Minggu, 11 Oktober 2026 | 11:25
OPINI

Mereka Tidak Dianugerahi Nobel

Mereka Tidak Dianugerahi Nobel
Ilustrasi mereka tidak dianugerahi nobel (Dok Askara)

OLEH: JAYA SUPRANA

ASKARA - Nobel Sastra adalah sayembara paling bergengsi di dunia yang mustahil objektif. Karena sastra tidak bisa diukur seperti fisika. Ia soal selera, soal bahasa, soal politik Stockholm tahun itu. Buktinya ada di daftar orang yang tidak pernah menang, padahal mereka yang justru mengubah cara kita membaca.

Daftarnya memalukan : 

Leo Tolstoy tidak pernah menang. Alasannya: pandangannya terlalu radikal, terlalu Kristen anarkis. Komite lebih suka memberi ke Sully Prudhomme yang kini tidak ada yang baca. Tolstoy mati 1910 tanpa Nobel, padahal nominasinya masuk tiap tahun.

Mark Twain mati 1910 juga. Terlalu Amerika, terlalu lucu. Nobel awal suka yang serius, Eropa, dan moralistis.

James Joyce. Ulysses 1922 membalikkan novel modern. Tapi Joyce dianggap terlalu cabul dan terlalu sulit. Ia tidak pernah masuk shortlist serius. Ia mati miskin di Zurich.

Franz Kafka. Lebih tragis lagi, ia mati 1924 tidak terkenal. Mirip nasib Van Gogh. Max Brod-lah yang menyelamatkan naskahnya. Nobel tidak bisa memberi hadiah pada orang yang karyanya belum diterjemahkan.

Virginia Woolf. Perempuan, eksperimental, dan Inggris yang tidak disukai komite Swedia yang saat itu konservatif. Ia mati 1941. Hadiah saat itu lebih sering ke sesama Skandinavia.

Jorge Luis Borges. Masuk nominasi berkali-kali di tahun 60-an. Alasannya ditolak: terlalu artifisial, dan pernah menerima penghargaan dari Pinochet. Politik mengalahkan sastra. Ia buta dan mati tanpa Nobel.

Haruki Murakami. Contoh modern. Tiap Oktober jadi meme di Jepang. Terlalu populer, terlalu mudah dibaca, terlalu diterjemahkan dengan baik. Komite sekarang takut dianggap mengikuti pasar.

Lalu kita. Indonesia.

Pramoedya Ananta Toer. Masuk nominasi beberapa kali di akhir 80-an. Karya Buru Quartet ditulis di penjara tanpa kertas. Tapi ia tidak bisa keluar negeri, paspornya ditahan Orde Baru, dan karyanya dilarang. Komite Nobel yang sangat peduli kebebasan ekspresi justru ragu karena ia tidak bisa datang kalau menang. Ia mati 2006.

Rendra. Penyair demonstran. Karyanya adalah panggung, bukan buku yang rapi untuk diterjemahkan ke Swedia. Nobel tidak tahu harus menilai teriakan.

Taufiq Ismail. Sastrawan masjid, produktif 60 tahun. Tapi ia menulis dalam tradisi Islam Melayu yang tidak punya jalur terjemahan ke bahasa Swedia. Nobel hampir tidak pernah membaca sastra Indonesia langsung dari bahasa Indonesia.

Sutardji Calzoum Bachri. Presiden penyair Indonesia. Ia membebaskan kata dari makna. Bagaimana kamu menerjemahkan "O" atau "Shanghai" ke juri yang butuh alasan filosofis dalam bahasa Inggris? Ia terlalu avant-garde untuk juri yang mencari pesan kemanusiaan yang jelas.

*Okky Madasari. Novelis penerima anugerah Penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa serta Doktor Sosiologi Universitas Nasional Singapura, sementara ini masih belum dihargai Dewan Juri Nobel

Jadi apa pelajaran yang bisa dipetik dari sayembara bergengsi ini?

Pertama, Nobel Sastra bukan untuk mengukur siapa paling besar. Ia adalah kurasi selera 18 anggota Akademi Swedia pada tahun itu. Mereka punya bias bahasa: dari 120 pemenang, lebih dari 80 menulis dalam bahasa Eropa.

Kedua, Nobel Sastra alergi mereka yang terlambat dikenal. Kafka, Woolf, Pramoedya baru meledak setelah mereka tua atau mati.

Ketiga, Nobel Sastra takut pada yang terlalu populer. Tolstoy, Twain, Murakami dihukum karena terlalu dicintai pembaca biasa.

Penilaian Dewan Juri Nobel prerogative mutlak final absolut maka mustahil bisa diganggu-gugat.

Karena itu, jangan pakai Nobel untuk menentukan mahasastrawan. Nobel butuh mereka untuk tetap relevan, bukan sebaliknya. Tolstoy tetap Tolstoy tanpa medali. Pramoedya tetap Pram tanpa Stockholm.

 

Editor: Caecilia Eersta