Jumat, 09 Oktober 2026 | 02:36
OPINI

Filsafat Kepantasan

Filsafat Kepantasan
Ilustrasi filsafat kepantasan (Dok Gemini)

OLEH: JAYA SUPRANA

ASKARA - Kepantasan bukan soal benar atau salah. Kepantasan soal tahu tempat. Etika bertanya "apakah ini benar?", kepantasan bertanya "apakah ini pantas dilakukan oleh saya, di sini, sekarang? Itu sebabnya kepantasan lebih kompleks ketimbang kebenaran.

1. Benar Belum Tentu Pantas.

Anda boleh menagih utang. Itu benar secara hukum. Tapi menagih utang kepada teman pada saat menghadiri upacara belasungkawa almarhumah ibunda beliau ? Benar, tapi tidak pantas.

Anda boleh memamerkan mobil listrik baru yang bebas pajak. Itu legal. Tapi memamerkannya di grup WhatsApp RT yang anggotanya sedang iuran untuk beli beras? Legal, tapi tidak pantas.

Filsafat modern melupakan kepantasan. Kita sibuk dengan hak. "Ini hak saya", "ini uang saya", "ini kebebasan berpendapat saya". Semua benar. Tapi filsafat kepantasan mengingatkan: hak tanpa kewajiban rasa pantas terhadap perasaan orang lain adalah kekerasan. Aristoteles menyebutnya phronesis - kebijaksanaan praktis. Bukan hanya tahu aturan, tapi tahu kapan aturan harus ditahan.

2. Kepantasan Adalah Etika Estetika.

Kepantasan bekerja seperti seni. Tidak ada rumusnya, tapi kita tahu ketika rusak.

Di Jawa, ada konsep pantes dan ora pantes . Tidak tertulis di KUHP. Tapi seorang lurah tahu, seorang ibu tahu. Anak muda yang tertawa keras saat rapat kematian, dikatakan ora pantes. Bukan melanggar hukum, tapi melanggar irama sosial.

Immanuel Kant bilang etika adalah kewajiban universal. Orang Jawa bilang: tidak. Kewajiban itu kontekstual. Yang pantas untuk raja, tidak pantas untuk rakyat. Yang pantas untuk orang tua, tidak pantas untuk anak muda. Kepantasan adalah etika yang mengakui hierarki, waktu, dan tempat. Seperti jenjang bahasa Jawa mulai dari ngoko sampai kromo inggil

Karena itu orang yang hanya belajar etika barat akan terlihat benar tapi menyebalkan. Dia akan menuntut haknya di mana saja. Orang yang belajar kepantasan akan terlihat diam, tapi menenangkan.

3. Krisis Kita Adalah Krisis Kepantasan.

Mengapa kita muak dengan politik hari ini? Bukan karena mereka melanggar hukum. Sebagian besar sudah licin secara hukum. Tax amnesty legal, tax holiday legal, mobil listrik bebas pajak legal, pejabat rangkap komisaris legal. Kita muak karena ora pantes.

Tidak pantas pejabat yang gajinya dari pajak rakyat flexing liburan di Eropa saat PPN naik 12%. Tidak pantas akademisi yang memaki monarki Thailand dari kafe di Jakarta tapi diam pada monarki anggaran di kampusnya sendiri.

Tidak pantas orang yang berteriak keadilan sosial sambil menikmati fasilitas bebas pajak yang dibayar oleh orang yang tidak dapat fasilitas.

Filsafat kepantasan tidak membutuhkan revolusi. Ia hanya butuh satu pertanyaan sebelum bertindak: jika semua orang melihat apa yang saya lakukan ini, apakah saya masih terlihat pantas?

Inti makna Filsafat Kepantasan utama terletak pada kemauan dan kemampuan mawas diri didampingi daya mawas kenisbian ruang dan waktu, serta bukan melihat kuman di seberang lautan namun justru gajah di pelupuk mata sendiri.

 

Editor: Dar Edi Yoga