Minggu, 11 Oktober 2026 | 00:11
COMMUNITY

Masalah Kopi Gayo Bukan di Pasar, Tapi di Produksi yang Anjlok Akibat Iklim

Masalah Kopi Gayo Bukan di Pasar, Tapi di Produksi yang Anjlok Akibat Iklim
Seminar Nasional Fakultas Pertanian Universitas Gajah Putih (UGP) yang digelar di Hotel Linge Land Takengon, Sabtu (10/10/2026). (Dok Barack)

ASKARA - Wakil Bupati Bener Meriah, Ir. Armia, mengungkapkan persoalan paling krusial yang dihadapi kopi Gayo saat ini bukan soal pasar, melainkan anjloknya produksi di tingkat kebun akibat perubahan iklim.

Hal itu disampaikan Ir. Armia dalam Seminar Nasional Fakultas Pertanian Universitas Gajah Putih (UGP) yang digelar di Hotel Linge Land Takengon, Sabtu (10/10/2026).

"Persoalan kita bukan di pasar, tapi di produksi. Salah satu penyebab utamanya adalah perubahan iklim yang nyata kita rasakan di kebun," tegas Wabup Bener Meriah, Armia.

Ia memaparkan, produksi kopi Gayo saat ini hanya berada di angka *40.000 ton*. Jumlah tersebut dinilai jauh dari potensi ideal dataran tinggi Gayo yang seharusnya bisa jauh lebih tinggi.

Ironisnya, meski produksi terbatas, kopi Gayo premium justru sulit dinikmati oleh pasar domestik sendiri.

"Harga kopi Gayo premium dunia sangat tinggi, sehingga pasar domestik tidak mampu membeli kopi Gayo. Akibatnya, kita malah impor kopi dari luar untuk kebutuhan dalam negeri," ungkapnya.

Problem 99

Wabup membeberkan problem klasik kopi Gayo yang belum terpecahkan: *99% ekspor, 1% domestik.*

"99 persen kopi Gayo kita ekspor dalam bentuk bahan mentah (green bean). Kita banyak kehilangan nilai tambah karena jual bahan mentah," sesalnya.

Kondisi ini diperparah dengan belum adanya ketangguhan (resiliensi) kopi arabika Gayo terhadap perubahan iklim. Padahal keunggulan Gayo sudah jelas memiliki nilai tambah tersertifikasi Indikasi Geografis (IG) yang diakui dunia.

Regenerasi Jadi Ancaman Importir

Isu lain yang menjadi kekhawatiran serius adalah lambatnya regenerasi kopi Gayo. Hal ini bahkan sudah membuat importir luar negeri cemas.

"Importir terancam keberlangsungan bisnis kopinya karena pasokan dari Gayo tidak stabil. Maka intensifikasi adalah metode yang paling cocok untuk meningkatkan produksi, bukan lagi ekstensifikasi," jelas Wabup.

Wabup juga menyoroti program pengadaan bibit yang janggal. "Wabup pertanyakan 15 juta pengadaan bibit kopi Arabika Gayo, sementara kebun induk kopi Gayo sendiri belum ada," tegasnya.

Respons MPKG

Menyikapi pernyataan tersebut, Masyarakat Perlindungan Kopi Gayo (MPKG), Zam Zam Mubarak, menilai pernyataan Wabup harus menjadi momentum penguatan perlindungan Kopi Gayo.

"Hal tersebut perlu penguatan perlindungan Kopi Gayo sekaligus mempercepat transformasi perkebunan kopi Arabika Gayo untuk memperkuat produksi dengan pendekatan teknologi pertanian berbasis mikroba dan digitalisasi," ujar Zam Zam.

 

Editor: Dar Edi Yoga