ASKARA - Ada sesuatu yang menarik dari sebuah panggung wayang orang. Sebelum lampu pertunjukan menyala dan cerita dimulai, ada proses panjang yang sering kali tidak terlihat. Ada keringat, latihan berulang, belajar gerak, mengolah ekspresi hingga berusaha memahami jiwa dari tokoh yang akan diperankan.
Suasana itulah yang terlihat dalam persiapan pertunjukan Wayang Orang Kunti: Perempuan dan Takdir. Para pemain mulai menjalani latihan dengan serius, termasuk mantan Panglima TNI Laksamana TNI (Purn) Yudo Margono dan Vero Yudo yang tampak ikut dalam proses latihan.
Momen tersebut dibagikan Aylawati Sarwono melalui akun Instagram-nya beberapa waktu lalu. Dalam unggahannya, terlihat para pemain berlatih langsung bersama Wayang Orang Bharata, kelompok seni pertunjukan yang telah lama menjadi bagian dari perjalanan wayang orang di Indonesia.
Di ruang latihan itu, tidak ada panggung megah atau sorotan lampu. Yang ada adalah proses belajar. Para pemain mencoba memahami setiap gerakan, ekspresi dan karakter agar kisah Dewi Kunti nantinya dapat hadir secara hidup ketika dipentaskan.
Latihan menjadi penting karena Kunti: Perempuan dan Takdir tidak sekadar membawa cerita pewayangan ke atas panggung. Pertunjukan ini mencoba mengajak penonton melihat Kunti sebagai seorang perempuan dengan perjalanan hidup yang tidak sederhana.
"Tokoh pemeran Kunti adalah istri Kasal, yang juga Ketua Umum Jalasenastri, Ibu Fera Muhammad Ali," ungkap Aylawati, Minggu (4/10/2026).
Dalam kisah pewayangan, Kunti dikenal sebagai ibu para Pandawa. Namun di balik sosok seorang ibu, tersimpan perjalanan panjang seorang perempuan yang harus berhadapan dengan pilihan, kehilangan, tanggung jawab dan takdir yang tidak selalu berjalan seperti yang diharapkan.
Kunti adalah perempuan yang kuat, tetapi kekuatannya tidak selalu ditunjukkan melalui perlawanan. Ia justru banyak menghadapi kehidupan dengan kesabaran, keteguhan dan pengorbanan.
Di situlah kisah Kunti terasa dekat dengan kehidupan manusia. Ada saat ketika seseorang harus menerima kenyataan yang tidak bisa dipilihnya. Ada pula keadaan ketika seseorang tetap harus berdiri, meski hidup memberinya beban yang berat.
Pesan tersebut pula yang ingin dibawa melalui pertunjukan ini. Bahwa kekuatan seorang perempuan bukan hanya tentang seberapa keras ia menghadapi dunia, tetapi juga tentang kemampuannya menjaga hati, keyakinan dan jati diri ketika berada dalam situasi yang sulit.
Proses latihan bersama Wayang Orang Bharata menjadi bagian dari perjalanan untuk menemukan jiwa tersebut. Gerakan tidak sekadar harus terlihat benar, tetapi juga harus mampu menyampaikan perasaan dan cerita.
Keterlibatan Yudo Margono dan Vero Yudo pun memberikan warna tersendiri. Dari dunia yang selama ini lekat dengan kedinasan dan kepemimpinan, keduanya terlihat menikmati proses memasuki ruang seni tradisi yang membutuhkan kesabaran dan ketekunan.
Panggung wayang orang akhirnya menjadi ruang pertemuan berbagai latar belakang. Semua berangkat dari proses yang sama: belajar, berlatih dan bekerja bersama agar sebuah cerita dapat disampaikan dengan baik kepada penonton.
Pertunjukan ini merupakan persembahan Laskar Indonesia Pusaka bersama Jaya Suprana School of Performing Arts, sekaligus membawa misi sosial untuk mendukung Yayasan Kanker Payudara Indonesia.
Dengan demikian, kisah Kunti tidak berhenti sebagai cerita dari dunia pewayangan. Ia juga menjadi jembatan untuk berbicara tentang perempuan, keteguhan hati dan kepedulian terhadap sesama.
Setelah melewati rangkaian latihan, kisah Kunti: Perempuan dan Takdir akan dibawa ke panggung Gedung Kesenian Jakarta.
Pertunjukan pertama dijadwalkan pada 7 November 2026, disusul pertunjukan kedua pada 8 November 2026.
Sebelum tirai dibuka dan lampu panggung dinyalakan, para pemain masih akan terus berlatih. Sebab, sebuah pertunjukan yang menyentuh hati penonton biasanya lahir bukan hanya dari bakat, tetapi dari kesungguhan orang-orang yang bersedia menjalani proses di balik panggung.
Dan melalui Kunti, penonton diajak kembali melihat satu hal sederhana: takdir mungkin tidak selalu dapat dipilih, tetapi bagaimana seseorang menjalaninya tetap menjadi bagian dari kekuatan manusia.