Selasa, 13 Oktober 2026 | 03:10
OPINI

Utilitariasme Mitologi

Utilitariasme Mitologi
Ilustrasi utilitariasme mitologi (Dok Askara)

OLEH: JAYA SUPRANA

ASKARA - Mitologi adalah hard disk pertama manusia. Sebelum ada sains dan undang-undang, manusia menyimpan cara berlayar, cara bertani, dan cara membedakan baik-buruk di dalam cerita khayal dewa-dewi.

1. Manfaat Klasik: Penyimpan Memori.

I La Galigo (Bugis): 6.000 halaman bukan dongeng. Ia adalah ensiklopedia maritim. Di dalamnya ada arah angin, musim tanam, silsilah, dan hukum adat. Manfaatnya: identitas. Orang Bugis tahu siapa dirinya karena Sawerigading pernah berlayar ke segenap penjuru mata angin.

Odyssey (Yunani): Manfaatnya etika bertahan hidup. Odysseus bukan Herkules yang kuat. Dia pembohong, cerdik, dan rindu rumah. Homer mengajarkan bahwa untuk pulang dari perang, kau tidak butuh otot, tapi metis — akal muslihat.

Mahabharata (India): Manfaatnya latihan moral. Pertanyaannya bukan siapa menang, tapi apakah Arjuna boleh membunuh saudaranya sendiri demi Dharma? Mahabharata melatih manusia hidup di dunia abu-abu.

*Marvel (Amerika): Komoditas industri hiburan beserta ajaran akhlak bagi yang mau dan mampu menghayatinya. Pesaing berat : DC

Sampai di sini mitologi adalah guru.

2. Mudarat Klasik: Ketika Mitos Jadi Borgol.

Mudarat muncul ketika mitos berhenti jadi cermin dan jadi kandang.

Dalam Galigo, darah Sawerigading putih karena keturunan dewa. Ini menciptakan mitos aristokrasi dan nepotisme : kau mulia karena lahir, bukan karena perbuatan. Dalam Mahabharata, Karna yang hebat harus menderita karena lahir dari kasta kusir. Dalam Odyssey, pembantaian 108 pelamar Penelope dianggap suci karena Odysseus direstui dewa.

Mitos yang dulu menjelaskan struktur sosial, kini mengawetkan ketidakadilan dan menyucikan kekerasan.

3. Marvel: Mitologi Sampah yang Berguna.

Lalu datang Marvel (2008-sekarang), I La Galigo versi korporat. Banyak kritikus sastra mencibir: ini mitologi tanpa kebijaksanaan, hanya sekuel dan jualan action figure.

Cibiran itu benar separuh.

Mudarat Marvel jelas: ia menyederhanakan moral. Dunia selalu hitam-putih, penjahat harus mati, pahlawan tidak pernah salah. Ia juga mitologi yang tidak pernah selesai. Galigo, Odyssey, Mahabharata punya akhir. Marvel tidak. Karena jika berakhir, saham Disney turun.

Tapi demi analisis seimbang, Marvel punya dua manfaat :

Manfaat 1: Demokrasi Mitos. Untuk pertama kali dalam sejarah, mitologi bukan milik pendeta atau pujangga istana. Anak tukang ojek di Jakarta dan anak bankir di New York menyembah dewa yang sama: Iron Man. Marvel adalah mitologi pertama yang benar-benar global dan egaliter. Silakan semua orang menafsirkannya.

Manfaat 2: Mitologi Terapi. Sama seperti yang dikatakan Bettelheim tentang dongeng, Marvel bekerja sebagai terapi cemas modern. Ketika dunia terasa kacau karena pandemi, perang, dan krisis iklim, otak manusia butuh cerita sederhana bahwa seseorang yang lebih kuat akan datang menyelamatkan kita. Thor menggantikan hujan, Captain America menggantikan rasa takut pada musuh negara. Itu tidak rasional, tapi secara psikososial, itu menenangkan.

Kesimpulannya: jangan anti mitologi, dan jangan memuja mitologi.

Ambil kebijaksanaan Galigo, ambil etika Odyssey, ambil dilema Mahabharata. Dan silakan ambil juga hiburan Marvel, asal ingat: setelah film selesai, matikan layar Blue-Ray atau Disney dan kembali ke kenyataan demi menjadi manusia yang harus menyelesaikan masalahnya sendiri. Tanpa Godam Thor, Cakra Krisna, Bandung Bondowoso, Lutung Kasarung atau tokoh sakti mandraguna siapa pun juga.

 

Editor: Onaria Fransisca