Selasa, 13 Oktober 2026 | 02:44
COMMUNITY

Silaturahmi Warga Pasundan di Papua Selatan, Apolo Safanpo Tekankan Persaudaraan dalam Perbedaan

Silaturahmi Warga Pasundan di Papua Selatan, Apolo Safanpo Tekankan Persaudaraan dalam Perbedaan
Gubernur Apolo Safanpo foto bersama Warga Pasundan di Papua Selatan (Dok Winona)

ASKARA - Kerinduan warga Pasundan di Provinsi Papua Selatan untuk bersilaturahmi dengan Gubernur Apolo Safanpo terwujud dalam sebuah pertemuan penuh keakraban di Swiss-Belhotel Merauke, Minggu (11/10/2026). Hampir seribu warga hadir, membawa semangat kebersamaan sekaligus merawat ikatan budaya di tanah perantauan.

Acara tersebut dihadiri Gubernur Papua Selatan Prof. Dr. Ir. Apolo Safanpo, S.T., M.T., IPH, Bupati Merauke Yoseph B. Gebze, S.H., LL.M., Ketua Paguyuban Himpunan Keluarga Jawa, Sunda, Madura (HKJSM) Dr. H. Fauzun Nihayah, S.Hi., M.H., serta Ketua Paguyuban Pasundan Papua Selatan H. Asep Surya Putera, S.E.

Hadir pula Dewan Pangaping Paguyuban Pasundan Papua Selatan sekaligus Ketua HKJSM Papua Selatan, Sunaryo, S.Sos., tokoh agama Ustaz Wawan Gunawan, S.Ag., serta keluarga besar Pasundan dari berbagai wilayah kabupaten di Papua Selatan.

Bagi warga Pasundan, pertemuan ini bukan sekadar ajang melepas rindu. Lebih dari itu, silaturahmi menjadi ruang untuk mempererat persaudaraan, menjaga tradisi leluhur, dan meneguhkan peran masyarakat dalam kehidupan bersama di Papua Selatan.

Dalam sambutannya, Asep Surya Putera mengingatkan kembali falsafah hidup masyarakat Sunda, yakni silih asah, silih asih, silih asuh. Nilai tersebut mengajarkan pentingnya saling mencerdaskan, saling menyayangi, dan saling membimbing.

“Falsafah hidup masyarakat Pasundan tentang silih asah, silih asih, silih asuh mengajarkan kepada kita untuk saling mencerdaskan, mencintai dan menyayangi, serta saling membimbing. Nilai-nilai luhur tersebut masih relevan dengan situasi dan kondisi sosial budaya masyarakat yang kita hadapi saat ini,” ujar Asep.

Pesan tentang persaudaraan lintas suku dan agama juga disampaikan Gubernur Apolo Safanpo. Menurut dia, di tengah keberagaman masyarakat, semangat persaudaraan menjadi kekuatan penting untuk menjaga persatuan.

Perbedaan agama dan etnis, kata Apolo, tidak seharusnya menjadi penghalang bagi masyarakat untuk saling membantu, menghormati, dan menghargai. Sebaliknya, keberagaman perlu dirawat sebagai kekuatan yang menyatukan kehidupan bermasyarakat.

Sementara itu, Bupati Merauke Yoseph B. Gebze menyebut kehadiran warga Pasundan sebagai bagian dari wajah Indonesia yang majemuk di wilayah selatan Papua. Berbagai suku, agama, dan latar belakang hidup berdampingan, tetapi tetap berada dalam satu ikatan kebangsaan.

Menurut Yoseph, kehidupan tersebut mencerminkan nilai sila ketiga Pancasila, yaitu Persatuan Indonesia. Semangat persatuan perlu terus dijaga agar keberagaman menjadi landasan untuk saling menguatkan, bukan sumber perpecahan.

Merawat budaya, menguatkan kebersamaan

Nuansa budaya Sunda terasa sepanjang rangkaian acara. Para peserta disuguhi pertunjukan seni, mulai dari tari jaipong kontemporer, tarian Sancang Gugat, hingga pencak silat aliran Cimande yang klasik.

Penampilan tersebut menjadi cara generasi Pasundan memperkenalkan sekaligus merawat warisan budaya leluhur di tengah kehidupan masyarakat Papua Selatan yang beragam.

Suasana semakin khidmat saat Ustaz Wawan Gunawan memimpin doa. Kehadiran tokoh agama ini turut memberi warna pada pertemuan yang tidak hanya menonjolkan identitas budaya, tetapi juga menempatkan nilai spiritual dan kebangsaan sebagai bagian dari kehidupan bersama.

Sunaryo, S.Sos., dalam sambutannya juga menekankan pentingnya menjaga keharmonisan sebagai warga negara. Bagi masyarakat perantauan, kemampuan membangun hubungan baik dengan lingkungan sekitar merupakan bagian penting dari kehidupan bermasyarakat.

Pesan senada disampaikan Fauzun Nihayah. Ia mengingatkan bahwa seseorang tidak selalu dapat menentukan di mana akan menjalani kehidupan, tetapi dapat memilih untuk berbuat baik dan memberi manfaat di tempat ia berada.

“Kita tidak bisa menentukan di mana kita akan hidup. Namun, di dalam paguyuban-paguyuban, termasuk Paguyuban Pasundan, kita memiliki tempat untuk menjalankan kehidupan. Tidak perlu kita persoalkan asal kita dari mana, tetapi yang paling penting adalah apa yang bisa kita lakukan di mana pun kita berada,” tegas Fauzun.

Pesan tersebut terasa dekat dengan pengalaman warga Pasundan yang telah lama menetap dan berkarya di Papua Selatan. Mereka hadir dari latar belakang berbeda, tetapi dipertemukan oleh ikatan budaya serta keinginan untuk hidup berdampingan dan berkontribusi bagi daerah.

Warga Pasundan di Papua Selatan disebut telah mencapai ribuan orang dan berkarya di berbagai bidang. Kehadiran mereka menjadi bagian dari dinamika masyarakat setempat, sekaligus memperlihatkan bagaimana identitas budaya dapat tetap terjaga tanpa mengurangi rasa sebagai satu bangsa Indonesia.

Pertemuan di Merauke itu ditutup dalam suasana hangat melalui kebersamaan dan jamuan bagi para peserta. Kegiatan tersebut difasilitasi Pemerintah Provinsi Papua Selatan dengan dukungan PT Marind Animha Sejahtera, Optik Permata, Toko SJM Muting, air minum Aqlaa, Vespa, Rahma Motor, AC Mobil, dan Pama Agen Kapal.

Di tengah keberagaman Papua Selatan, silaturahmi warga Pasundan menjadi pengingat bahwa menjaga budaya tidak harus menjauhkan seseorang dari lingkungan tempatnya tinggal. Justru melalui budaya, persaudaraan dapat tumbuh, saling pengertian semakin kuat, dan semangat Persatuan Indonesia terus dirawat dalam kehidupan sehari-hari.

 

Editor: Caecilia Eersta