Jumat, 27 November 2020 | 11:58
NEWS

Menjaga Api Sumpah Pemuda di Kalangan Generasi Muda, GMRI: Kebo Nusu Gudel

Menjaga Api Sumpah Pemuda di Kalangan Generasi Muda, GMRI: <i>Kebo Nusu Gudel</i>
Pendiri GMRI, Eko Sriyanto Galgendu (Askara/Dhika)

ASKARA - Sebagai tonggak utama sejarah pergerakan kemerdekaan, setiap 28 Oktober diperingati lahirnya Hari Sumpah Pemuda. Untuk memperkuat kesadaran kebangsaan dan memperteguh persatuan Indonesia. 

Menyikapi hal itu, Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia (GMRI) meminta kawula muda memiliki rasa persatuan dan kesatuan yang kuat terhadap bangsa Indonesia. Sehingga semangat sumpah pemuda tetap terus terjaga. 

"Jadi istilah kami, kebo nusu gudel artinya ketika generasi muda kita akan memiliki suatu ikatan yang kuat tentang bertanah air satu, bertumpah darah satu, berbahasa persatuan satu," kata Pendiri GMRI, Eko Sriyanto Galgendu di Jakarta, Senin (26/10).

Selain itu, para generasi senior harus memberikan contoh atau sikap kepada generasi muda. Untuk memajukan persatuan dan kebangsaan Indonesia. 

Serta menguatkan hubungan antara sesama perkumpulan pemuda kebangsaan di Tanah Air. Dengan demikian nilai luhur satu Tanah Air, satu bangsa, satu bahasa harus terus dijaga.

"Kami berharap kepada generasi senior di Indonesia, para pemimpin memberi contoh kepada generasi muda terus mengkumandangkan satu bangsa, satu Tanah Air dan satu bahasa," ujar Eko. 

Meski Sumpah Pemuda terjadi puluhan tahun yang lalu, namun bukan berarti semangat pemuda Indonesia telah padam. Semangat Sumpah Pemuda harus terus menyala hingga kapan pun.

Sehingga memiliki makna jika api Sumpah Pemuda harus terus dinyalakan dan dengan berani melawan segala bentuk upaya yang ingin memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa.

Lahirnya Sumpah Pemuda ketika Kongres Pemuda II dilangsungkan selama dua hari pada 27 dan 28 Oktober 1928 di Batavia. Kongres ini diikuti oleh Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI).

Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Bataks Bond, Jong Islamieten Bond, Pemuda Indonesia, Jong Celebes, Jong Ambon, Katholikee Jongelingen Bond, Pemuda Kaum Betawi, Sekar Rukun dan lainnya.

Hadir pula beberapa orang perwakilan dari pemuda peranakan kaum Tionghoa di Indonesia dalam Kongres Pemuda II ini, seperti Oey Kay Siang, John Lauw Tjoan Hok, dan Tjio Djien Kwie, namun asal organisasi atau perhimpunan mereka belum diketahui.

Komentar