Minggu, 27 November 2022 | 16:14
OPINI

Ucup Gere & Pretty Woman Van Gombong

Ucup Gere & Pretty Woman Van Gombong

Oleh: Mang Ucup *)

Dari 3.000 calon istri yang melamar mang Ucup. Saya pilih 10 yang terbaik (TOP Ten). Mereka saya undang untuk bertemu dengan entah di Bangkok, Hongkong ataupun di Singapore.

Di salah satu kota tersebut mereka akan diperlakukan dan dimanja bagaikan seorang Ratu sesungguhnya. Mereka berangkat naik pesawat First Class. Setibanya di sana selalu dijemput pakai Roll Royce. Kamar yang dipilihpun selalu yang the best pada umumnya Presidential Suite yang dilengkapi dengan ruang makan, ruang tamu, dapur maupun Sauna, serta dua kamar tidur extra lainnya.

Sehingga dengan demikian saya bisa menepati janji saya untuk tidak ingin menjamah siapapun dari antara mereka. Mereka akan mendapatkan ruang tempat tidur khusus yang terpisah dari kamar saya. Mereka dibuat senyaman mungkin, seperti sudah lama mengenal mang Ucup.

Hari pertama mereka diajak jalan-jalan keliling  kota dengan Tour Guide Pribadi yang bisa memberikan pejelasan dalam bahasa Indonesia. Setelah itu mereka boleh belanja sesuka hati tanpa batasan alias NO LIMIT. Entah mereka mau membeli Tas Hermes, sepatu, pakaian bahkan perhiasan ataupun jam tangan impian sekalipun.

Tapi kebanyakan dari mereka hanya tertarik untuk beli perhiasan emas. Misalnya beli kalung atau gelang yang sebesar pelek beca githu. Maklum mereka tidak mengenal tas Hermes maupun pakaian bermerek seperti Prada ataupun Dior.

Setiap malam kami dinner berdua di kamar. Mengingat kamar kami cukup besar dan luas, berikut Butler dan pelayan-pelayan lainnya tersendiri.

Mang Ucup termasuk pria Romantis. Saya senang dengan lagu-lagu klasik apalagi kalau dimainkan dengan Biola. Maka dari itu setiap kali kami dinner saya ingin selalu diiringi oleh tiga orang pemain biola yang disewa khusus untuk kami. Agar musik yang dibawakan tidak terlalu berat, jadi saya mohon agar dimainkan lagu-lagu semiklasik saja misalnya lagu-lagu dari Richard Clyderman.

Mereka hanya mainkan musik untuk kami berdua di Presidential Suite kami. Sambil diiringi oleh lagu romantis misalnya It Was Fascination jadi mirip seperti di film Love In Afternoon yang diperankan oleh Audrey Hepburn dan Gary Cooper.

Mereka menyajikan makanan yang terbaik mulai dari Lobster, Kobe Beef dan Russian Beluga Kaviar. Minuman yang disajikan pun adalah Ice Wine dari Jerman maupun Don Perignon Champagne. Namun sayangnya mereka kurang bisa menikmati makanan yang disajikan tersebut. Mereka lebih senang diundang makan Makanan Padang. Ketika disajikan Peking Duck pun, mereka tidak mengerti kok dagingnya dibuang dan hanya makan kulitnya.

Begitu juga dengan minuman yang mereka pilih. Daripada memilih Wine ataupun Champagne mereka lebih senang minum Sprite yang non alkohol tapi minimum berbusa sepert Champagne.

Begitu juga dengan musik yang dimainkan oleh para pemusik tersebut. Mereka agak kecewa, karena tidak bisa memainkan lagu Lelo Ledung dari Waljinah. Namun untuk tidak mengecewakan permohonan sang gadis mereka memainkan lagu Bengawan Solo yang dikenal di mana-mana.

Ada salah satu gadis yang menanyakan apakah boleh ia bawa handuk dari hotel sebagai oleh-oleh. Tentu saja saya memperkenankannya, karena pasti akan saya ganti ke pihak hotel. Bahkan saya menjawab apa saja yang kamu senang dari kamar ini silahkan diangkut pulang.

Jawaban tersebut malah jadi kebablasan, bukan hanya handuk saja yang diangkut pulang melainkan Bantal bahkan TV kecil yang ada dikamarpun turut diangkut pulang. Tapi No Problem saya senang apabila bisa membahagiakan mereka. Kapan lagi mereka bisa mendapatkan kesempatan untuk jalan-jalan ke luar negeri lagi. Make Her Dreams Come True !

