ASKARA – Suasana asri terasa di Klinik Bonsai Bekasi pagi ini, Minggu, 11 Oktober 2026. Puluhan peserta dari berbagai latar belakang tampak antusias mengikuti Kelas Membuat Bonsai bersama Rumah Bonsai Indonesia (RUBI), yang dipimpin langsung oleh Presiden RUBI, Prof. Dr. Zudan Arif Fakrulloh, S.H., M.H.
“Pagi ini kelas membuat bonsai di Klinik Bonsai Bekasi bersama RUBI. Siapapun boleh bergabung. Prinsip kami jelas: Berkarya tanpa batas, berkreasi tanpa henti. Dan yang paling penting, Hobi Harus Hepi!” ujar Prof. Zudan.
Klinik Bonsai yang menjadi markas RUBI ini memiliki lebih dari 50 koleksi – mulai dari beringin, anting putri, serut, jeruk kingkit, loa, lohansung, hingga jambu biji – yang menjadi media belajar langsung.
Menurut Kepala BKN Pusat, bonsai adalah mahakarya yang lahir dari tata kelola.
“Bonsai sebagai mahakarya adalah hasil kerja nyata melalui proses tata kelola berupa perawatan dengan penuh ketekunan, kesabaran dan rasa cinta. Kalau tidak dengan karya nyata, mustahil menjadi mahakarya.”
“Bonsai itu simbol dari pohon besar yang bisa ditata. Butuh kesabaran, ketelatenan, seni. Bisa dibentuk, didesain, diarahkan. Akhirnya menikmati. Sama seperti birokrasi, harus ditata dengan cinta agar melahirkan pelayanan publik yang indah.”
3 Materi Inti Kelas Bonsai:
1.Pemilihan Bahan: Untuk pemula disarankan Ficus/beringin, Sancang, Anting Putri, Serut yang adaptif. Media tanam harus poros dan subur.
2.Teknik Dasar: Pruning untuk mengecilkan daun, pres cabang tak terpakai, dan wiring/pengawatan untuk mengarahkan cabang. “Kawat jangan sampai masuk ke batang, segera lepas kalau sudah mulai masuk.”
3.Mentalitas Hobi: “Berhobi bonsai membawa keramah-tamahan luar biasa. Menghilangkan sekat-sekat birokrasi yang kaku. Di sini kita semua sama, pecinta bonsai.”
5 Tips Membuat Bonsai
Bagi Prof. Zudan, bonsai adalah filosofi hidup. “Bonsai sebagai mahakarya adalah hasil kerja nyata melalui proses tata kelola berupa perawatan yang dilakukan dengan penuh ketekunan, kesabaran dan rasa cinta. Kalau tidak dengan karya nyata mustahil menjadi mahakarya,” ujarnya.
“Bonsai itu simbol dari pohon besar yang bisa ditata. Butuh kesabaran, ketelatenan, butuh seni. Bisa dibentuk, didesain, diarahkan. Akhirnya menikmati,” tambahnya.
1.Niat Membahagiakan
Hobi jangan jadi beban. Berbonsai itu membawa keramah-tamahan luar biasa kalau niatnya bersahaja.
2.Sabar, Telaten, Tekun
Tidak ada bonsai instan. Seperti menata birokrasi, butuh ketelitian dan proses panjang. Nilai bonsai akan meningkat berkali-kali lipat saat jadi mahakarya.
3.Mulai dari Jenis Mudah
Pemula disarankan ficus/beringin, anting putri, sancang, serut – jenis yang adaptif dan tahan cuaca.
4.Kuasai Teknik Dasar
Pruning agar daun mengecil dan rimbun, seleksi cabang yang tidak dipakai, wiring dengan kawat tapi segera lepas jika sudah masuk batang. Kuncinya keseimbangan anatomi seperti pohon asli di alam.
5.Silaturahim & Berbagi Ilmu
“Ilmu harus diasah dan jangan untuk diri sendiri,” pesan Prof. Zudan
Dari Hobi Jadi Ekonomi Kreatif
RUBI punya semboyan “Berkarya tanpa batas berkreasi tanpa henti” dan prinsip legendaris: Hobi Harus Hepi!
RUBI juga mendorong anak muda menekuni bonsai agar produktif dan jauh dari narkoba, sekaligus menggerakkan UMKM ekonomi kreatif.
“Siapapun Anda, kolektor, pembudidaya, bahkan penggemar saja boleh menjadi anggota RUBI. Sambil belajar bersama membuat bonsai, memajukan bonsai dan berwirausaha bonsai,” kata Prof. Zudan.
Di bawah Prof. Zudan, RUBI tumbuh menjadi lembaga legal yang mendorong UMKM. Nilai bonsai bisa fantastis – Bonsai Cianci miliknya pernah jadi Best in Show di Lamongan dengan nilai Rp 1,5 Miliar.
“Siapapun Anda, kolektor, pembudidaya, bahkan penggemar saja boleh jadi anggota RUBI. Sambil belajar bersama membuat bonsai, memajukan bonsai dan berwirausaha bonsai.”
Prof. Zudan juga mendorong generasi muda menekuni bonsai sebagai aktivitas produktif agar jauh dari narkoba.
Kelas ditutup dengan foto bersama di antara bonsai yang tertata harmonis.