Selasa, 06 Oktober 2026 | 18:18
NEWS

Dukung Bajaj Listrik, Organda Minta Skema Kredit Ringan dari LPDB dan Koperasi

Dukung Bajaj Listrik, Organda Minta Skema Kredit Ringan dari LPDB dan Koperasi
Model Bajaj Listrik (dok.askara)

ASKARA - Upaya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menata kembali angkutan lingkungan, khususnya bajaj, mendapat sambutan positif dari Dewan Pimpinan Unit (DPU) Organda Angkutan Lingkungan.

Ketua DPU Organda Angkutan Lingkungan, Petrus Tukimin, menilai langkah Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta untuk melakukan pendataan dan penataan ulang bajaj sebagai angin segar bagi para pemilik dan pengemudi yang kondisinya kian memprihatinkan di tengah persaingan moda transportasi baru.

Hal itu disampaikan Petrus usai rapat koordinasi bersama Dishub DKI Jakarta, Selasa (6/10/2026). Rapat tersebut membahas langkah komprehensif mulai dari pendataan ulang jumlah bajaj di lima wilayah Jakarta, peninjauan pangkalan, kejelasan Surat Izin Mengemudi (SIM), pendidikan dan pelatihan (diklat) pengemudi, hingga skema pembiayaan peremajaan armada melalui LPDB dan koperasi.

"Kami menyambut baik langkah Dishub DKI untuk melakukan penataan kembali bajaj. Yang penting, hasil rapat ini jangan berhenti pada pendataan dan pembahasan, tetapi segera diterjemahkan menjadi program nyata yang dirasakan langsung oleh pemilik dan pengemudi bajaj," tegas Petrus.

Bukan Sekadar Transportasi, Tapi Identitas Jakarta

Menurut Petrus, isu bajaj tidak bisa dilihat semata sebagai persoalan transportasi. Lebih dari itu, bajaj telah menjadi ikon, identitas, dan bagian dari sejarah wajah Ibu Kota selama puluhan tahun.

Ia mencontohkan kota-kota besar di dunia yang tetap mempertahankan moda transportasi tradisionalnya sebagai daya tarik wisata.

"Kita bisa melihat kota-kota besar di negara lain yang tetap mempertahankan moda transportasi tradisional sebagai bagian dari identitas dan daya tarik wisata. Jadi modernisasi tidak selalu berarti menghilangkan yang lama. Bajaj bisa tetap dipertahankan, tetapi kendaraannya diremajakan dan sistemnya ditata agar lebih aman, nyaman dan ramah lingkungan," katanya.

Dorong Bajaj Listrik dengan Skema Cicilan Ringan

Terkait peremajaan, Petrus tidak terpaku pada satu jenis teknologi, namun ia melihat bajaj listrik sebagai alternatif paling relevan. Selain rendah emisi dan sejalan dengan kebijakan kendaraan listrik pemerintah, bajaj listrik juga berpotensi menekan polusi udara Jakarta.

Namun, ia memberikan catatan kritis: harga kendaraan baru harus terjangkau.

"Kalau bicara peremajaan, kita harus melihat kemampuan para pemilik bajaj. Kendaraan listrik bisa menjadi salah satu alternatif karena lebih ramah lingkungan. Tetapi harga kendaraannya harus terjangkau. Jangan sampai program peremajaan justru membuat mereka semakin terbebani," jelasnya.

Karena itu, ia mendorong Pemprov DKI melalui Dishub untuk mengawal skema pembiayaan yang ringan dan realistis.

"Kuncinya ada di pembiayaan. Kalau pemerintah, Dishub, LPDB dan koperasi bisa membuat skema kredit dengan bunga yang ringan dan persyaratan yang sesuai dengan kemampuan pengemudi, saya kira peremajaan bajaj sangat mungkin dilakukan," ujar Petrus.

Jangan Hanya Hitung Jumlah, Petakan Kondisinya

Petrus juga meminta pendataan yang dilakukan Dishub tidak sekadar menghitung jumlah unit. Ia meminta agar pendataan memetakan kondisi fisik kendaraan, status kepemilikan, lokasi pangkalan, jumlah pengemudi, hingga kemampuan ekonomi pelaku usaha.

Termasuk soal kejelasan SIM dan diklat untuk meningkatkan standar keselamatan dan kualitas pelayanan.

"Penataan harus menyentuh dua sisi. Pemerintah ingin transportasi semakin tertib, aman dan ramah lingkungan, tetapi di sisi lain para pemilik dan pengemudi bajaj juga harus mendapatkan kepastian untuk tetap bisa mencari nafkah. Jangan sampai penataan justru membuat mereka tersingkir," tegasnya.

Ia berharap ada political will yang kuat dari Pemprov DKI untuk menjadikan program ini sebagai titik temu antara pelestarian ikon kota dengan modernisasi transportasi.

"Bajaj jangan sampai hilang ditelan zaman. Yang perlu kita lakukan adalah memperbarui dan menatanya. Kalau bisa menjadi lebih bersih, lebih aman, lebih nyaman, menggunakan teknologi listrik, dan terintegrasi dengan sistem transportasi serta pariwisata Jakarta, kenapa tidak? Yang kita pertahankan adalah ikon Jakartanya, sementara teknologinya kita sesuaikan dengan perkembangan zaman," pungkasnya.

Editor: Husnie