Minggu, 21 April 2024 | 17:46
OPINI

Geng Motor Jang Udin vs Cross Boys Jang Ucup

Geng Motor Jang Udin vs Cross Boys Jang Ucup
Jang Udin dan Jang Ucup

Oleh: Mang Ucup *)

ASKARA - Tentang pemberontakan kaum remaja terhadap budaya dan lingkungannya, salah satu film yang membawa pengaruh besar terhadap perilaku remaja di tahun 1955 adalah film “Rebel Without a Cause” yang diperankan oleh James Dean (Jang Udin).

Berpegang pada moto “Keberanian hanya bisa diukur melalui perkelahian ataupun kebut-kebutan balapan motor/mobil” serta dipengaruhi kisah laga film James Dean, 

Film tersebut menjadi pemicu tumbuhnya geng-geng remaja. 

Mereka terdiri dari para remaja yang pada malam hari sering nongkrong di persimpangan (Cross-roads) sambil bernyanyi-nyanyi bareng dan bermain gitar.

Golongan remaja inilah yang dikenal dengan sebutan “Cross Boys” (remaja di persimpangan jalan), yang diidentitaskan sebagai pemberani dan jagoan berkelahi.

Para Cross Boys pada awalnya tidak melakukan tindakan kriminalitas, hanya sekedar hobi berkelahi dan adu keberanian saja, jadi tidak bisa disamakan dengan kaum preman.

Hal itulah juga yang pernah diutarakan oleh seorang tokoh preman zaman sekarang, John Kei, dalam wawancaranya bahwa ia mengaku bukanlah seorang preman melainkan seorang Cross Boys (jago berkelahi).

Kata Preman itu sendiri diserap dari kata Vrijman. Ketika zaman kolonial, kata Vrijman itu bisa diartikan sebagai apparat keamanan yang bebas tanpa seragam. 

Atau orang yang tidak termasuk aparat pemerintah seperti Veldpolitie (Polisi Lapangan). Tugas Vrijman antara lain menjadi satpam dan tukang pukul para pemilik kebun.

Istilah preman dengan konotasi kriminal baru muncul di akhir tahun 1970, yaitu dalam serial Ali Topan. 

Organisasi Preman yang dibentuk pada saat itu merekrut anggotanya dari mantan narapidana.

Di Bandung, orang biasanya menyebut kaum preman sebagai “Okem”, kependekan dari prokem (bahasa gaul). 

Okem adalah preman kelas bawah yang biasa malak tukang parkir dan para pedagang kaki lima. 

Sebutan lainnya untuk kaum preman adalah Gali atau singkatan dari Gabungan Anak Liar.

Seperti dalam lirik lagu “Anak Jalanan” – Chrisye, “Anak gedongan lambang metropolitan, menuntut hidup alam kedamaian. Anak gedongan korban kesibukan, hidup gelisah dalam keramaian”, 

Cross Boys selalu ada dan hidup sesuai dengan konteks zamannya.

Kegemparan “Cross Boys” yang paling menghebohkan terjadi pada tanggal 5 September 1955 di bioskop Rivoli yang pada saat itu sedang diputar film “A Song to Remember”.

Seorang anggota Brimob yang berpakaian sipil merasa tidak senang dengan penampilan lima anak cross boys genk Jalan Progo. 

Brimob tersebut berkomentar, “Ah, ini koboi-koboi yang harus diberantas.”

Hal inilah yang memicu keributan besar berkepanjangan, sehingga bukan hanya Brimob saja yang terlibat, tetapi para tukang becak juga turut merasa sewot terhadap ulahnya genk cross boys yang sering mengganggu mereka. (Sumber: Pikiran Rakjat – 10 September 1955).

Insiden ini telah membuat resah para kepala sekolah maupun aparat kepolisian. 

Dari situlah timbul gagasan untuk menyalurkan kenakalan anak-anak cross boys dengan membentuk Badan Keamanan Lalu Lintas (BKLL) yang dikelola Kepolisian Jawa Barat.

Sebutan atau nama Geng di Bdg membuat kita tersenyum geli karena namanya yang lucu seperti “Agothax” (anak gondrong tak berotak), “Agedud” (anak gembel Gg Dudukuy), “Cola” (Cokor Ladog = suka mengembara). 

Di daerah Cikuda Pateuh ada geng  Gheghares (sedang makan,  grup ini berdiri di sekitar Jl. Karees).   

Kelompok remaja Bandung era tahun 70an yang gemar bermusik sempat membentuk grup band seperti Giant Step (kang Benny Subardja) , The Freedom (Kang Soleh), Rhapsodia/Paramor (Kang Djadjat)  Rollies (kang Gito), DKSB (kang Harry Rusli), One Dee (kang Wandi), Rawe Rontek (Kang Harry Subardja), awal tahun 70an akhir, Mat Bitel (Kang Wawan Komeng) dan masih banyak lagi. 

Budaya bermain musik khususnya ngeband di Bandung memang telah mengakar sejak dulu dan hingga sekarang kreativitas bermusik masih tetap ada. 

Generasi Milenial mungkin sukar untuk bisa menghayati remaja Cross Boys, namun hal ini tercerminkan dlm film West Side Story.

Bandung memang penuh dinamika, pikasebeleun, tapi sekaligus penuh kreativitas.

*) Menetap di Amsterdam, Belanda

Komentar