Saya sudah menyanggupi sekaligus sudah mempersilahkan mereka untuk minta apa saja. Jadi saya tidak boleh ingkar janji. Mungkin tanpa sadar saat itu saya berprinsip sesekali membahagiakan orang lain tidaklah masalah. Toh bukankah dengan membuat mereka bahagia saya juga bahagia?? Itu kira-kira maknanya yang bisa saya refleksikan sekarang.

Tentu ada beberapa rekan-rekan FB yang mungkin mencibir saya. Emangnya mang Ucup tidak bisa mencari dan mendapatkan gadis lainnya yang tidak n’Deso githu.

Sesungguhnya, saya telah menjalin hubungan dengan bintang film Indo cantik berinisial II, tetapi entah kenapa saya merasa tidak nyaman dan bahagia. Saya lebih menyukai kesahajaan dan kesederhanaan dalam diri seorang perempuan, meski saya sendiri bukanlah tipe orang yang sederhana ketika itu.

Lalu mengapa saya memilih mba Tuginem dari Gombong? Apakah memang tidak ada yang lebih berpendidikan dari mba Tuginem. Bukahkan kita selalu berkonotasi bahwa nama Tuginem selalu berkaitan dengan cap n’Deso dan kampungan, yang hidup mereka tidak jauh dari stempel sebagai Pembantu Rumah Tangga (PRT). Maaf, ini bukan maksud saya untuk merendahkan nama mereka, tetapi hanya merefleksikan kenyataan yang sering terjadi dalam hidup kita.

Pandangan kita akan menjadi lain ketika kita berjumpa dengan wanita bernama Tina atau Tineke, maka reaksi dan tanggapan kita akan berbeda. Sudah menjadi kecenderungan kita untuk menilai orang dari tampilan atau namanya. Tidak salah memang, tetapi itu tidak adil menurutku. Karena mereka tidak pernah mengharapkan dilahirkan dari desa dengan nama yang juga n’Deso.

Bukankah Shakespeare dalam tulisannya tentang Romeo Juliet: sudah mempertanyakan Apalah arti sebuah nama? Harum Mawar tetaplah harum Mawar, kalau pun Mawar berganti dengan nama lain. Ia tetap bernilai sendiri, sempurna, dan harum tanpa harus bernama Mawar.

Kita semua dilahirkan ke dunia ini dalam keadaan yang sama: Telanjang Tanpa Bungkus. Tidak ada bedanya antara Elisabeth Taylor ataupun Tuginem. Mereka adalah manusia yang perlu dihargai dan dihormati. Bagi saya pribadi antara Tuginem dan Elisabeth Taylor itu tidak ada bedanya. Mereka adalah sesamaku!

Saya ingin mencari pendamping bukan hanya berdasarkan BUNGKUS. Entah itu Agama, Etnis, Gelar maupun Harta Kekayaan. Saya akan menerima siapa saja dengan pandangan yang sama tanpa ada perbedaan apapun juga!

Sebelum para gadis yang diundang ini pulang, mereka pergi ke Salon terlebih dahulu untuk didandani. Jadi tidaklah heran ketika pulang rambutnya pun telah berubah jadi pirang. Mereka pulang bukan hanya sekedar bawa koper penuh pakaian tetapi juga dibelikan banyak sekali oleh-oleh lainnya untuk sanak keluarganya.

Saya mohon waktu berpikir kepada mereka selama tiga bulan sebelum saya bisa memberikan keputusan. Namun saya janji selama masa tiga bulan tersebut saya berikan mereka santunan sebesar AS$ 2.500 per bulan. Sehingga dengan demikian tidak ada satupun gadis yang diundang oleh saya; pulang dengan rasa kecewa!

Saya melakukan semua ini dengan penuh sukacita tanpa tekanan dari siapapun. Bukankah dengan membahagiakan mereka saya ikut bahagia, meski tidak mudah menentukan pendamping hidupku. Saya tidak ingin terantuk dua kali pada pengalaman yang sama. Saya tidak mau terluka dan melukai keluarga yang kubina untuk kedua kalinya.

Lalu mengapa bukan Tuginem yang Mang Ucup pilih? Mengapa Mang Ucup memilih mba Wied sebagai istri? Apa kelebihan mba Wied sehingga bisa mengalahkan ribuan perempuan saingan lainnya? Di mana rahasianya. Jangan-jangan karena mba Wied memiliki Ajian Pelet atau Pasang Susuk kale? Nantikah kisahnya lebih lanjut...tetap semangat dan salam kasihku buat semua pembaca setia kisah-kisah Gokil Mang Ucup.

*) Menetap di Amsterdam, Belanda

Komentar