Sabtu, 10 Oktober 2026 | 17:22
OPINI

Setelah Euforia Juara Reda, Ke Mana Sepak Bola Indonesia Akan Melangkah?

Setelah Euforia Juara Reda, Ke Mana Sepak Bola Indonesia Akan Melangkah?
Ilustrasi euforia juara dan ke mana sepak bola indonesia melangkah (Dok Anggun)

Oleh: Anggun Aulia  *

ASKARA - Beberapa hari terakhir, sepak bola Indonesia kembali memberikan alasan untuk berpesta. Timnas Indonesia berhasil meraih gelar juara ASEAN Cup 2026 setelah melewati pertandingan yang penuh tekanan. Bagi saya, kemenangan tersebut bukan sekadar hasil pertandingan. Ia menjadi bukti bahwa ketika pemain, pelatih, dan seluruh ekosistem bekerja menuju tujuan yang sama, prestasi besar bukan sesuatu yang mustahil.

Namun, justru setelah trofi diangkat dan perayaan mulai mereda, muncul pertanyaan yang menurut saya jauh lebih penting: ke mana sepak bola Indonesia akan melangkah setelah ini?

Kemenangan memang layak dirayakan. Tetapi sepak bola yang kuat tidak dibangun hanya dari satu turnamen, satu generasi pemain, atau satu momentum. Jika kita ingin melihat Indonesia kembali meraih prestasi secara konsisten, gelar juara seharusnya diperlakukan sebagai awal, bukan garis akhir.

Selama ini, perhatian publik terhadap sepak bola sering bergerak mengikuti hasil pertandingan. Ketika menang, semua orang berbicara tentang kebanggaan. Ketika kalah, kritik datang dengan cepat. Pola seperti ini wajar karena sepak bola memang olahraga yang sangat dekat dengan emosi masyarakat. Namun, pembangunan sepak bola membutuhkan perhatian yang jauh lebih panjang daripada durasi satu pertandingan.

Menurut saya, pekerjaan rumah pertama adalah memastikan bahwa keberhasilan tim nasional tidak berhenti pada generasi pemain yang sedang berada di puncak performa. Regenerasi harus menjadi bagian dari sistem. Pemain muda perlu mendapatkan kompetisi yang berkualitas, pelatihan yang baik, fasilitas yang memadai, serta jalur pembinaan yang jelas dari usia dini hingga level profesional.

Artinya, keberhasilan Timnas seharusnya juga membuat kita bertanya tentang kondisi sepak bola di bawahnya. Berapa banyak anak Indonesia yang memiliki bakat tetapi tidak memiliki akses ke akademi atau fasilitas latihan? Berapa banyak pemain muda yang berhenti karena keterbatasan biaya? Dan berapa banyak talenta yang belum ditemukan karena pembinaan belum merata?

Pertanyaan tersebut penting karena negara dengan populasi besar seharusnya memiliki sumber daya manusia yang melimpah untuk dibina menjadi atlet. Namun jumlah penduduk saja tidak otomatis menghasilkan pemain berkualitas. Bakat membutuhkan sistem untuk tumbuh.

Kompetisi domestik juga menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan. Tim nasional membutuhkan pemain yang mendapatkan menit bermain dan pengalaman kompetitif secara konsisten. Liga yang sehat, profesional, dan memiliki standar pengelolaan yang baik akan menjadi fondasi penting bagi perkembangan pemain.

Selain pemain, kualitas pelatih juga menentukan. Pembinaan tidak cukup hanya dengan mencari pemain berbakat. Anak-anak muda membutuhkan pelatih yang memahami teknik, taktik, perkembangan fisik, dan karakter pemain. Karena itu, peningkatan kualitas pelatih di berbagai jenjang seharusnya berjalan bersamaan dengan pengembangan pemain.

Fasilitas juga tidak boleh hanya terkonsentrasi di kota-kota tertentu. Jika kita ingin membangun sepak bola yang lebih merata, lapangan, pusat latihan, kompetisi usia muda, dan akses terhadap pelatih berkualitas perlu tersedia di lebih banyak daerah. Banyak anak mungkin memiliki kemampuan, tetapi kesempatan untuk mengembangkan kemampuan tersebut belum tentu tersedia.

Di sisi lain, masyarakat juga memiliki peran. Kita sering menuntut pemain untuk menang, tetapi lupa bahwa proses membangun atlet membutuhkan waktu. Pemain muda membutuhkan ruang untuk melakukan kesalahan dan berkembang. Jika setiap kekalahan langsung dianggap sebagai kegagalan total, kita justru dapat menciptakan tekanan yang membuat proses regenerasi menjadi tidak sehat.

Media dan suporter juga dapat berkontribusi dengan membangun budaya apresiasi yang lebih seimbang. Prestasi memang perlu dirayakan, tetapi proses dan kerja keras di balik prestasi juga perlu dihargai. Kritik tetap penting, tetapi kritik seharusnya diarahkan untuk memperbaiki, bukan sekadar mencari siapa yang harus disalahkan ketika hasil pertandingan tidak sesuai harapan.

Menurut saya, kemenangan di ASEAN Cup dapat menjadi momentum untuk mengubah cara kita melihat sepak bola nasional. Jangan sampai setelah pesta selesai, perhatian terhadap pembinaan kembali berkurang dan kita baru kembali berharap ketika turnamen besar berikutnya tiba.

Jika pemerintah dan federasi memiliki peran dalam membangun kebijakan dan sistem, klub memiliki tanggung jawab dalam mengembangkan pemain, sekolah sepak bola menjadi ruang pembinaan awal, sementara masyarakat menciptakan lingkungan yang mendukung, maka keberhasilan tim nasional dapat memiliki fondasi yang lebih kuat.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan sepak bola Indonesia bukan hanya seberapa sering kita mengangkat trofi. Ukuran yang lebih penting adalah apakah kita mampu membangun sistem yang membuat prestasi tersebut dapat diulang oleh generasi berikutnya.

Bagi saya, trofi ASEAN Cup 2026 seharusnya tidak menjadi titik untuk berhenti dan mengatakan bahwa kita sudah berhasil. Justru sekarang waktunya bertanya apa yang harus dilakukan agar keberhasilan tersebut tidak menjadi cerita satu generasi.

Euforia akan reda. Poster kemenangan akan berganti. Pertandingan baru akan datang. Tetapi pekerjaan membangun sepak bola Indonesia tidak boleh ikut selesai ketika pesta berakhir.

Jika hari ini kita merayakan juara, maka besok kita harus mulai memikirkan bagaimana melahirkan juara berikutnya.

“Trofi adalah bukti bahwa kita bisa menang. Sistem yang kuat adalah alasan mengapa kita bisa terus menang.”

Sumber pendukung: pemberitaan terkini mengenai ASEAN Cup 2026 dan perkembangan sepak bola Indonesia, Oktober 2026.

 

* Penulis adalah mahasiswi Unpam

Editor: Caecilia Eersta