Senin, 30 November 2020 | 08:01
OPINI

Kisah Pilu Di Hari Terakhirnya Bung Karno (Bag. 1 / 3)

Kisah Pilu Di Hari Terakhirnya Bung Karno (Bag. 1 / 3)
Bung Karno

Sehari setelah Soeharto diangkat jadi Presiden RI Bung Karno diusir dari Istana dan diperlakukan lebih buruk daripada nasib seorang Pembantu Rumah Tangga. Dimana beliau harus keluar dari Istana dlm jangka waktu dua kali 24 jam. Tanpa ada satu pun barang yang menjadi miliknya boleh di bawa termasuk arloji maupun cincinnya.

Dengan wajah sedih dan tegap ia menerima kenyataan pahit ini. Namun tanpa bisa ditahan lagi, beberapa tetes air mata beliau turut turun berlinang di pipinya saat beliau membungkus Bendera Pusaka dengan koran dan memasukan ke dalam kaos oblongnya. Bendera pertama yang dijahit dengan tangan oleh Ibu Fatmawati. Beliau khawatir bendera pusaka ini tidak akan dirawat oleh mereka yang lebih mementingkan kekuasan pada saat itu.

Setelah itu beliau mengumpulkan para ajudannya untuk pamit dari mereka. Para ajudannya yang belum ditangkap dengan tuduhan Gestapu turut menangis terharu sedih dan protes: “Kenapa Bapak tidak melawan?”

Namun beliau menjawab dgn suara sabar dan penuh keikhlasan: “Kalau saya melawan akan terjadi perang saudara antar sesama bangsa. Hal inilah yang ingin saya hindari. Daripada saya mengorbankan rakyat saya sendiri. Biarlah saya yang menderita. Lebih baik saya yang menderita dan mati hancur terkoyak daripada mengorbankan mereka mati terbunuh demi saya!”

Di hari terakhir itu, ia merasa lapar. Maklum seharian ia belum makan. Beliau hanya minta dimasakan makanan ala kadarnya. Para pembantu mengatakan, bahwa mereka sudah lama tidak diberi uang untuk masak. Yang tersisa hanya sayur Lodeh dan Nasi Basi. Namun dengan sabar dan senyum ia menjawab: “Sayur lodeh yang sudah basi tiga hari pun kalau dihangatkan lagi pasti enak dan bisa dimakan!”

Pada saat Bung Karno ingin membenahi pakaiannya, ia dihardik dan dinyatakan sudah tidak ada waktu lagi. Maka dari itu ia keluar dari istana hanya dengan kaos oblong putih cap Cabe yang melekat di tubuhnya dan sandal Bata yang sudah usang! Maklum ia sudah tidak diberi waktu lagi untuk membenahi pakaian pribadinya, sehingga seluruh pakaiannya pun harus ditinggalkan di istana.

Beliau meninggalkan istana dengan didampingi oleh ajudannya Nitri naik mobil VW kodok. Mengingat seharian ia belum makan. Dalam perjalanan ia ingin beli duku untuk menahan rasa lapar. Namun kenyataan pahit yang harus ia terima; dimana tidak ada uang satu Rupiah pun yang ia miliki.

Ajudan mengeluarkan uang dari dompetnya. Tri menyuruh duku yang dibelinya diantar ke mobil dimana Bung Karno berada. Begitu tukang duku melihat Bung Karno berada. Ia berteriak dengan pekik gembira: “Ada pak Karno, ada pak Karno…”

Hal ini menimbulkan ketertarikan dari banyak orang. Bung Karno tersenyum, mendengar teriakan si tukang duku. Namun ia menyadari hal ini akan menimbulkan praduga seakan-akan ia sedang menggalang masa.

Dan beliau khawatir nantinya kaum rakyat kecil inilah yang akan dijadikan korban kekerasan maupun sasaran para tentara. Oleh sebab itulah walaupun perut lapar. Ia menyuruh Tri untuk segera langsung berangkat pergi. Tanpa ada sebuahpun duku yang dibelinya. Hari itu terpaksa beliau seharian tidak makan !

Tidak bisa dipungkiri bahwa Sukarno adalah Presiden yang paling melarat. Boro-boro uang simpanan, rumah pribadipun tidak pernah ia miliki.

Bersambung

Mang Ucup

Menetap di Amsterdam, Belanda

 

Komentar