Selasa, 07 Mei 2024 | 16:46
NEWS

Ketika Diaspora Katolik Indonesia Mengawali Perdamaian Dunia

Ketika Diaspora Katolik Indonesia Mengawali Perdamaian Dunia
Pastor Leo Mali bertemu Paus Fransiskus, 25 Desember 2019

ASKARA - Warga Katolik Indonesia yang berada di luar negeri (diaspora), mengawali perdamaian dunia dengan mengadakan perayaan Natal virtual dengan tema "Dari Indonesia Diutus Ke Seluruh Dunia. Acara tersebut akan digelar secara online (live) dari Gereja Santa Caterina da Siena a Magnanapoli, Roma, Rabu (31/12) pukul 13.00 WIB atau 07.00 Waktu Italia (Eropa).

Akan hadir dan memberikan sambutan di acara yang baru pertama kali diadakan dalam sejarah antara lain, Mgr Ignatius Kardinal Surharyo (Ketua KWI), Pdt. Gomar Gultom (Ketua PGI), KH Said Aqil Siradj (Ketua Umum PBNU), Johnny G Plate (Menkominfo), Retno Marsudi (Menlu RI), Yohanes Bayu Samodro (Dirjen Bimas Katolik), Laurentius Amrih Jinangkung (Dubes RI Untuk Tahta Suci), Cheppy T. Wartono (Dubes RI Untuk Meksiko), Yohanes K. Legowo (Dubes RI Untuk Australia), Jose Antonio Morato Tavares (Dubes RI untuk Rusia), Ignatius Jonan (Tokoh Katolik Indonesia), dan Christina Aryani (Anggota DPR).

Pemrakarsa acara, Pastor Leo Mali menjelaskan, Natal Diaspora Indonesia tersebut diharapkan dapat mendorong terbangunnya komunikasi dan saling dukung antara komunitas-komunitas umat Katolik Indonesia di seluruh dunia dan mendorong refleksi Gereja Indonesia sehubungan peran serta tugas evangelisasi gereja yang telah, sedang dan akan terjadi untuk Gereja Diaspora. 

"Dalam konteksi ini, warga Indonesia Katolik di luar negeri (diaspora) perlu didorong untuk semakin menyadari merupakan bagian tak terpisahkan dan bagian dari komponen bangsa Indonesia, untuk mempromosikan nilai-nilai ke-Indonesiaan seperti kerukunan, kekeluargaan, budaya inklusif dan nilai-nilai Kristiani yang terikat dengan adat dan budaya Indonesia yang sangat kaya dan beragam,” tegas Leo Mali, Rabu (30/12).

Tema perayaan Natal itu, kata Leo Mali, untuk memaknai arus pewartaan kabar gembira Gereja Katolik untuk dunia. Latar belakangnya adalah Indonesia pada saat ini menjadi salah satu “negara pengekspor” para rohaniwan-rohaniwati Katolik ke luar negeri dan dari waktu ke waktu terus bertambah. Kenyataan ini menandai sebuah arus baru evangelisasi. 

Kalau beberapa abad lalu para misionaris dari Eropa datang mewartakan injil di kepulauan Nusantara (juga di Asia, Afrika, serta Amerika Latin), maka di abad ini sejumlah rohaniwan/religius dari luar Eropa termasuk Indonesia datang dan mewartakan Injil di Eropa. 

“Di Italia dan di Vatikan sendiri, saat ini terdapat lebih dari 1600-an rohaniwan dan religius Indonesia. Seorang Imam bekerja di Vatikan. Beberapa orang Imam dan suster bekerja sebagai anggota dewan jenderal bahkan tiga orang Imam Indonesia saat ini menjadi superior jenderal kongregasi religius. Sejumlah suster/bruder dan Imam lainnya berada di Italia untuk jangka waktu tertentu untuk tugas belajar," ujarnya.

Leo Mali berharap, dengan kerja sama KKI se-Dunia dan para rohaniwan-rohaniwati yang berkarya di luar negeri, akan mewujudkan langkah yang tepat menyuarakan perdamaian secara nyata untuk dunia. Indonesia akan memainkan peranan penting dalam terwujudnya perdamaian dunia melalui pewartaan kabar gembira.

Dikatakan Leo Mali, acara ini terselenggara atas dukungan Jaringan Komunitas/Keluarga Katolik Indonesia (KKI) Diaspora Sedunia. Mereka yang terlibat antara lain Frans Simarmata (KKI Sidney), Stephanus Titus Widjaja (KIS Singapura), Shirley Hadisandjaja (Milan-Italia) Victor Fernandez (KKI Mexico), Ronny Rusli (KKI Dallas-USA) dan Yolanda Gomulya (KKI Swiss). Sementara tim media dikerjakan oleh OMK Singapur, OMK Milan serta didukung Jaringan relawan KKI di Tokyo Hongkong, Belanda dan Belgia.

Komentar