Selasa, 06 Oktober 2026 | 13:10
NEWS

Paus Leo XIV: Jadilah Saksi Harapan dan Perajin Perdamaian di Semenanjung Korea

Paus Leo XIV: Jadilah Saksi Harapan dan Perajin Perdamaian di Semenanjung Korea
Pope Leo bersama Kardinal Lazarus You Heung-sik (Dok Vatican)

ASKARA - Paus Leo XIV mengajak para imam, biarawati, dan kaum religius Korea untuk menjadi “saksi-saksi harapan” bagi kaum muda yang akan menghadiri Hari Pemuda Sedunia atau World Youth Day (WYD) 2027 di Seoul.

Lebih dari itu, Paus meminta mereka menjadi “perajin perdamaian” di tengah luka perpecahan yang masih dirasakan di Semenanjung Korea.

Pesan tersebut disampaikan Paus Leo XIV ketika menerima sekitar 170 imam, biarawati, dan kaum religius Korea dalam audiensi di Vatikan, 5 Oktober 2026. Sebagian dari mereka terlibat dalam persiapan penyelenggaraan WYD 2027 di Seoul.

Di hadapan mereka, Paus mengingatkan bahwa perjalanan Gereja Katolik di Korea memiliki akar yang sangat kuat pada kesaksian para martir. Korea, yang dahulu merupakan tanah misi, kini justru menjadi tanah yang mengutus para misionaris.

Menurut Paus Leo, iman yang diwariskan melalui pengorbanan para martir Korea memiliki kekuatan untuk memberikan dorongan misioner baru. “Ingatan melahirkan misi, dan misi membuka jalan menuju harapan,” katanya.

Karena itu, WYD 2027 di Seoul diharapkan tidak sekadar menjadi pertemuan akbar anak muda Katolik dari berbagai negara. Paus ingin perjumpaan tersebut menjadi jembatan antara kenangan iman masa lalu dan masa depan Gereja.

“Kaum muda dari seluruh dunia akan tiba di tanah tempat Injil berakar melalui kesaksian para martir,” ujar Paus. Para martir, lanjutnya, mewariskan iman kepada generasi baru, sementara kaum muda menerimanya untuk kemudian membawa iman tersebut ke jalan-jalan dunia.

Paus Leo juga memberikan perhatian khusus kepada kaum muda. Ia mengajak seluruh pihak yang terlibat dalam persiapan WYD untuk terlebih dahulu mendengarkan suara generasi muda, berjalan bersama mereka, dan membantu mereka menemukan makna mengikuti Kristus.

Menurut Paus, mengikuti Kristus bukan berarti kehilangan kebebasan. Sebaliknya, iman justru membawa manusia kepada kepenuhan kebebasan dan membuka kehidupan pada cakrawala yang lebih luas.

Ia meminta persiapan WYD 2027 dilakukan dengan penuh antusiasme sembari menghidupi pesan Yesus, “Beranilah! Aku telah mengalahkan dunia!”

Pesan itu, menurut Paus, tercermin dalam perjalanan para martir Korea. Harapan mereka tidak bertumpu pada keadaan yang selalu menguntungkan, melainkan pada keyakinan bahwa Kristus telah menang.

Paus menyebut sejumlah tokoh martir Korea, termasuk Santo Andreas Kim Tae-gon dan Santo Paulus Chong Ha-sang. Kesaksian mereka menjadi bagian penting dari perjalanan Gereja Katolik di Korea yang bertumbuh melalui pengorbanan dan keteguhan iman.

Dalam sejarahnya, rakyat Korea juga telah melewati berbagai masa sulit, mulai dari penganiayaan, perang, kemiskinan hingga perpecahan. Namun, Paus melihat adanya kekuatan jiwa yang memungkinkan bangsa itu untuk bangkit dan terus memandang masa depan.

Dalam konteks itulah, Paus Leo mengajak para imam dan kaum religius Korea memelihara persahabatan dengan Kristus. Persahabatan tersebut, katanya, membuka jalan menuju persaudaraan.

Keragaman latar belakang keuskupan, lembaga, kongregasi, dan pengalaman hidup yang dimiliki para peserta justru diharapkan menjadi kekuatan bagi Gereja yang berjalan bersama atau sinodal.

Dalam Gereja sinodal, kata Paus, sesama tidak dilihat sebagai saingan, melainkan sebagai saudara, saudari, dan teman seperjalanan.

Pesan tersebut menjadi semakin penting bagi Semenanjung Korea yang hingga kini masih membawa luka perpecahan. Karena itu, Paus Leo mengajak umat untuk terus bekerja dan berdoa agar jalan-jalan perjumpaan baru terbuka.

“Semoga Injil perdamaian dapat diwartakan secara bebas di setiap bagian Semenanjung Korea dan di seluruh dunia,” pesan Paus Leo XIV.

WYD 2027 di Seoul dengan demikian bukan hanya menjadi agenda Gereja bagi kaum muda dunia. Perhelatan tersebut juga membawa harapan akan sebuah perjumpaan yang mempertemukan generasi muda dengan warisan iman para martir sekaligus menghadirkan pesan persaudaraan dan perdamaian bagi dunia.

 

Editor: Caecilia Eersta

Berita Terkait