ASKARA - Ada yang tak banyak orang tahu. Di balik limbah cangkang kepiting dan udang yang dibuang di pantai Timor Leste, tersimpan harta karun yang nilainya 4 kali lipat dari industri semikonduktor dunia.
Fakta mencengangkan itu diungkap Pakar Kelautan dan Perikanan, Prof. Dr. Rokhmin Dahuri, M.S., dalam Cetak Biru (Blueprint) Ekonomi Biru untuk Pengembangan Terpadu Perikanan Tangkap, Akuakultur, dan Pariwisata Bahari yang ia serahkan kepada Wakil Perdana Menteri Timor-Leste, H.E. Francisco Kalbuadi Lay, di Kantor Wakil Perdana Menteri, Dili, Senin (5/10).
"Marine Biotechnology Industry is a huge market, about four times the size of the current semiconductor market," kutip Anggota DPR RI 2024-2029 itu dari Kementerian Kelautan Korea Selatan.

Dari Cangkang Jadi Jantung Buatan
Dalam presentasinya, Ketua Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) dan Ketua Badan Eksekutif Pusat PDI Perjuangan untuk Urusan Kelautan dan Perikanan ini menunjukkan alur ajaib:
Kitin dari cangkang kepiting, udang, lobster, dan bintang laut diolah menjadi kitosan, lalu dengan teknologi electrospraying bisa menjadi:
• Implan ortopedi (tulang) • Implan gigi • Implan jantung • Pembalut luka canggih • Penghantar obat kanker
Sementara kolagen dari kulit ikan nila dan ubur-ubur menjadi bahan baku skincare anti-aging dan peptida bioaktif. Bahkan tiram pun tak ada yang terbuang: dagingnya untuk ekspor premium, cangkangnya menjadi pupuk hayati dan penjernih air.

Bukti Nyata Sudah Ada di Indonesia
Ini bukan teori. Di Kendal, Indonesia, perusahaan Evergen sudah memproduksi 500 kg astaxanthin per bulan dari alga, diekspor ke AS, Korea Selatan, dan Jepang untuk kosmetik mahal. Di Semarang, PT Alga Bioteknologi Indonesia memproduksi 500 kg spirulina per bulan untuk suplemen dan pakan.
Potensi industri turunan rumput laut Indonesia saja ditaksir mencapai IDR 192 Triliun. Sayangnya, 66,61% ekspor kita masih berupa rumput laut kering mentah. Padahal potensi hilirisasi pada 2030 mencapai US$ 11,8 miliar untuk bioplastik, protein alternatif, dan farmasi.

Potensi Raksasa dari Udang
Blueprint ini membongkar potensi fantastis sektor akuakultur Timor Leste yang masih dalam tahap awal. Pada 2024, tercatat hanya 2.846 pembudidaya dengan produksi 600 ton ikan.
Blueprint memproyeksikan, hanya dari 2.000 hektare tambak udang Vannamei saja, Timor Leste bisa menghasilkan:
• Produksi 80.000 ton per tahun • Pendapatan kotor USD 400 juta atau Rp 6,5 Triliun per tahun • Pendapatan bersih USD 200 juta per tahun • Menyerap 76.000 tenaga kerja
Untuk mewujudkan itu, Timor Leste didorong tidak lagi menggunakan cara tradisional. China baru saja meresmikan kapal budidaya pintar 150.000 ton "Guoxin No 1 2-2" di Qingdao dengan kapasitas 100.000 m³ untuk budidaya salmon, serta platform semi-submersible "Zhanjiang Bay 1" yang tahan badai dan berenergi hijau dengan produksi 2.000 ton per tahun.
Lokasi emas di Timor Leste sudah dipetakan: teluk terlindung di Atabae, Bobonaro, Laguna Dolok Uan di Cristo Rey, dan Teluk Tibar, Likusa.
Bukan Bali Kedua, Tapi Lebih Eksklusif
Dengan modal 814 spesies ikan, terumbu karang pristine, dan migrasi paus, Timor Leste dilarang meniru mass tourism Bali. Ia harus menjadi destinasi high-value, low-impact.
Fokus pengembangan: (1) Koridor Paus Dili-Liquica-Atauro, (2) Biosfer Nino Konis Santana, dan (3) Klaster Komunitas Oecusse-Ambeno.
Blueprint juga membagi strategi tiga pilar akuakultur: Marikultur (Kerapu, Barramundi, Lobster, Tiram Mutiara), Air Payau (Vannamei, Bandeng, Kepiting), dan Air Tawar (Nila, Mas, Gurame, Lele, Patin dengan model Danau Toba).
Semua wajib menerapkan 8 Praktik Terbaik Akuakultur, mulai dari benih unggul SPF/SPR, pakan otomatis berbasis suara, hingga akuakultur pintar berbasis Big Data, Blockchain, AI, dan drone.
"Ekonomi kelautan yang tumbuh dengan merusak terumbu karang dan mangrove tidak bisa disebut Ekonomi Biru. Yang kita tuju adalah pertumbuhan yang sejahtera dan berkelanjutan," tegas Menteri Kelautan dan Perikanan periode 2001-2004 itu.