OLEH: JAYA SUPRANA
ASKARA - Untuk ke sekian kali saya tegaskan bahwa sama dengan Kriminalogi bukan ilmu berbuat kriminal maka Kelirumologi bukan ilmu berbuat kekeliruan namun ikhtiar menelaah kekeliruan
Bangsa ini tidak pernah kekurangan gagasan. Dari tahun ke tahun, gudang idenya penuh: cemerlang, mulia, dan ditepuk tangan saat upacara presentasi. Yang kita belum punya adalah jurusan kuliah untuk mewujudkannya tanpa mengacaukannya. Maka lahirlah ilmu baru : Kelirumologi Pewujudan Gagasan.
1. Apa Itu Kelirumologi?
Sederhana. Keliru + mologi = Ilmu yang menelaah kekeliruan.
Pewujudan Gagasan = Proses mengubah slogan di spanduk menjadi kenyataan di lapangan.
Hasilnya: Seni mengubah "untuk rakyat" menjadi "untuk rapat" dengan mulus.
II. Praktikum Lapangan: Museum Gagasan yang "Hampir" Jadi
Mari kita bedah beberapa spesimen terbaik:
a) MBG: Makan Bergizi Gratis
Gagasannya mulia: Anak sekolah fokus belajar karena perut kenyang dan gizi terpenuhi. Hasil telaah Kelirumologi: Menunya datang telat, porsinya kurang, distributornya numpuk. Gizi lengkapnya ada di poster. Gratisnya iya, tapi yang kenyang cuma yang cepat. Dan belum lagi terhitung kebocoran anggaran akibat korupsi. Plus makanan basi sebab distibusi lamban. Korban sudah lebih dari 50.000 pada saat naskah ini ditulis sehingga layak dimaklumatkan sebagai Bencana Nasional.
b) KDMP: Koperasi Desa Merah Putih
Gagasannya: Ekonomi dari desa, oleh desa, untuk desa. Harga sembako stabil.
Hasil Kelirumologi: Namanya koperasi, isinya pelatihan. Modalnya "sedang diproses". Produk utamanya: foto peresmian. Merah Putih-nya kuat di banner.
c) Pendidikan Gratis
Gagasannya: Pintar tidak boleh tergantung isi dompet.
Hasil Kelirumologi: SPP nol rupiah. Tapi LKS, seragam, ujian praktik, iuran gedung: tetap ada. Gratis di pengumuman, bayar di lapangan. Pendidikan seolah gratis.
d). Pelayanan Kesehatan Gratis & Sembako Murah
Gagasannya: Sehat dan kenyang adalah hak dasar.
Hasil Kelirumologi: Gratis kalau kuat antri dari jam 3 pagi. Murah kalau stoknya belum habis jam 7. Kalau tidak kebagian, ada opsi "tidak gratis tapi tersedia".
e). Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Gagasannya: Sila ke-5. Paling sakti, paling sering diucapkan.
Hasil Kelirumologi: Keadilannya cepat untuk yang bersuara keras. Keadilan sosialnya hadir untuk yang punya akses. Sisanya: disuruh sabar. Kenyataan sila ke lima Pancasila masih jauh dari terwujud.
III. 3 Hukum Alam Kelirumologi
Setelah diamati, pola kelirunya selalu sama:
1. Hukum Pelebaran Panitia: Semakin penting gagasannya, semakin banyak timnya. Semakin banyak timnya, semakin tidak jelas siapa yang bersalah. Semakin banyak kokinya, hidangannya makin kacau balau.
2. Hukum Mutasi Anggaran: Dana akan otomatis bermutasi dari pos "bantuan langsung" ke pos "sosialisasi, bimtek, dan studi banding".
3. Hukum Selfie Akhir Proyek: Keberhasilan diukur dari jumlah foto pejabat bagi-bagi bantuan, bukan dari harga di pasar 3 bulan kemudian.
Pertanyaannya : Vaksinnya Apa?
Kelirumologi pewujudan gagasan tidak akan punah selama kita mengira "mengumumkan gagasan" = "sudah selesai bekerja". Gagasan bagus tanpa eksekusi jujur itu seperti resep masakan yang ditempel di pintu kulkas. Wangi, tapi tidak mengenyangkan. Maka PR kita bukan nambah gagasan baru. : Vaksinnya belajar anti-keliru. Mulai dari hal paling dasar: tepat sasaran, tepat waktu, tepat jumlah, dan bisa dipertanggungjawabkan datanya. Kalau tidak, 10 tahun lagi kita hanya akan punya museum baru. Namanya: MGBGT = Museum Gagasan Bagus Gagal Terwujud. Dan tiket masuknya, akibat kurasi mahal akibat inefisiensi dan mark-up terpaksa dibayar mahal oleh rakyat dengan uang rakyat.