adil dan merata,” katanya.
Ia juga menyoroti kondisi masyarakat pascabencana yang masih berupaya memulihkan perekonomian dan memperbaiki rumah. Dalam situasi tersebut, menurutnya, masyarakat membutuhkan dukungan nyata dari pemerintah melalui kebijakan yang menyentuh kebutuhan warga.
“Kita tidak ingin masyarakat terus-menerus berjuang sendirian. Kita ingin pembangunan yang menjangkau seluruh lapisan masyarakat,” ujarnya.
Karena itu, Firdaus mengajak pemerintah, tokoh adat, tokoh agama, pemuda, dan berbagai elemen masyarakat untuk membangun komunikasi serta mencari solusi melalui jalur damai, konstitusional, dan bermartabat.
Ia berharap perbedaan pandangan dapat dikelola melalui dialog yang terbuka, sehingga aspirasi masyarakat tetap tersampaikan tanpa mengganggu persaudaraan dan ketenteraman yang telah terbangun.
Milad ke-21 Jadi Momentum Memperkuat Solidaritas
Menjelang peringatan Milad ALA ke-21 pada 4 Desember 2026, Firdaus mengajak masyarakat di enam kabupaten/kota yang tergabung dalam wilayah aspirasi ALA untuk berpartisipasi memeriahkan kegiatan tersebut.
Milad tahun ini mengusung tema “Bersama Rakyat, Merawat Warisan, Aceh Leuser Antara yang Maju, Adil, dan Sejahtera Menuju Serambi Madinah.”
Menurut Firdaus, peringatan milad tidak semestinya hanya menjadi seremoni tahunan, tetapi juga menjadi kesempatan untuk mempererat hubungan antarmasyarakat, merawat warisan budaya, dan memperkuat komitmen terhadap pembangunan yang berkeadilan.
“Mari kita jadikan momentum Milad ini sebagai wadah mempererat persaudaraan, memperkuat solidaritas, merawat warisan budaya, serta menyatukan semangat perjuangan demi masa depan masyarakat Leuser Antara yang lebih maju, adil, dan sejahtera,” ajaknya.
Ia menegaskan, aspirasi ALA harus terus disampaikan dengan mengedepankan persatuan, perdamaian, keadilan, dan kesejahteraan rakyat.
“ALA, insyaallah. Insyaallah ALA,” tutup Firdaus.
Bagi Firdaus, menjaga perdamaian dan memperjuangkan kesejahteraan bukanlah dua hal yang bertentangan. Keduanya justru perlu berjalan beriringan agar aspirasi masyarakat dapat diperjuangkan secara bermartabat, tanpa mengorbankan persaudaraan dan keutuhan bangsa.