Senin, 12 Oktober 2026 | 00:36
COMMUNITY
Dorong Ekonomi Kampung Tambat

Dosen Unmus Dampingi Perempuan Papua Olah Sagu Jadi Cendol

Dosen Unmus Dampingi Perempuan Papua Olah Sagu Jadi Cendol
Para Dosen UNMUS dan masyarakat usai praktek pembuatan sagu (Dok Winona)

ASKARA - Potensi sagu di Kampung Tambat, Distrik Tanah Miring, Kabupaten Merauke, Papua Selatan, dikembangkan menjadi peluang usaha bagi masyarakat lokal. Melalui program Pengembangan Desa Mitra (PDM), tim dosen Universitas Negeri Musamus (Unmus) mendampingi perempuan asli Papua mengolah sagu menjadi minuman segar berupa cendol sagu Papua.

Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, 8–10 Oktober 2026, ini melibatkan 16 perempuan asli Papua dari Kampung Tambat. Mereka mengikuti praktik pengolahan sagu menggunakan bahan sederhana yang mudah diperoleh di lingkungan sekitar, seperti sagu, santan kelapa, dan gula merah.

Kepada Askara, dosen Unmus Marnina, S.S., M.Hum., menjelaskan bahwa program PDM bertujuan mendorong kampung binaan perguruan tinggi menjadi lebih mandiri dan memiliki daya saing melalui pengembangan potensi lokal.

“Kami dari kampus bersepakat memilih bahan pangan sagu karena habitatnya masih bagus di Kampung Tambat,” ujar Marnina.

Menurutnya, sagu tidak hanya memiliki nilai sebagai bahan pangan tradisional, tetapi juga berpotensi dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi apabila diolah secara kreatif dan memiliki peluang pasar.

Dosen Unmus lainnya, Angla Florensy Sauhenda, S.Pd., M.Pd., menambahkan bahwa pengembangan desa mitra diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan dan ekonomi warga melalui berbagai sektor, antara lain usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), badan usaha milik desa (BUMDes), pertanian, serta pariwisata.

Dalam pendampingan di Kampung Tambat, cendol sagu Papua menjadi fokus kegiatan karena dinilai dapat mengangkat kuliner tradisional sekaligus membuka peluang pemberdayaan ekonomi masyarakat yang mayoritas merupakan penduduk asli Papua.

Pengolahan sagu menjadi minuman segar juga memberikan alternatif pemanfaatan bahan pangan lokal. Dengan proses pembuatan yang relatif sederhana dan bahan yang mudah ditemukan, produk ini berpotensi dikembangkan sebagai usaha rumahan maupun produk unggulan kampung.

Dosen Unmus, Tarsisius Kana, S.E., M.Si., menilai pemanfaatan potensi lokal seperti sagu dapat menjadi salah satu jalan untuk memperkuat ekonomi keluarga.

“Tujuan Pengembangan Desa Mitra adalah untuk memberdayakan masyarakat desa melalui pemanfaatan potensi lokal, pendampingan berkelanjutan, dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi tepat guna, sehingga terwujud kemandirian ekonomi, sosial, dan lingkungan desa,” ungkap Tarsisius kepada Askara.

Melalui kegiatan ini, tim dosen Unmus berharap keterampilan yang diperoleh para peserta dapat menjadi bekal untuk mengembangkan usaha secara mandiri. Dengan pendampingan berkelanjutan, cendol sagu Papua diharapkan tidak hanya melestarikan kekayaan pangan lokal, tetapi juga membuka peluang pendapatan baru bagi perempuan Kampung Tambat dan memperkuat ekonomi masyarakat setempat.

 

Editor: Dar Edi Yoga